Mag-log inChase kembali menunduk, memeriksa lembar laporan yang memuat riwayat kepemilikan saham. Ada sesuatu yang terasa ganjil dari semua informasi itu.Selena menjual sebagian besar sahamnya enam bulan lalu. Setelah itu, keterlibatannya dalam urusan perusahaan mulai berkurang. Padahal, tidak ada alasan finansial yang mendesaknya untuk melakukan hal tersebut.Ia tidak sedang menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Tidak pula sedang kehilangan kepercayaan dari para investor.Lantas, mengapa ia melepaskan sesuatu yang telah dibangunnya sendiri?Ia teringat pertemuan singkatnya dengan Selena di Universitas Rosewood. Perempuan itu memiliki pembawaan yang begitu tenang, tetapi juga menyimpan ketegasan yang sulit diabaikan. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang akan mengambil keputusan besar tanpa mempertimbangkan segala konsekuensinya.Jika Selena memang berniat meninggalkan SC Group, tentu ia sudah memikirkan langkah itu jauh-jauh hari.
Cedric terdiam membeku di tempatnya berdiri, kedua bahunya merosot turun. Napasnya tercekat di tenggorokan; ia tidak pernah menyangka bahwa Selena benar-benar telah membulatkan tekad dan memotong setiap celah untuk kembali. “Selena... apa kau sungguh sudah tidak mencintaiku lagi?” Pertanyaan itu meluncur pelan, menggantung di udara yang terasa kian menipis. Celah keheningan yang dingin langsung menyelimuti seluruh sudut ruang kerja mewah tersebut. Cinta? Selena menatap pria di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Di dalam hatinya, ia merasa muak. Siapa sebenarnya yang memberikan pria tidak tahu malu ini keberanian untuk melontarkan pertanyaan konyol dan memelintir keadaan seolah dirinyalah pihak yang tersakiti? “Cedric,” panggil Selena pelan, namun suaranya sukses membuat darah di tubuh pria itu merosot dingin. “Saat kau pertama kali memutuskan untuk bersama dengan Mia Bennett di belakangku... ap
“Selena, kau harus bertindak jauh lebih tegas lagi. Jangan biarkan pria bajingan itu menginjak-injak harga dirimu!” tegur Brian dengan nada menggelegar, rahangnya masih mengeras menahan amarah yang belum sepenuhnya tuntas. Selena tersenyum tipis, ketenangan di wajahnya kontras dengan amarah yang membara di sekelilingnya. “Tenanglah, Kak. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.” Bianca menatap kakak laki-lakinya dan sang ayah secara bergantian, sorot matanya menyiratkan kepanikan yang gagal disembunyikannya. “Kalian... kalian benar-benar setuju Kak Selena bercerai dengan Cedric?!” “Kami setuju,” jawab Ronan dan Brian hampir bersamaan, tanpa keraguan sedikit pun. Selena menyunggingkan senyuman miring yang penuh arti, lalu menoleh lambat-lambat menatap adik tirinya. “Jangan khawatir, Bianca,” ujarnya dengan nada sarkas yang menusuk. “Semuanya akan segera kembali ke posisinya masing-masing.”
Aula utama itu mendadak jatuh dalam keheningan total yang mencekam. Bahkan alunan musik akustik dari sudut ruangan seketika berhenti mengalir, seolah-olah ikut membeku menyaksikan adegan barusan. “Nyo-nyonya Selena…” Mia memegangi sebelah pipinya yang merona merah dan membengkak, merasakan sensasi panas yang membakar kulitnya. Sepasang matanya membelalak sempurna tak percaya, air mata kepedihan yang tadinya dibuat-buat kini benar-benar tumpah membasahi wajahnya. “Selena, kau… keterlaluan!” erang Cedric murka. Ia reflek mencengkeram pergelangan tangan Selena dengan erat. Tanpa gentar, Selena meronta dan menepis tangan pria itu dengan gerakan tegas penuh jijik. Ia lalu melepas sarung tangan sutra di tangan kanannya dengan anggun, menyerahkannya begitu saja kepada Eleanor yang berdiri di dekatnya. Mengabaikan Cedric sepenuhnya, Selena menatap tajam sosok di hadapannya. “Sekarang, pergilah dari hadapanku,” ucap Selen
“Selena, aku mohon. Jangan seperti ini... kau bisa merusak nama baik SC Group!” ucap Cedric memelas, berusaha membalikkan keadaan di hadapan publik. Selena mengangkat sebelah alisnya, menatap lurus wajah pucat pria di hadapannya dengan tatapan menghunus. “Saat kau dengan sengaja membawa wanita ini masuk ke ruangan penuh investor terhormat ini, apa sedikit pun terlintas di benakmu untuk memikirkan nama baik SC Group?” Cedric terdiam seketika, kehabisan napas. “Saat kau membawanya pergi berlibur, menikmati makan malam di restoran mewah, dan menginap di hotel bintang lima berdua, apa kau ingat pandangan para investor jika mereka tahu bahwa Direktur Utama perusahaan itu membohongi istrinya dengan alasan dinas pekerjaan—padahal sibuk berselingkuh?” Cedric melangkah mundur satu, dua langkah, tak mampu menahan gelombang kebenaran yang telak itu. Selena melontarkan kalimat-kalimat tersebut dengan intonasi
Selena menekukkan alisnya tajam, kilatan ketidaknyamanan terpancar jelas di sepasang manik mata emerald-nya. Tanpa aba-aba sedikit pun, ia meriah pergelangan tangan pemuda itu dengan erat. "Tuan Hardin, Ayah, aku pamit sebentar," ucapnya penuh penekanan, lalu tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik Chase keluar dari ruang VVIP yang sarat akan ketegangan tersebut. "Hei, ini rasanya terlalu cepat untuk sebuah pelarian berdua," gumam Chase dengan nada setengah menggoda, melirik sekilas ke arah pergelangan tangannya yang ditarik paksa. "Diam!" bentak Selena singkat. Begitu mereka tiba di koridor lantai atas yang sepi dari lalu-lalang tamu, Selena langsung melepas kasar genggaman tangannya. Chase meringis pelan, menarik tangannya. "Aw?" Selena menatapnya tajam dengan dada naik turun menahan emosi. "Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau mainkan, tapi apa pun tujuanmu mendekatiku, lebih baik kau berhenti seka







