Writting’s On The Wall

Writting’s On The Wall

last updateLast Updated : 2026-10-23
By:  OdiiwordsUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
40views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Selena baru saja mengakhiri enam tahun pernikahannya setelah menemukan fakta tentang suaminya yang berselingkuh dengan seorang gadis muda. Ia berniat hidup dengan santai tanpa beban cinta lagi, berlibur, menikmati waktu sendirinya. Namun, rencana itu terpaksa ia tunda ketika sang Kakak meminta bantuannya…. Dan takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda arogan…

View More

Chapter 1

1.

"Nyonya, ini semua laporan yang Anda minta."

Suara itu memecah keheningan ruang kerja Selena yang didominasi nuansa monokrom. Warna-warna kelabu, hitam, dan putih di ruangan itu seolah mencerminkan isi kepala sang pemilik—dingin, terstruktur, dan tanpa celah.

Sebuah map cokelat tebal diletakkan di atas meja marmer hitam.

"Semua?" tanyanya singkat. Nada suaranya datar, tanpa beban. Dagunya terangkat sedikit, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan elegan, sementara maniknya bahkan tidak beralih sedikit pun kepada pria di hadapannya.

Billy mengangguk mantap. Posturnya tetap tegak sempurna, menunjukkan profesionalisme tinggi dengan kedua tangan bertumpu sopan di depan perut. "Semuanya ada di dalam map itu, Nyonya."

Mendengar jawaban yang pasti dan tanpa keraguan, Selena akhirnya mengembuskan napas perlahan. Tarikan napas yang tenang, seolah ia sedang bersiap menyelam ke dalam air es.

Selena Lawrence, memadamkan layar ponselnya, lalu meraih map tersebut.

"Di mana dia sekarang?"

Suara Selena merendah, meluncur pelan menjadi bisikan tipis yang hampir tenggelam oleh dengung halus AC sentral. Tidak keras, tetapi cukup tajam untuk membuat udara di ruangan itu terasa semakin padat dan berat.

Billy menelan ludah sesaat sebelum menjawab, "Tuan Lawrence baru saja tiba di kediaman."

Sudut bibir Selena terangkat sebelah. Sebuah senyuman kecil, tipis, dan sinis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. Senyuman seorang wanita yang sudah tahu persis babak akhir dari sebuah sandiwara buruk.

Satu minggu lalu, suaminya berdiri tepat di tempat Billy berdiri sekarang. Dengan gestur sok berwibawa, pria itu merapikan kerah jasnya, mencium pipi Selena sekilas, lalu berpamitan untuk melakukan perjalanan dinas ke luar kota.

Namun Selena tahu persis ke mana sebenarnya pria itu pergi.

Dinas?

Omong kosong.

Suaminya tidak sedang bekerja.

Suaminya sedang berlibur. Menikmati waktu luang di bawah sinar matahari bersama seorang gadis muda yang selama tiga tahun terakhir menjadi simpanannya—perempuan yang, entah sejak kapan, telah menyusup masuk dan menjadi bagian dari kebohongan berlapis yang perlahan menggerogoti pernikahan mereka dari dalam.

Jari-jemari Selena yang terawat mulai meraba kancing pengikat map tersebut. Dengan gerakan perlahan, ia membukanya.

Kebenaran yang selama ini sudah lama ia ketahui—yang selama ini hanya berwujud bisikan dan firasat—kini tersusun rapi di atas kertas hitam putih.

Beberapa lembar foto candid beresolusi tinggi.

Dokumen perjalanan atas nama dua orang.

Bukti pembayaran hotel-hotel mewah di pesisir pantai.

Catatan pengeluaran dengan nominal fantastis menggunakan kartu kredit perusahaan atas nama sang suami.

Semuanya tersaji vulgar. Menjadi kepingan-kepingan bukti yang terlalu terang untuk disangkal oleh lidah beracun Cedric sekalipun.

Selena membolak-balik lembar demi lembar tanpa sedikit pun perubahan pada ekspresinya. Jantungnya berdetak normal. Napasnya teratur.

Tidak ada air mata yang mendesak naik. Tidak ada jemari yang gemetar karena amarah. Tidak ada lagi rasa sesak yang menghimpit dada seperti dulu—ingatan masa lalu ketika satu bukti perselingkuhan saja sudah cukup untuk membuat malam-malamnya hancur lebur, dihabiskan dengan tangis bisu yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Perasaan itu sudah lama mati.

Bukan hari ini.

Bukan pula detik ketika Billy menyerahkan laporan tebal ini ke hadapannya. Bahkan bukan saat pertama kali Selena mencium bau parfum asing di kerah jas Cedric tiga tahun lalu.

Semuanya telah terkikis sedikit demi sedikit, tergerus oleh ribuan kekecewaan yang menumpuk tahun demi tahun, sampai akhirnya tidak ada lagi sisa rasa untuk dipertahankan. Hatinya telah berubah menjadi tanah tandus.

Pernikahan mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran.

Pernikahan itu sudah hancur sejak lama.

Yang tersisa selama ini hanyalah kerangka semu, puing-puing berdebu yang masih berdiri karena Selena belum pernah mengetukkan palu untuk merobohkannya sampai rata dengan tanah.

Dan hari ini, detik ini juga, ia akan melakukannya.

Selena menutup map cokelat itu dengan gerakan tenang, menciptakan bunyi gesekan kertas yang pelan namun menggema di keheningan ruangan.

"Billy."

"Ya, Nyonya."

"Hubungi pengacara."

Billy terdiam sepersekian detik, menangkap ketegasan mutlak dari udara di sekitarnya. Pria itu menunduk hormat. "Apa Anda akan mengurus perceraian?"

Selena akhirnya mengangkat wajahnya sepenuhnya. Sepasang mata tajam itu menatap lurus ke depan, menatap manik mata Billy dengan ketenangan yang mengerikan.

Tidak ada keraguan, tidak ada sisa-sisa kerinduan.

Hanya ada tekad yang membatu.

"Ya." Satu kata singkat, padat, tanpa intonasi tinggi.

Namun bagi Selena, satu kata itu adalah akumulasi dari enam tahun usia pernikahan yang disia-siakan.

Cukup.

Permainan berpura-pura tidak tahu sudah resmi berakhir. Ia tidak akan lagi mencari-cari alasan untuk menutupi kebohongan busuk yang sudah telanjang di hadapannya.

Dan ia tidak akan pernah lagi mencoba menyelamatkan sebuah kapal busuk yang nakhodanya sendiri dengan sengaja menubrukkan karang.

Kali ini, di atas reruntuhan nama Lawrence yang akan segera ia tinggalkan, Selena hanya akan menyelamatkan satu hal yang paling berharga: dirinya sendiri.

*****

Cklek!

Pintu utama mansion terbuka, disusul langkah kaki Selena yang memasuki rumah dengan ketenangan yang nyaris dingin. Bunyi hak sepatunya menggema tajam di atas lantai marmer, memantul di antara dinding-dinding tinggi dan interior mewah yang selama enam tahun terakhir menjadi saksi kehidupan pernikahannya bersama Cedric Lawrence.

Enam tahun.

Entah mengapa, malam ini rumah itu terasa begitu asing.

Atau mungkin, Selena-lah yang sudah tidak lagi merasa memiliki tempat di dalamnya.

Di tengah ruang utama, seorang pria tinggi berdiri membelakanginya. Kedua tangannya terselip di saku celana, sementara tubuh tegapnya menghadap dinding kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit.

Di balik kaca tembus pandang itu, lampu-lampu taman memantul di permukaan air kolam renang yang teramat tenang—seperti menyimpan badai di dasarnya.

"Kau pulang." Suara bariton itu terdengar begitu akrab di indranya.

Selena berhenti melangkah.

Cedric Lawrence.

Selama hampir satu dekade, lelaki itu adalah poros terbesar dalam hidupnya.

Sepuluh tahun lalu, Cedric adalah sosok yang manis. Lembut. Penuh perhatian. Ia bukan seorang pewaris kaya raya yang datang membawa tumpukan berlian dan mobil sport untuk memikat Selena. Bahkan pada masa itu, Cedric belum memiliki banyak hal untuk ditawarkan.

Namun, ia memberikan waktu. Memberikan perhatian yang tulus. Memberikan rasa aman.

Dan bagi Selena muda, semua itu jauh lebih berharga daripada kilau berlian di jari para pria dari lingkaran sosial elit yang pernah berusaha mendekatinya.

Ia masih menyimpan rapat ingatan tentang bagaimana dirinya memilih Cedric.

Memilih seorang pria yang saat itu tidak memiliki kemewahan apa pun, hanya karena Selena percaya bahwa selama mereka saling mencintai, mereka bisa merajut segalanya dari nol.

Dan mereka memang melakukannya.

Setidaknya, Selena pernah percaya demikian.

Kini, lelaki yang dahulu ia bela-belakan agar bisa berdiri di sisi hidupnya seumur hidup, berada hanya beberapa meter di hadapannya.

Hanya saja, malam ini, tidak ada satu pun inci di dalam dada Selena yang bergetar ketika melihatnya.

Tidak ada sisa rindu. Tidak ada rasa bahagia. Bahkan tidak ada sisa amarah.

Hanya kehampaan yang membeku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status