เข้าสู่ระบบTo mend his broken heart and forget his ex-fiancée, Jasson Luther decided to go back to the island of Isla Lutherio, where he was born and raised. Nonetheless, instead of resting and easing his thoughts, he grew more upset and concerned when his heart became engaged again— which is when he met Samara, his lady butler, and personal driver's daughter. How can he manage his unwanted feelings toward a young girl? For heaven's sake, Samara is eighteen years younger than he is. He may be accused of being a cradle snatcher, and he may even be mistaken for a pedophile. And to avoid his unexplainable feelings for the girl, he diverts his attention to others—ladies his age. However, the more he avoids his feelings, the more intense they become. He couldn't stand seeing her dissatisfied and sullen expression towards him. He couldn't help being envious of every male associated with the girl. How long can he hold back his feelings for Samara? Will he be able to let her be with another guy despite their feelings for each other? Or will he be able to fight for his love against Samara’s entire clan?
ดูเพิ่มเติมBaru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.
Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.
Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit.
Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.
“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”
Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”
Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”
Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.
Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!
“T-Tuan…”
Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.
Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.
Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik.
Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?
Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.
“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”
Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.
Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.
Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.
Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.
Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.
"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.
“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.
"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.
Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.
"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.
Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”
Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.
Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.
Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.
“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”
Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”
Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.
Ardan menoleh. “Benar?”
“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”
Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.
Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.
Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.
“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.
Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.
"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.
"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.
Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.
"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.
Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.
Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.
“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”
Prang!
Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.
Samara blinked as the door finally closed. She seemed to have woken up from a deep sleep.Is it just a dream?Did her Master Jasson really kiss her?“Ara, you were only dreaming. What makes you think the master would kiss you?” Samara murmured as she smacked her cheek and grimaced with discomfort from her swat.She was hurt! Means… her eyes widened and touched her lips. And even if she imprints in her mind that she was awake when that happened—she still could not believe it. She closed her eyes and remembered what her master had said before the kiss he had made.Why is he so worried about her? Why did his body tremble so much when he hugged her? And the fear she saw in his eyes.And most of all—why did he kiss her?!Samara could not get up when her alarm clock rang. She only slept for a few hours because she stayed up thinking. But even though she was awake, Samara felt like she was floating in a cloud.She didn't want to get out of bed but finally got up when she remembered that she
JASSON came back and forth inside the conference room as he continued to dial Samara's number. However, after trying a hundred times and still, Samara’s phone couldn’t be reached, he called his housemaid’s number.“Renz, is Ara home?”“Sir, are you not together?”“Damn it, Renz! I am not going to ask you if I was with her!”“S-sorry, sir. S-she is not here yet, so I thought—”Jasson violently grabbed the coat he had taken off earlier and put it on after he hung up the call without saying goodbye.“Where are you going?” Ruth asked, but the response she got was a loud slam of the closing door.At the same time, Jasson called Martin and Mikel to ask them to find Samara.“Relax, maybe she’s just with his friends.”“I called her friends, but they are not with her, Kel, and her phone is fucking unattended!”“Maybe she got stuck in traffic, brother?” and Martin.“If she left the school after Ruth called her, she should be home now. Just find her!” He cut off the call and stomped on the gas p
SAMARA dashed down the stairs to the ground floor. She was panting as she reached the mansion's main door. She brushed her hair with her fingers, calmed herself, and adjusted the strap of her body bag on her shoulder before heading to the garage.She was stunned when she saw her Master Jasson leaning on the driver’s seat door while playing with his keys with his fingers.Jasson turned his gaze toward her the moment he noticed her. “You don't need to hurry, baby.”“You'll be late if I don’t hurry, Master. The road to university and Luther's Empire were opposite. You have to take a U-turn to get to your place. So, if I slow down, you will be late,” Samara explained.Jasson turned to the shotgun seat and opened the door for Samara. “Maybe you forget who I am?” he said after he got in the driver’s seat.Samara raised her brow and said, “You are the CEO, the Boss. And I never forget that. That's why you should set a better example for your employees. If you are always on time, they will be
THE three boys were setting up the desktop computer while Samara searched the bookshelves for books they could use as references. However, Elizha and Cristine seem to have their own world thrilling in their seat.“I really can't imagine! I thought Ara was just too humble when she said she was just a butler's daughter. And what's more exciting, the eldest Luther is the one she serves! OMG! If I were here, I would gladly be a slave too!” Cristine exclaimed.Samara couldn't believe that her friend had such a personality. She knew Cristine for being talkative but not so vulgar.“Hmmm! And you know what? Until now, Ate Gerlie couldn't get over him! She says she didn't see Master Jasson at the exclusive bar where they met anymore. And to think that I've only seen him in magazines in his formal attire, but hell, the garter of my undies loosened when I saw how handsome he is. Then boom! Who would have thought I'd have a chance to enter his house and see him wearing just his swim shorts? My Go
“GOOD morning, baby”Samara came to a halt when she entered the kitchen and saw her Master Jasson standing in front of the gas range, dressed in black jogging pants and a black apron. He was half-facing her, holding the frying ladle in his right hand and the frying pan on top of the stove.She relucta
Ruth licked Jasson’s earlobe. “You can still play with me if you're reserved; play with me while she blooms,” she said flirtily as she gently caressed his arm.Jasson was dumbfounded by Ruth’s proposal. He shook his head in disbelief as he removed her playful hand. He maneuvered the steering wheel in
Samara arrived early in the classroom, but Cristine seemed to arrive earlier when she caught her resting her head on the desk of her chair. "Good morning," she greeted as she went to her seat behind her and sat down. Cristine raised her head and tilted her seat to look back at her. "What's up?" she
“GOOD EVENING, Señor and Señora,” Samara greeted the couple she met at the dining table. “Good evening too, Hija. It’s good that you have come,” Señora Olivia replied with a smile. “Yes. I’m sorry if I was late, Señora. We had to finish something at the library.” “That’s fine, Hija. Mara informed us












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.