로그인Sophia Miller has spent her life cultivating beauty in her tulip garden, a family-owned flower shop nestled in the heart of Eldenbrook. Her mother’s legacy lives on through her prized “Midnight Flame” tulip, a rare and radiant bloom that symbolizes hope and resilience. But as land developers close in on her beloved shop, Sophia faces losing everything she’s worked to preserve. When Alexander Kane, a reclusive billionaire and tech visionary, wanders into her garden, Sophia sees him as just another customer with deep pockets and shallow intentions. But Alexander isn’t there for tulips—at least, not entirely. Desperate to salvage his company’s struggling renewable energy project, he believes Sophia’s unique flowers may hold the key to revolutionizing biofuels. Drawn together by unexpected chemistry, Sophia and Alexander find their lives entwined in ways neither of them could predict. As Sophia shares the secrets of her garden, Alexander begins to question the cost of his ambition. But when she discovers the truth about his hidden motives, their budding romance is uprooted, leaving betrayal and heartbreak in its wake. In a race against time and corporate greed, Alexander must decide: protect his billion-dollar empire or fight for the woman who taught him to see beyond the numbers. Can they find common ground in the soil of their shared dreams, or will their love wither before it has a chance to bloom?
더 보기"Aku talak kamu! Aku talak kamu! Aku talak kamu!"
Seketika langit terasa runtuh, seperti ada batu besar yang menghantam hatiku, bertubi-tubi. Rasanya sakiiiit, seperti ditusuk-tusuk sembilu. Apa salahku? Tiba-tiba ditalak seperti ini?
Mataku terasa pedih dan panas, seketika air mata sudah berderai, jatuh bak anak sungai. Leherku seperti tercekat, lidahkupun terasa kelu. Aku sudah tak punya pijakan. Hancur. Hancur sehancur-hancurnya.
Mas Andri, lelaki yang selama delapan tahun belakangan ini menemaniku, tiba-tiba menalakku tanpa alasan. Kami berbagi suka dan duka bersama, bahkan aku menerima keadaannya yang sulit mempunyai keturunan. Lalu kenapa dia tega menceraikanku?
Aku duduk terkulai di lantai. Rasanya sudah tak punya tenaga untuk berdiri.
Bruukk...
Dia melemparkan tas ransel dan beberapa helai pakaian ke tubuhku. Dadanya masih terlihat naik turun menahan amarah. Tangannya terkepal, matanya nyalang merah dengan gigi bergemeletuk. Dia benar-benar marah. Tak pernah kulihat dia semarah ini padaku."Pergi kamu dari rumah ini! Aku tak sudi punya istri tak setia sepertimu!" teriak Mas Andri, makin membuatku tak mengerti. Apa maksudnya?
Aku memunguti baju-bajuku sambil sesekali menyeka air mata yang tak kunjung berhenti. Untuk sekadar menyanggah ucapannyapun terasa begitu berat. Aku tak bisa berbicara untuk membela diri.
"Dasar istri tak tau diuntung!" umpatnya lagi.
"Aaarghhh...!!" teriaknya dengan kencang. Dia melepaskan amarahnya dengan meninju tembok yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sesekali dia menjambak-jambakkan rambutnya. Mas Andri benar-benar terlihat frustasi.
"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Mira?! Kenapa?!" sebuah pertanyaan yang lebih terdengar seperti rutuk penyesalan.
Berkali-kali aku menelan saliva untuk menenangkan diri, bahwa badai hebat kini sedang kuhadapi.
"Sebenarnya aku salah apa mas? Kenapa kau bisa semarah ini padaku? Kenapa kau menalakku tanpa alasan?" tanyaku dengan hati-hati. Aku mulai membuka suara setelah sedari tadi diam.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau ini istri tidak tahu malu ya! Bisa-bisanya selingkuh saat suami pergi?!"
"Selingkuh? Apa maksudmu, mas? Aku tidak mengerti..."
"Halaaah jangan sok pura-pura gak tahu. Aku sudah tahu semua kelakuanmu di belakangku! Tega ya kamu!" serunya kembali. Tak lama dia melemparkan foto-fotoku bersama seorang lelaki. Aku memeriksanya dengan teliti. Satu foto saat aku memberikan teh untuknya setelah dia membantuku. Satu foto saat aku akan pergi ke pasar dan kebetulan bertemu dengannya di jalan. Satu foto lagi saat aku berada di minimarket, kebetulan aku bertemu dengannya dan kami sama-sama mengantri di kasir. Satu foto lagi saat dia memberikan tanaman bunga beserta potnya.
Aku menghela nafas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Lelaki yang difoto itu adalah Mas Bian, yang tempo hari dimintai tolong panjat genteng gegara bocor karena air hujan. Beberapa kali juga aku bertemu dengannya di jalan saat aku akan pergi ke pasar. Tapi hanya sebatas menyapa, tidak lebih dari itu. Lalu siapa yang dengan tega dan iseng mengambil gambarku dan mengirimkannya pada Mas Andri? Apakah ada seseorang yang menginginkan kami berpisah?
"Kamu dapat dari mana foto-foto ini, mas?" tanyaku.
"Jadi benar kan, itu adalah kamu? Kalian berselingkuh?!"
"Tidak mas, itu tidak benar. Ini memang foto-fotoku. Tapi sungguh mas, aku tidak selingkuh. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kamu sudah salah paham," sanggahku apa adanya.
"Hah, mana ada maling mau ngaku. Salah paham bagaimana, jelas-jelas foto ini foto kamu kok!" tukas Mas Andri masih emosi.
Rasanya percuma membela diri dihadapannya, sudah tak ada gunanya lagi. Toh pernikahanku juga sudah hancur, aku tak bisa kembali dengannya. Dia tak mungkin percaya padaku. Hatinya sudah tertutup oleh prasangka buruk dan cemburu yang membabi buta.
Aku tak pernah menyangka, hanya gara-gara sebuah kesalahpahaman menjadikan aku seorang janda. Ya, dia salah paham padaku, tapi dia tak mau mendengar penjelasanku. Dia lebih percaya orang lain. Entah siapa orang itu? Dia dengan tega menusukku dari belakang. Apakah orang terdekatku atau siapa? Aku rasa selama ini aku tak pernah punya musuh maupun bermasalah dengan siapapun. Masalah ini benar-benar membuat kepalaku serasa mau pecah.
"Maafkan aku mas, kalau selama ini aku punya salah terhadapmu. Aku pergi," pamitku pada suamiku. Ah bukan, maksudku mantan suamiku. Kubawa tas yang berisi baju-bajuku. Entahlah mau kemana tujuanku. Aku tak punya sanak saudara disini. Yang penting aku pergi dulu dari rumah ini. Rumah yang mempunyai banyak kenangan suka maupun duka.
Saat sampai diambang pintu, aku berpapasan dengan ibu mertuaku.
"Lho... Amira, kamu mau kemana? Kenapa kamu nangis, nduk?" tanya ibu mertuaku dengan heran. Ibu mertuaku baru pulang dari pengajian, jadi beliau tidak menyaksikan pertengkaran hebat kami.
"Jangan halangi dia, Bu. Biarkan dia pergi, Amira sudah bukan istriku lagi!" seru Mas Andri, dia menyusulku dari belakang.
Aku memeluk tubuh renta dihadapanku. Ibu mertua yang sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri. Selama delapan tahun aku tinggal serumah dengan beliau dan saudara ipar. Suka duka kami lewati bersama, ibu mertua memang agak cerewet, tapi dia orang yang baik dan penyabar. Beliau seorang janda ditinggal mati oleh suaminya. Dan beliau punya dua orang anak laki-laki, semuanya sudah menikah. Anak pertama Mas Restu dan anak kedua Mas Andri. Tapi walaupun anak-anak mereka sudah bekerja, kami masih sama-sama tinggal di rumah ibu.
Mas Restu bekerja di pertambangan, di luar pulau, sehingga dia jarang pulang. Paling cepat enam bulan sekali. Sedangkan Mas Andri bekerja sebagai supervisor di pabrik sepatu di luar kota, tetapi walaupun kami LDR dia masih bisa pulang tiap seminggu sekali.
Mas Restu dan Mbak Lani, mereka sudah menikah 10 tahun lamanya, merekapun sudah mempunyai seorang anak perempuan, usianya masih 7 tahun, Reni namanya ( kepanjangan dari Restu dan Lani ). Berbeda denganku, walaupun sudah menikah 8 tahun ini tapi kami belum dikaruniai anak juga. Beberapa pengobatan medis dan alternatif sudah kami coba, tapi kami tak juga dianugerahi momongan. Mungkin memang kami belum pantas mendapatkan amanah itu.
"Bu, maafkan Mira ya bu, kalau selama ini punya banyak salah sama ibu. Mira pamit pergi dari rumah ini, ibu jaga kesehatan ya," ucapku berpamitan pada ibu.
Kulihat mata ibu berkaca-kaca, merasa tak rela salah satu menantunya akan pergi. Sebenarnya ibupun belum tahu masalah apa yang sedang kuhadapi bersama Mas Andri.
"Tunggu, tunggu, sebenarnya ini ada apa, nak?" tanya ibu. Matanya memandang ke arahku dan bergantian ke arah Mas Andri.
"Mas Andri sudah menalakku, bu," jawabku sesenggukan.
"Apa?? Ini ada apa, nak? Kenapa kau menalak istrimu?" tanya ibu, dia menatap tajam ke arah putra bungsunya.
"Sudahlah bu, jangan pedulikan dia. Biarkan dia pergi. Wanita seperti dia tak pantas ada disini!" sergah Mas Andri, terdengar jelas kebenciannya kepadaku.
"Iya, tapi ibu ingin tahu masalahnya apa sampai-sampai kamu bersikap seperti ini pada Amira?"
Mas Andri mendengus kesal.
"Tak bisakah kalian bicarakan masalah kalian baik-baik?" Ibu kembali bertanya.
"Tak ada ampun untuk seorang pengkhianat sepertinya! Tega-teganya dia berselingkuh di belakangku! Biarkan wanita itu pergi, Bu! Ibu tak perlu membelanya lagi. Dia sudah bukan bagian dari keluarga ini! Pergi kau wanita j*lang!" bentak Mas Andri yang mengundang beberapa tetangga ikut datang menyaksikan kami. Bak sinetron yang paling di gemari di channel kesayangan, mereka tidak mau melewatkannya.
"Tidak, nak. Tidak mungkin. Kau pasti sudah salah paham. Amira sangat setia padamu, nak, dia tidak mungkin mengkhianatimu. Ibu yang tahu kesehariannya disini," sanggah ibu. Ibu memandangku dengan tatapan iba. Selama ini, ibulah yang menjadi tempat keluh kesahku tak ada rahasia.
"Ibu, ibu itu sudah dibodohi oleh wanita seperti dia. Berpura-pura polos didepan tapi sebenarnya dia sangat murahan!" teriak Mas Andri lagi. Makiannya benar-benar membuatku sakit. Aku seakan tak ada harganya lagi di matanya. Semua terlihat buruk gara-gara beberapa lembar foto yang ia dapatkan entah dari siapa.
"Tutup mulutmu, nak! Kau pasti sudah salah paham," tukas ibu lagi.
"Aku punya semua bukti perselingkuhannya, bu! Diapun sudah mengakui kalau itu benar-benar fotonya! Bahkan aku punya videonya yang telanjang bulat sedang mandi tersebar di sosial media! Dasar wanita murahan! Dia mengumbar aibnya sendiri tanpa menghargai perasaan suami!" teriak Mas Andri penuh penekanan.
Glek! Video? Video apaan? Telanjang bulat? Apakah ada yang merekamku diam-diam saat aku sedang mandi? Lalu menyebarkannya di sosial media? Tapi bahkan aku tak punya akun sosmed selain W******p. Ah, aku benar-benar tak mengerti.
Para tetangga yang berkumpul menatapku dan berbisik-bisik. Mereka melihatku dengan jijik seperti kotoran.
Aku merasa terhina sekali. Tak ada satupun yang benar. Hal yang dia tuduhkan padaku, hanya fitnah belaka. Fitnah yang kejam.
The moment Sophia and Alexander stepped into the hotel room, their desire for each other ignited. It had been five years since their last encounter, and the distance only fueled their passion. As they closed the door behind them, their lips met in a hungry kiss, eager to taste and touch after too long apart. Clothes became an obstacle, hindering their need to feel skin against skin. Sophia's fingers fumbled with the buttons of Alexander's shirt, while his hands skillfully slid down the zipper of her dress. They undressed each other with urgency, tossing garments aside without care. Soon, they were both naked, their bodies on display, yearning to be explored. Sophia, with her slender frame and delicate features, looked up at Alexander with lust-filled eyes. His tall, muscular build and intense gaze sent shivers down her spine. Without a word, they fell onto the soft bed, their bodies aligning perfectly. Alexander positioned himself between her thighs, his face hovering over her gli
A month had passed since I last heard any news about Alexander. It was a quiet kind of peace that I had grown used to, one that allowed me to immerse myself in my flowers. The shop had become a sanctuary, a place where I could lose myself in the fragrance of petals and the quiet rustle of leaves, a place far away from the chaos of the past. The rare midnight flame tulips were doing well this season, their dark petals glowing faintly in the dim light of the shop. I was bent over, carefully trimming the stems of a particularly stubborn tulip, my hands steady and practiced. The rhythmic snip of the scissors filled the room, creating a soothing lull, and I was so focused on the task at hand that I didn’t hear the bell jingle above the door. The faint chime of it only reached my ears when the sound was followed by footsteps, slow and deliberate. I didn’t lift my head. Maybe it was a customer, or maybe it was just the wind. The bell jingled again, and then came a voice—low, teasing, fam
The decision had been made. Alexander, after months of contemplation, finally stepped down as CEO of Kane Corporation. The weight of the position had been pulling him in directions he no longer wished to go. It was time to let go, to stop clinging to something that no longer felt like his true purpose. Sophia had been waiting for him for five long years. It was time he made his move, time to step away from the legacy he had spent so much of his life building. Jill had been by his side throughout everything—through the ups and the downs, through the struggles and the victories. She had been a steadfast ally, a loyal friend who never asked for anything in return. Now, she was here, standing across from him as he prepared to make the biggest decision of his life. “Are you sure about this, Alexander?” Jill asked, her voice steady but soft, as if sensing the gravity of the moment. Alexander exhaled slowly, his gaze fixed on the papers in front of him, the ones that would officially m
The next day, the world seemed to shift in a way I hadn't expected. The relief I had felt the day before, the moment I learned that Alexander had been found not guilty, was suddenly overshadowed by a new wave of news, news that made me feel like I was caught in an emotional storm. It started with a headline that made my stomach twist. *Viktor Robert Found Guilty of Embezzlement, Sentenced to Life in Prison.* The words hit me harder than I had anticipated. I had known Viktor’s capacity for cruelty, but seeing his fate sealed, seeing him condemned to a life in prison, felt like a punch to my gut. I couldn’t bring myself to feel anything but a dull ache at the thought of his downfall. I had never been a fan of Viktor, never admired his ruthless, manipulative ways. But seeing him face the consequences of his actions, knowing that Alexander had been framed by the very man who was now behind bars—it felt like too much. It was a strange sense of justice, but it was also tainted by the bi
The past five years had passed in what felt like a blur. My flower shop, nestled in the quieter part of Europe, had become my haven. It wasn’t as glamorous or renowned as I had once dreamed it would be, but it was mine. The rare midnight flame tulips I had worked so hard to cultivate brought me a ce
I sat by the window of my grandparents' house, watching the sun slowly dip beneath the horizon, casting a warm glow over the fields that stretched out in front of us. This place had always been a sanctuary for me, a peaceful haven far away from the noise and chaos of the city. It wasn’t the kind of
It’s been three years now. Three long, agonizing years since I left my home, my family, and most painfully, Alexander. Time has done little to dull the ache in my heart, but it has made it easier to pretend. To push aside the memories of the life I had with him and keep moving forward. But there are
Alexander stood on the edge of the tarmac, his breath coming in ragged gasps as he watched the plane ascend into the sky, its blinking lights disappearing into the horizon. His fists clenched at his sides, nails digging into his palms as he tried to keep the overwhelming wave of emotions from consum






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.