ログインبعض الروابط لا يمكن تجاهلها. أربعون قصة لا تُنسى تجمع غرباء وأصدقاء ومنافسين وتوأم روح، تتغير حياتهم بلقاء واحد غير متوقع. من الجار الذي يصبح أهم بكثير مما كان متوقعًا، إلى رجل الأعمال الناجح الذي ينقلب عالمه المنظم رأسًا على عقب، تستكشف كل قصة تحديات اتباع القلب عندما تُملي الظروف خلاف ذلك. تُكشف الأسرار، وتُختبر الولاءات، وتُكسر القلوب وتُشفى. على طول الطريق، يكتشف أناس عاديون روابط استثنائية تُشكك في كل ما ظنوا أنهم يعرفونه عن الحب والثقة والقدر. وعندما يطلع القمر، تبدأ قصة من نوع آخر. من بين هذه الحكايات رحلات إلى عالم يُوجه فيه القدر كل خطوة، وتربط فيه روابط قوية الأرواح عبر الأجيال. في هذه القصص، يجب على الشجاعة والوفاء والحب التغلب على الخوف والتحيز والصعاب المستحيلة. مجموعة قصصية مليئة بالمشاعر والتشويق والأمل وشخصيات لا تُنسى، تحتفي بالطرق العديدة التي قد يجدنا بها الحب عندما لا نتوقعه. أربعون قصة. أربعون رحلة. أربعون فرصة لتؤمن بالحب. افتح الصفحة الأولى واكتشف إلى أين يقودك قلبك.
もっと見る“Hah… Hah…. Hah….”
Ji Yuan berlari terus dan terus hingga dirasa nafasnya akan segera habis. Dia berbelok ke kanan dan terus berlari. Dibelakangnya ada sekitar tujuh pria tegap berpakaian jas hitam mengejarnya. Ji Yuan tau apa mau mereka. Mereka ingin menangkapnya untuk membuat materi baru untuk pembuatan Bom.
Materi baru yang Ji Yuan temukan setelah mencoba mencari pengobatan penyakit langka pada anak – anak. Secara tidak sengaja dia mengungkap materi baru itu, Bioriptor. Ledakannya sangat dahsyat hingga bisa menghancurkan seperempat bumi hanya dengan satu tetes materi baru itu.
Nafasnya terengah, Ji Yuan Sudah kehabisan jalan. Apa yang harus dia lakukan? Proyek pencarian obatnya terbayang dikepalanya, sedikit lagi… ya sedikit lagi. Dia hanya tinggal sedikit lagi menemukan komposisi antar materi yang harus dia racik. Sebentar lagi anak – anak yang terbaring tak berdaya itu berhasil dia selamatkan.
Apa yang harus dia lakukan? Jika dia tertangkap, dia hanya akan dipaksa untuk membuat materi peledak itu. Tidak! Dia tidak sanggup menanggung jutaan nyawa yang akan menjadi korban.
Ji Yuan tersandung, kakinya sudah melemah. Tubuhnya sudah tidak bisa dipaksakan lagi. Kakinya sudah tidak mau lagi menopang tubuhnya untuk terus berlari. Paru – parunya bahkan sudah menjerit kesakitan.
Ji Yuan menutup matanya. Tuhan… hanya satu yang aku pinta, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan penelitian ku. Beri aku kesempatan untuk membantu anak – anak itu.
Terdengar banyak langkah kaki mendekat.
Ji Yuan benar – benar tidak mau ditangkap dan dibawa oleh mereka. Demi Tuhan dia tidak mau membuat peledak itu.
Diingatnya jika dia memiliki beberapa materi di tasnya, dibukanya tas yang dibawa, memeriksanya satu – persatu.
Kepalanya menggeleng samar. Senyum sumir tercipta di bibirnya yang kini ikut memutih. Wajahnya pias.
Dia tidak punya kesempatan lagi, hanya ini satu – satunya cara.
Dilihatnya lingkungan dimana dia kini berada, diperhitungkan luas dan jarak, dia tidak mau ada korban tak bersalah disini. Cukup dia dan beberapa orang penjahat ini saja.
Perhitungan materinya tidak pernah salah. Ji Yuan adalah seorang penyuling materi yang sangat akurat.
Helaan nafas terdengar lirih dari mulutnya.
Selesai…
Ji Yuan berdiri dengan kaki gemetar. Kakinya masih lemah untuk menopang tubuhnya. Dengan berpegangan pada sebuah tembok, Ji Yuan berdiri dan menyambut pada penjahat itu. Senyum dingin dia berikan saat mereka mendekat.
“Menyerah saja Nona. Cepat atau lambat kamu pasti akan jatuh ke tangan kami.” Seorang dari tujuh pria itu mendekat dan tersenyum merendahkan.
Ji Yuan hanya berdiam tidak menanggapi. Dia menunggu mereka semua masuk dalam lingkup ledakannya.
“Aku tidak mau.” Ji Yuan berkata dengan suara yang datar. Jantungnya berpacu cepat. Dia hanya berdoa semoga dia tidak perlu melakukan ini.
Pria yang paling besar berjalan semakin mendekatinya. Keenam orang lain mengikuti. Ji Yuan menghitung jaraknya. Sebentar lagi.
“Kamu tidak mau?” Ucapnya lalu tertawa. Suara tertawanya bagaikan lonceng kematian bagi Ji Yuan.
“Tidak apa – apa. Kami hanya ditugaskan untuk membawa mu. Tidak disebutkan hidup atau m*ti. Kemungkinan kami hanya membutuhkan otakmu saja. Jika itu rusak, baru menjadi masalah. Nyawa mu tidak ada urusannya dengan kami.” Ucapnya lagi dengan tatapan yang menjijikkan.
Ji Yuan menelan ludahnya yang kering. Dia tertawa miris. Haruskah senjatanya didekatkan ke kepalanya. Agar dia memastikan otaknya tidak akan tersisa untuk mereka?
Ji Yuan tertawa miris. Hidupnya sungguh kasihan. Yatim – piatu tinggal di panti asuhan dan asrama. Seumur hidupnya dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup.
Kini dia harus mengakhiri hidupnya sendiri. Sungguh sebuah Ironi. Hal yang sangat keras dia perjuangkan, kini harus berakhir ditangannya sendiri.
"Begitu…” Ji Yuan menatap mereka satu persatu. “Kalau begitu kemari dan ambilah…”
Para penjahat itu tersenyum kejam lalu mulai mendekati Ji Yuan, selangkah demi selangkah. Ji Yuan memandang mereka dingin, menghitung jarak. Sedikit lagi…
Tiga…
Dua…
Satu…
Boooommmm….
Ji Yuan meledakkan mereka semua, tubuhnya hancur berkeping – keping hingga nyaris berupa serpihan. Begitu juga dengan ketujuh orang yang mengejarnya. Tuhan… berikan aku kesempatan menemukan obat bagi anak – anak itu. Atau setidaknya biarkan mereka menyelesaikannya untuk ku. Pinta Ji Yuan dalam hatinya.
*
Rasa sakit disekujur tubuhnya mulai memudar. Ji Yuan mengernyitkan dahinya, tubuhnya basah kuyup karena keringat. Perlahan reseptor tubuhnya kembali berfungsi. Dia mulai mendapatkan rasa tubuhnya kembali.
Punggungnya merebah pada sebuah selimut bulu yang halus namun tipis, tumpukan Jerami dan kapas yang sudah mengeras terasa di punggungnya. Tangan dan kakinya kebas, kepala yang terasa berat.
Ji Yuan, mencoba meraba tubuhnya. Dalam ingatan terakhirnya semua bagian tubuhnya hancur lebur menjadi potongan kecil. Utuh! Semuanya masih ada. Llu dimana, kah dia? Apakah Dewa neraka urung menjemputnya?
“Ju Yuan… Ji Yuan… Ada Tuan Bo Senggu dari Akademi Hanlin mencari mu.” suara seorang pria tua yang berwibawa terdengar dari luar.
Ji Yuan mengernyit, Akademi Hanlin? Apa di neraka ada Akademi Hanlin?
Setelahnya, ingatan seorang wanita dengan nama yang sama masuk ke dalam kepalanya. Dia memiliki nama yang sama, Ji Yuan. Putri Guru Negara yang menikah dengan gadis dari bangsa lain, dan memutuskan untuk hidup di perbatasan.
Saat Ji Yuan, pemilik tubuh, menginjak usia tiga belas tahun, kedua orang tuanya meninggal karena sakit yang misterius. Awalnya Ibunya, kemudian dalam dua minggu Ayahnya menyusul.
Maka Ji Yuan tinggal sendiri di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Selama ini dia bertahan hidup dengan bantuan pada penduduk desa yang masih menjunjung tinggi saling tolong – menolong dan juga karena Panatua desa yang sangat menyayanginya.
Namun dua hari lalu, Ji Yuan, pemilik Tubuh mulai terserang penyakit misterius itu. Penyakit yang sama yang merenggut Ayah Ibunya. Tapi Ji Yuan, menyembunyikannya. Dia tidak mau warga desa tahu.
Ji Yuan asli yang kesepian merindukan Ayah Ibunya, menyebabkan dia hanya berbaring pasrah menanti Ayah Ibunya, menjemputnya.
Pada hari kedua sakitnya, Ji Yuan pemilik tubuh ini benar – benar pergi. Namun, siapa sangka, Ji Yuan dari jaman lain, yang masuk ke dalam tubuh pemilik.
“Ji Yuan!!” panggil pria tua itu lagi.
Dalam ingatan pemilik asli tubuh ini, itu adalah suara kepala desa.
Ji Yuan mengankat tangannya, menatap tangan ramping kecil berkulit halus dan pucat. Tangan itu meraba wajah dan tubuh pemilik asli yang sudah basah oleh keringat.
“Ji Yuan! Apa kau ada di dalam?” suara Paman kepala desa lagi terdengar.
“Aku telah bertransmigrasi…” lirih Ji Yuan.
Dengan perlahan, Ji Yuan bangun dan mengganti pakaiannya, lalu keluar dengan perlahan.
“Paman Ji Bao.” Sapa Ji Yuan.
“Kamu… Apa kamu sakit?” Paman Ji Bao menatap Ji Yuan dengan khawatir.
“Aku sudah lebih baik.” Jawab Ji Yuan.
Kepala desa menatap Ji Yuan masih dengan tatapan khawatir.
”Tuan Bo Senggu, mencari mu.” ucap Ji Bao setelah melihat Ji Yuan yang tampaknya berdiri tegak, tidak kesakitan.
“Nona, saya mengundang Anda ikut seleksi untuk menjadi guru di Ibukota. Kaisar memutuskan mendirikan Akademi khsusus Putri. Dan mencari guru wanita berbakat di seluruh negeri. Selamat. Anda terpilih mewakili daerah kita.” Ujar Bo Senggu dengan penuh semangat.
Ji Yuan tersenyum samar. Apa ini? Dia baru saja masuk ke zaman ini dan sudah harus mengikuti tes seleksi?
*****
من وجهة نظر إيميليكان جسدي يحترق وأنا أتسلل عائدةً إلى غرفة النوم الرئيسية بعد أن تركت جيك على الأريكة. كان رايان نائمًا بالفعل، يتنفس بعمق وانتظام، غافلًا تمامًا عن أن فرج زوجته لا يزال يقطر من أصابع صديقه المقرب. استلقيت بجانبه، وقلبي يخفق بشدة لدرجة أنني خشيت أن أوقظه. كان رداء الحرير خشنًا جدًا على بشرتي شديدة الحساسية - كانت حلمتاي تؤلمانني بشدة، وبظري ينبض مع كل حركة بسيطة لفخذي. بقي طعم جيك عالقًا على شفتي من تلك القبلة المسروقة، ورائحة إثارته ممزوجة بمسكه الرجولي تلتصق بي.ماذا بحق الجحيم أفعل؟ اجتاحني الشعور بالذنب كالموجة، باردًا وخانقًا. كان رايان رجلًا صالحًا - مخلصًا، مجتهدًا، الزوج الذي وعدني بالبقاء معه للأبد قبل ثماني سنوات. وها أنا ذا، في الثانية والثلاثين من عمري، يخونني جسدي لذة المحرمات. شعرتُ بضخامة قضيب جايك الضخم وهو يضغط عليّ قبل قليل، أكبر بكثير من قضيب رايان. غمرتني تلك الفكرة برطوبة جديدة. ضغطتُ وجهي على الوسادة، محاولةً تهدئة أنفاسي، لكن عقلي لم يتوقف عن إعادة تكرار كل كلمة بذيئة همس بها وهو يداعبني.كان النوم مستحيلاً. حوالي الساعة الثانية صباحاً، تسللتُ
من وجهة نظر جيككان حمام الفيلا الخارجي بمثابة إغراء بحد ذاته - مفتوح على السماء، محاط بنباتات استوائية، تتدفق مياهه الدافئة على كل من يقف تحته. وقفتُ تحت رذاذ الماء، أحاول تهدئة اللهيب المتأجج بداخلي، لكن قضيبِي رفض أن يرتخي. كان يتدلى ثقيلاً وسميكاً بين ساقيّ، عروقه بارزة ويتسرب منه السائل، ورأسه محمرّ بشدة من شدة الرغبة. إميلي. اعترافها في ذلك الخليج يتردد صداه في رأسي: تخيلنا كلانا نمارس الجنس معها. لقد حُفرت الكلمات في ذهني. قبضتُ على قضيبِي بقوة، وداعبته مرة، مرتين، ثم توقفت. لا نشوة. ليس بعد. كنتُ بحاجة إلى هذا الإحباط لأغذي ما سيحدث الليلة.في الثالثة والثلاثين من عمري، أدير شركة ناشئة في مجال التكنولوجيا ذات مخاطر عالية تتطلب كل لحظة من وقتي، وما زلتُ عاجزاً عن إخراج صورة زوجة صديقي المقرب من رأسي. كان لدى رايان كل شيء - زوجة مخلصة وجميلة مثل إميلي، وحياة مثالية. أما أنا، فكنت أعزبًا، أغرق في علاقات عابرة تتركني أكثر فراغًا في كل مرة. لم تكن أي منهن تملك منحنياتها، أو خجلها الممزوج بالجرأة، أو تلك البراءة الزوجية التي كنت أتوق بشدة إلى إفسادها. كان الشعور بالذنب كسكينٍ يغرز
من وجهة نظر إيميليكانت شمس الصباح تُسلط أشعتها الحارقة على بشرتي بينما كان القارب الصغير يشق طريقه عبر المياه الفيروزية نحو الخليج الخاص الذي ذكره جيك. لم يهدأ قلبي منذ لقائ الليلة الماضية على سطح المركب. في كل مرة أغمض عيني، أشعر بأنفاس جيك اللاهثة على أذني، وكلماته الخافتة البذيئة تُثير فيّ رغبةً مُخجلة. كنتُ غارقةً في العرق مجددًا، وسروال البيكيني مُبلل تحت غطائي الفضفاض. كان الشعور بالذنب يُنهش صدري - كان رايان بجانبي تمامًا، يُوجه القارب بابتسامة هادئة، غافلًا تمامًا عن أن زوجته كانت تُداعب نفسها وهي تُفكر في صديقه المُقرب قبل ساعات قليلة.في الثانية والثلاثين من عمري، كان يجب أن أكون أكثر وعيًا. كانت حياتي جيدة: زوج مُحب، ومهنة ناجحة كمصممة جرافيك، وأصدقاء يحسدون زواجنا "المثالي". ومع ذلك، ها أنا ذا، أتوق إلى شيء أكثر قتامة، شيء مُحرم. جسد جايك القويّ كان يطاردني. الطريقة التي تنقبض بها عضلاته مع كل حركة، وشكل قضيبه البارز يضغط على سرواله القصير الليلة الماضية... يا إلهي، كنتُ أغرق في الإثارة لمجرد التفكير في الأمر. انقبضت حلمتاي بألمٍ على قماش حمالة صدر البيكيني الخضراء الزمر
من وجهة نظر جيككان ضوء غرفة النوم الرئيسية في الفيلا لا يزال مضاءً عندما تسللتُ إلى الشرفة، وشعرتُ بدفء الألواح الخشبية تحت قدميّ العاريتين. لفّتني ليلة الكاريبي كأنفاس عاشق - كثيفة، رطبة، تحمل عبير الملح، وزهرة الفرانجيباني، ورائحة واقي الشمس بجوز الهند الذي لا يزال عالقًا في أنفي. كنتُ منتصبًا بشدة. مرة أخرى. كان قضيبِي يضغط بقوة على قماش سروالي القصير الرقيق، ينبض مع كل نبضة قلب وأنا أسترجع تلك اللحظة في المسبح. فخذها الناعم يلامس فخذي تحت الماء. الطريقة التي ارتفع بها ثدياها الممتلئان وانخفضا مع تلك الشهقة الحادة. اللعنة.في الثالثة والثلاثين من عمري، كنتُ قد أسستُ شركة ناشئة ناجحة في مجال التكنولوجيا، ومارستُ الجنس مع عدد لا بأس به من النساء الجميلات، لكن لم تكن أيٌّ منهن تُضاهيها. إميلي. زوجة رايان. زوجة صديقي المُقرّب. المرأة الوحيدة التي لم يكن من المفترض أن أرغب بها بهذا القدر. كان جسدها تحفة فنية بكل معنى الكلمة - ذلك الصدر الممتلئ المثالي، وتمايل وركيها العريضين أثناء مشيها، ومؤخرتها المثيرة التي كنت أتخيلها لسنوات. وتلك العيون العسلية التي تتظاهر بالبراءة بينما تخفي أسرا
إيلينالم تتوقف ساقاي عن الارتجاف.كنت ما زلت ملتصقة بالجدار المرآة، وجسد ماركوس الضخم يغطي جسدي من الخلف، وقضيبه لا يزال مغروسًا عميقًا داخلي بينما تتلاشى آخر نبضات نشوته الثانية. تسرب سائل منوي كثيف ودافئ حول قضيبه، وسال على فخذي في مسارات بطيئة ومقززة. كنت أشعر بكل ارتعاشة، بكل نبضة منه داخلي. ك
ماركوسكانت إيلينا لا تزال ترتجف من نشوتها عندما سحبت أصابعي من فرجها المبتل وامتصصتها حتى نظفتها. انفجر طعمها الحلو، المسكي، الآسر على لساني، وجعل قضيبِي ينتصب بشدة حتى كاد يؤلمني.لم أعد أستطيع كبح جماحي."استديري"، زمجرتُ، وأدرتها قبل أن تتمكن من الرد. ضغطتُ صدرها على الحائط المرآة، فالتصقت وجنت
إيليناشعرتُ وكأن الهواء في المصعد يتقلص من حولنا.كل ثانية تمر تجعل التنفس أصعب. التفكير أصعب. التظاهر بأنني لا أفقد عقلي أصعب.كان ماركوس يقف على بُعد قدمين مني الآن، يراقبني كحيوان مفترس حاصر فريسته أخيرًا. كان صدره العريض يرتفع وينخفض مع أنفاس عميقة ومنضبطة. كان قضيبه الضخم والثقيل يبرز بشكلٍ ف
ماركوستباً.كنتُ منتصباً كالفولاذ حتى قبل أن يتوقف المصعد.في اللحظة التي دخلت فيها إيلينا إلى المصعد هذه الليلة، بتنورتها الضيقة التي تُبرز مؤخرتها المثالية وصدرها الممتلئ الذي يكاد ينفجر من تحت بلوزتها، انتفض قضيبِي بشغفٍ جامح. ثلاثة أشهر. ثلاثة أشهر لعينة وأنا أركب هذا المصعد معها، أستنشق عبيره
レビュー