Lindsey tidak tahu harus berbuat apa. Wajahnya pucat pasi saat dia menunjuk bekas di lehernya sendiri sebagai bukti untuk membantah.
Dia benar-benar frustrasi sampai menggunakan hal seperti ini untuk membuktikan bahwa dirinya memang pernah punya hubungan dengan Brandon.
Tak heran, tatapan sang wali kelas seketika dipenuhi penghinaan.
....
"Oh? Jadi waktu itu Lindsey mencariku?"
Kalimat itu seketika menarik Lindsey kembali ke kenyataan. Di bawah begitu banyak tatapan iseng, dia bertatapan dengan Brandon.
Tatapan itu begitu tenang, seolah di antara mereka benar-benar tidak pernah terjadi apa-apa.
Kuku Lindsey menancap semakin dalam hingga rasa sakitnya bertambah, sementara jantungnya berdebar kencang.
Perempuan yang ingin mempermalukan Lindsey itu kembali berkata, "Iya. Kamu nggak tahu? Dulu setelah kamu pergi ke luar negeri sama Cecilia, Lindsey jadi kayak orang gila. Dia sampai bikin postingan di forum kampus."
Sikap Brandon justru seperti orang yang tidak ada kaitannya dengan masalah ini. Tatapannya tetap tanpa emosi. Jari-jarinya memegang gelas di atas meja dan memutarnya perlahan.
"Kenapa mencariku?"
Dua pertanyaan berturut-turut itu seolah memberi tahu semua orang yang hadir bahwa dirinya memang tidak dekat dengan Lindsey.
Terdengar beberapa tawa kecil di ruangan itu. Tatapan penuh sindiran hampir membuat Lindsey hancur.
Dia tiba-tiba berdiri, menyembunyikan tangannya yang gemetar di belakang tubuh sambil mencengkeramnya erat-erat.
"Brandon, selamat atas pernikahanmu."
Sebenarnya dia tidak perlu lagi terus mengejar jawaban itu. Dia mengangkat gelas di hadapannya dan menenggaknya sampai habis.
"Aku tulus mendoakanmu bahagia."
Dia tidak berani menatap mata Brandon. Setelah meletakkan gelas, dia hanya menunduk dan tidak berkata-kata lagi.
Dulu, saat cinta mereka sedang begitu membara, Brandon pernah berkata bahwa mereka harus datang ke reuni teman sekolah pertama bersama. Saat itu, dia ingin semua orang tahu bahwa mereka sudah bersama selama bertahun-tahun.
Lindsey adalah orang yang serius dan berpegang teguh pada apa yang diyakininya. Dia mengingat setiap janji yang pernah dibuatnya. Kalau Brandon sudah lupa, tidak masalah.
Di reuni ini, dia akan duduk sampai acara selesai. Setelah itu, semuanya akan berakhir.
Orang-orang di ruangan itu buru-buru memperhatikan ekspresi Brandon. Jari Brandon mengusap gelas di hadapannya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi tatapannya justru tampak semakin dalam.
"Terima kasih." Setelah mengucapkan dua kata itu, dia mengalihkan pembicaraan.
Tidak ada lagi yang memperhatikan Lindsey, kecuali Cecilia. Cecilia memeluk anak itu erat-erat sambil menggigit bibirnya.
Setelah itu, tidak ada seorang pun yang menghiraukan Lindsey. Dia bangkit dan pergi ke kamar mandi, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin.
Ketika mengangkat kepala, dia melihat Cecilia muncul di belakangnya. Dulu saat kuliah, dia dan Cecilia tidak banyak berinteraksi. Mereka berbeda jurusan, tetapi Cecilia sangat terkenal.
Cecilia tersenyum kepadanya dan menyodorkan selembar tisu. "Kamu nggak apa-apa?"
Lindsey tidak menerimanya. Dia tidak bisa memahami maksud Cecilia.
Cecilia berjalan perlahan ke wastafel, membuka keran, lalu mencuci tangannya dengan tenang. Nada bicaranya mengandung kesombongan serta kepercayaan diri yang dimiliki anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga terpandang.
"Brandon itu orangnya memang seenaknya. Karena di rumah sudah ada kakaknya yang akan mewarisi bisnis keluarga, dia selalu suka mencoba hal-hal baru dan menantang, tapi juga cepat bosan."
"Kakeknya takut dia bakal salah jalan. Makanya, setelah dia mulai ketagihan terjun payung, kakeknya marah dan mengirimnya ke Kabupaten Sirata. Rasa sukanya nggak pernah bertahan lama. Lindsey, dia sudah menyakitimu. Mewakili dia, aku minta maaf ke kamu."
Lindsey merasa kata-kata itu seperti sebuah tamparan keras yang menghantam wajahnya.
Cecilia perlahan mengusap jari-jarinya dengan saputangan. "Aku tahu kalian sudah saling mengenal di Kabupaten Sirata. Dia sering cerita soal kamu."
"Dulu, dia juga yang meminta keluargaku membiayai sekolahmu. Melihatmu berhasil masuk ke ibu kota setelah berjuang sampai sejauh ini, aku ikut senang untukmu."
"Tapi kalian berasal dari dua dunia yang berbeda. Brandon sudah mempermainkan perasaanmu. Dia juga sudah menerima hukuman keluarga. Lindsey, mulai sekarang jangan terlalu sering bertemu dengannya. Orang biasa sepertimu nggak akan sanggup bermain dalam permainan seperti ini."
Lindsey sangat ingin membantah, tetapi seluruh amarahnya padam begitu mendengar dua kata, Kabupaten Sirata.
Itu adalah rahasia antara dirinya dan Brandon, sesuatu yang sudah mereka sepakati untuk tidak diceritakan kepada orang lain.
Ternyata sejak dulu Brandon sudah menceritakannya kepada Cecilia.
Di hadapan Cecilia, istri sah Brandon, Lindsey hanya merasa dirinya tidak punya tempat untuk berpijak.
Empat tahun telah berlalu. Akhirnya, dia berani menghadapi pertanyaan itu. Jawabannya adalah dia memang sudah dipermainkan oleh Brandon, anak orang kaya itu.
Dia dipermainkan sampai kehilangan kesucian sekaligus cintanya, tetapi masih keras kepala menuntut sebuah jawaban. Hanya karena dia orang yang jujur dan polos, gadis baik yang belum tahu tentang dunia.
Kuku Lindsey menancap ke telapak tangan hingga meninggalkan bekas darah. Kemudian, dia mendengar Cecilia berkata.
"Kalau kamu nggak mau memaafkannya, nggak apa-apa. Tapi jangan cari dia lagi. Dia memang selalu begitu. Mungkin suatu hari dia akan kembali tertarik padamu. Aku cuma takut dia akan menyakitimu lagi."
Lindsey merasa sangat malu dan ingin sekali menghilang saat itu juga.
Setelah mengatakan semua itu, Cecilia membuang saputangannya yang mahal ke tempat sampah, lalu langsung pergi.
Lindsey merasa sesak. Dia berbalik dan kembali membasuh wajahnya dengan air dingin. Entah itu air atau air mata, dia membasuh wajahnya dengan ekspresi kosong selama satu menit, sampai akhirnya sisa harapan itu mengalir bersama air dingin menuju saluran pembuangan.
Dia segera mengambil tisu di sampingnya dan mengusap wajah. Dia menatap dirinya sendiri di cermin.
Wajahnya lembut dan rapuh, tetapi menyimpan kesan keras kepala yang kuat. Matanya yang besar terlihat jernih dan penuh kehidupan. Memang benar seperti yang dikatakan sahabatnya, wajahnya adalah tipe gadis polos yang paling disukai para anak orang kaya.
Dia mengusap pipinya, lalu berbalik dan pergi. Ketika kembali ke ruang privat, dia baru menyadari bahwa acara sudah bubar.
Hanya Brandon yang masih duduk di samping tas milik Lindsey sambil menunduk, entah sedang memikirkan apa.
Lindsey berjalan cepat menghampiri, mengambil tasnya dan hendak pergi, tetapi tali tas yang satunya masih dicengkeram oleh jari-jari Brandon yang panjang.
Lindsey tertegun dan mengangkat pandangan. Empat mata bertatapan.
Brandon seolah baru menyadari apa yang dilakukannya, lalu perlahan melepaskan jari-jarinya. Sama seperti dulu, dia muncul begitu saja di Kabupaten Sirata, lalu menarik rambut Lindsey yang dikuncir sambil bertanya dengan heran apakah dia tuli.
Lindsey bukan tuli. Hanya saja, ayahnya pernah menamparnya hingga pendengarannya sedikit terganggu.
Awalnya Lindsey sangat membenci Brandon. Dia sempat mencibir bahwa Brandon adalah anak kaya yang dibuang ke tempat itu.
Namun, alat bantu dengar pertama yang dimiliki Lindsey dibelikan oleh Brandon. Sejak saat itu, suara-suara dunia kembali terdengar jelas baginya.
Waktu itu, Lindsey tidak pandai mengungkapkan perasaan. Setiap kali bertengkar dengan Brandon, dia selalu begitu gugup sampai wajahnya memerah. Melihat itu, Brandon justru tertawa mengejek. Katanya, Lindsey benar-benar menarik.
Lindsey yang berusia 13 tahun benar-benar membenci Brandon yang berusia 16 tahun. Namun, Brandon yang berusia 16 tahun justru mencari seorang dermawan untuk membiayai sekolahnya.
Lindsey tiba-tiba menarik tasnya dengan keras. Brandon mungkin tidak menyangka dia akan melakukan itu, sehingga sudut tas itu tidak sengaja menghantam tulang selangkanya dan membuat salah satu kancing kemejanya terlepas.
Kain kemejanya merosot, memperlihatkan garis tulang selangkanya yang sempurna.
Tatapan Lindsey tanpa sadar tertuju ke bagian bawah tulang selangkanya.
Dulu, ketika Lindsey memutuskan menyerahkan kesuciannya untuk pertama kali, dia selalu takut Brandon hanya bermain-main dengannya. Karena itu, Brandon yang kesal menariknya ke toko tato dan membuat mereka menato inisial nama masing-masing.
Tepat di bawah tulang selangka, Brandon menato huruf "LT".
Waktu itu, sambil menunjuk tato yang masih agak kemerahan, dia berkata, "Selama tato ini masih ada, perasaanku tetap sama."
Namun sekarang, bagian itu sudah bersih tanpa bekas apa pun.