Se connecterSelepas cerai dan menyandang status janda, Arini hanya ingin fokus menjalani hidup tenang bersama putranya yang sudah beranjak dewasa. Di tengah caci-maki dan hinaan yang datang dari lingkungan sekitarnya, teman putranya, Devan, justru secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padanya. Arini gelisah. Ia seorang janda berusia 40 tahun, merasa tak pantas berhubungan dengan pria muda yang seusia putranya. "Devan, kamu salah paham. Aku jauh lebih tua darimu. Wajar kalau kamu merasa kagum, tapi itu bukan cinta." Saat Arini berusaha menjaga batas, Devan malah menariknya ke dalam pelukan dengan tegas. "Kalau belum percaya, tidak apa-apa. Aku akan buktikan ke Tante Arini kalau aku tidak salah paham dengan perasaanku sendiri."
Voir plus“Kamu dengar Arini, istri Pak Bramantyo tetangga kita itu? Beberapa hari lalu mereka cerai. Arini dapat rumahnya.”
“Pak Bramantyo yang pengusaha kaya itu? Bu Arini ‘kan cuma ibu rumah tangga. Sayang sekali. Setelah ini dia bisa apa? Mana ada laki-laki mau menikah lagi sama janda 40 tahun!” Di antara kerumunan ibu-ibu yang bergosip di gerobak tukang sayur itu, Arini fokus memilih-milih sayuran segar untuk dimasukkan ke kantong plastiknya tanpa menghiraukan orang-orang yang menggosip di ujung gerobak yang lain. Salah seorang wanita yang berada dekat di Arini menyikutnya pelan. “Nggak ditegur aja, Bu?” bisiknya prihatin. Arini menoleh dan tersenyum simpul sambil menggeleng pelan. “Nggak perlu, Bu. Saya juga lagi buru-buru. Saya duluan, ya. Mari.” Setelah menyerahkan sejumlah uang pada tukang sayur untuk membayar belanjaannya, Arini langsung pamit pada ibu-ibu di sekitarnya, kemudian melangkah pulang. Ke rumah yang kini sudah menjadi atas namanya pribadi setelah bercerai dari suami. Ya, belum lama ini Arini bercerai. Pernikahannya dengan Bramantyo selama puluhan tahun dulu hanyalah sangkar emas yang menyiksa. Bramantyo adalah pria arogan. Ia butuh istri hanya agar bisa berkuasa di rumah sendiri. Setelah menikah, Arini tidak diperbolehkan bekerja lagi. Selama itu ia hanya mengurus rumah tangga dengan patuh sebagai istrinya. Belakangan, Bramantyo yang tidak pernah puas dengannya sering main tangan, menjadikan Arini sebagai pelampiasan amarah. Arini bertahan demi putra mereka yang saat itu baru lulus sekolah dan butuh biaya untuk masuk universitas. Namun, setelah mengetahui perselingkuhan Bramantyo dengan Siska, tekad Arini pun bulat untuk bercerai. Kini, ia resmi telah lepas dari pernikahan tak bahagia itu. Maka dari itu, Arini tidak tersinggung oleh ucapan ibu-ibu yang melabelinya janda tua. Baginya, bercerai adalah kebebasan. Ia tidak berencana untuk membangun hubungan dengan pria lain lagi. Mulai saat ini, Arini ingin fokus pada dirinya sendiri. Saat Arini sampai di rumahnya, ia melihat beberapa kardus-kardus yang diletakkan di teras rumah. Rian, putranya, sedang keluar membawa salah satu kardus berisi barang. “Masih banyak barangnya, Nak?” tanya Arini. Rian mengusap peluhnya setelah meletakkan kardus itu di atas kardus yang lain. “Masih ada beberapa di lantai dua sama di gudang, Ma. Sudah dirapikan ke kardus semua. Kita bisa panggil sopir pick-up buat kirim barang-barang ini ke rumah Papa.” Arini mengangguk lalu menatap putranya lamat-lamat. Anak tunggalnya itu sudah berusia 21 tahun, pemuda yang kini bisa memahami situasi yang Arini alami, bahkan membantunya mengangkat barang-barang berat. Sejak putusan pengadilan mengesahkan jika rumah ini jatuh ke tangannya, Arini memang sudah berencana untuk beres-beres rumah, terutama dari barang-barang mantan suami yang masih ada di rumahnya. “Mama cuma mau rumah ini bersih hari ini,” ucap Arini. “Semua barang papamu yang masih tertinggal di kamar atas dan gudang harus keluar sebelum malam tiba. Mama gak mau melihat satupun kemeja atau jam tangannya besok pagi.” Rian mengangguk. “Siap, Ma. Biar aku yang bereskan kardus-kardus pakaian di kamar atas. Tapi barang-barang di gudang samping cukup berat, Ma. Makanya aku tadi minta bantuan Devan.” Arini sedikit mendongak, alisnya terangkat. “Devan? Oh… teman kuliah kamu itu?” “Iya, Ma. Dia ada di luar, lagi markir mobilnya di garasi,” ujar Rian sebelum pandangannya teralihkan ke belakang Arini. “Ah, itu dia anaknya. Devan, sini!” Arini pun memutar tubuhnya mengikuti arah pandangan Rian. Di depan mereka, seorang pemuda tinggi bertubuh tegap dan berparas tampan melangkah mendekat. Rambutnya sedikit acak-acakan terkena angin, namun garis rahangnya tegas dan sorot matanya sangat jernih. “Pagi, Tante Arini. Permisi,” ucap pemuda itu dengan sopan. “Eh, Devan, pagi juga,” jawab Arini ramah. Pria muda itu tersenyum tipis. “Maaf kalau kedatangan saya agak mendadak dan mengganggu waktu Tante pagi ini.” “Ah, sama sekali gak ganggu, justru Tante yang gak enak,” Arini mengibaskan tangannya pelan. Lalu mengajaknya masuk. “Rian ini suka sekali merepotkan temannya. Padahal urusan memindahkan barang gini bisa Tante panggil tukang nanti sore.” “Sama sekali gak merepotkan, Tante,” potong Devan cepat. “Rian itu sudah seperti saudara saya sendiri di kampus. Lagipula, mengangkat kardus dan menggeser lemari tua cuma hitungan menit untuk saya.” Rian pun berdiri di samping Devan dan menepuk bahunya. “Nah, kan, Ma! Devan ini anak arsitektur, tapi tenaganya gak kalah sama kuli bangunan. Dia biasa angkat bahan maket kayu dan besi sendirian.” “Rian, bicaramu itu,” tegur Arini pelan. Devan justru terkekeh. “Gak apa-apa, Tante. Yang dikatakan Rian memang benar. Jadi, mana barang-barang yang harus dipindahkan lebih dulu?” “Ada di gudang samping dan beberapa kardus pakaian di kamar atas, Dev,” jawab Rian sambil menunjuk ke arah dalam rumah. “Kita mulai dari kardus di atas aja.” Rian langsung mengajaknya masuk. Namun, sebelum melangkah mengikuti Rian ke dalam rumah, Devan sempat bersitatap dengan Arini, lalu matanya turun ke tas belanjaan yang tampak berat di genggaman tangan Arini. “Ini biar saya bawakan sekalian ke dalam, Tante,” ujarnya dengan suara baritonnya itu, membungkuk untuk meraih kantong tas belanjaan. Arini hendak menolak, tidak mau merepotkan tamu. Tapi, Devan sudah lebih dulu mengambilnya dengan gerakan yang natural. Jemarinya yang panjang dan kokoh sempat bersentuhan tanpa sengaja dengan jemari Arini, mengirimkan sensasi hangat yang sangat asing mendadak menjalar di kulitnya."Aku janji, aku bakal selalu memperlakukan kamu sebaik yang aku bisa. Kamu berhak atas semua kebahagiaan ini."Melihat kalung berlian indah di lehernya dan mendengar janji tulus Devan, Arini tidak sanggup lagi menahan air matanya. Tanpa menghiraukan keberadaan para pekerja di sekitarnya, Arini langsung menghambur memeluk Devan dengan sangat erat. Ia menyandarkan wajahnya di dada tegap Devan, menangis terharu."Terima kasih... terima kasih banyak ya, Devan..." bisik Arini berkaca-kaca di dalam pelukan hangat pria itu.Devan tersenyum tulus, mengelus lembut rambut Arini dan membalas pelukannya dengan penuh perlindungan. Sementara itu, para pekerja dan penata rias di sekeliling mereka hanya bisa berdiri terdiam, menatap pemandangan romantis itu dengan rasa kagum dan segan, tidak berani lagi mengeluarkan bisik-bisik miring sedikit pun.Begitu Devan dan Arini melangkah keluar menuju mobil, suasana di dalam butik seketika pecah oleh gosip heboh dari para staf."Demi apa woy! Itu beneran cal
"Devan... aku beneran harus ikut ya?" bisik Arini lirih, memandangi pakaiannya dengan jemari gemetar. "Tapi... penampilan aku cuma kayak gini, Devan. Baju aku cuma kaus dan rok biasa. Rasanya aku gak pantas banget datang ke acara mewah kayak gitu..."Devan tersenyum lembut, mengikis jarak dan memegang pundak Arini. "Siapa bilang kamu bakal datang pakai baju ini? Makanya sekarang kamu ikut aku, kita pergi ke salon dan butik dulu buat dandan."Arini langsung menggeleng cepat, matanya membelalak kaget. "A-apa? Ke salon dan butik mewah? Enggak usah, Devan! Itu terlalu berlebihan buat aku. Aku gak enak banget sama kamu dan keluarga kamu...""Gak ada kata enggak enak, Arini," jawab Devan tegas namun lembut, menarik perlahan jemari Arini.Arini terpaku. Di dalam hatinya, timbul ketakutan yang sangat besar. Jika ia menolak dan tetap tampil seadanya, ia sangat takut akan mempermalukan Devan serta keluarga besar Mahendra di hadapan para pengusaha. Demi Devan yang sudah begitu banyak berkorban
Suasana ruang keluarga di mansion megah Mahendra terasa sangat hangat dan tenang pada sore hari itu. Suara gemericik air dari kolam ikan di halaman belakang terdengar samar, berpadu dengan alunan musik lembut yang mengalun dari sistem audio ruangan. Devan melangkah masuk dengan santai, melepas dua kancing teratas kemejanya, lalu melonggarkan ikatan dasinya. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di samping ibunya, Nyonya Elena, yang sedang merangkai bunga segar di vas kristal. Di hadapan mereka, Tuan Hendra, ayah Devan sedang menyandarkan punggungnya di sofa sambil menyesap teh chamomile hangat. "Gimana pekerjaan kamu hari ini di kantor, Devan? Hasil rapat dengan tim hukum Mahendra & Partners tadi lancar?" tanya Tuan Hendra hangat, menurunkan cangkirnya perlahan. Devan tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Lancar, Pa. Semua urusan dokumen dan laporan hukum sudah ditangani dengan sangat baik oleh Pak Danu." Nyonya Elena menoleh, menatap putra tunggalnya dengan
Di saat senyum penuh kehangatan Arini dan Devan terpancar di pelataran ruko setelah badai eksekusi berhasil diredam, ketegangan justru terjadi di kediaman Bramantyo. "Mas Bram, ini beneran daftar vendor sama tamu VVIP yang mau kita panggil buat acara pengukuhan kepengurusan asosiasi bisnis minggu depan?" tanya Siska dengan suara agak ragu, memandangi berkas berisikan daftar katering bintang lima dan dekorator ternama di atas meja kerja Bramantyo. "Kamu pikir saya main-main?" sahut Bramantyo dingin tanpa merubah pandangannya dari dokumen di tangannya. "Acara gala dinner dan pesta pengukuhan saya sebagai ketua asosiasi harus tetap berjalan. Tidak ada kata batal atau ditunda." Siska menghela napas panjang, membenarkan duduknya di sofa. Ia masih memegangi pipinya yang sempat panas akibat tamparan Bramantyo beberapa hari lalu. "Tapi Mas... masalah penyuapan yang aku lakuin buat nyegel ruko Arini kemarin gimana? Kamu kan kemarin sampai ngamuk dan ngancam mau nyeraikan aku waktu pengacara
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires