LOGINSelepas cerai dan menyandang status janda, Arini hanya ingin fokus menjalani hidup tenang bersama putranya yang sudah beranjak dewasa. Di tengah caci-maki dan hinaan yang datang dari lingkungan sekitarnya, teman putranya, Devan, justru secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padanya. Arini gelisah. Ia seorang janda berusia 40 tahun, merasa tak pantas berhubungan dengan pria muda yang seusia putranya. "Devan, kamu salah paham. Aku jauh lebih tua darimu. Wajar kalau kamu merasa kagum, tapi itu bukan cinta." Saat Arini berusaha menjaga batas, Devan malah menariknya ke dalam pelukan dengan tegas. "Kalau belum percaya, tidak apa-apa. Aku akan buktikan ke Tante Arini kalau aku tidak salah paham dengan perasaanku sendiri."
View More"Mama yakin ini sudah selesai semua, Ma?"
Suara Rian pecah di tengah keheningan ruang tamu yang pengap. Pemuda dua puluh satu tahun itu berdiri kaku di ambang pintu, menatap tumpukan berkas bersampul merah di atas meja kaca. Di sudut kanan atas lembaran paling depan, cap bertuliskan Salinan Putusan tampak mencolok. Arini menyapu permukaan meja kayu itu dengan telapak tangannya yang halus, lalu mengangguk pelan. Ada helaan napas panjang yang terlepas dari dadanya, sebuah pelepasan atas beban yang ia pikul selama sepuluh tahun terakhir. "Sudah, Rian. Hari ini semuanya sudah resmi," suara Arini terdengar sangat tenang, hampir tanpa getaran, meski lingkaran hitam di bawah matanya menyembunyikan kelelahan. "Putusan pengadilan sudah keluar. Rumah ini sepenuhnya milik Mama, dan hak asuh kamu gak pernah jadi perdebatan karena kamu sudah dewasa." "Papa benar-benar gak datang waktu pembacaan tadi?" tanya Rian lagi. Matanya menajam, menyimpan amarah yang siap meledak kapan saja. "Gak perlu, Nak. Pengacaranya sudah mewakili," balas Arini cepat, menatap putranya dengan lembut. "Jangan diingat lagi. Perceraian ini memang jalan terbaik setelah dua puluh tahun Mama bertahan dalam pernikahan yang penuh kebohongan itu. Sekarang saatnya kita menata hidup baru." Pernikahan Arini dan Bramantyo selama dua dekade memang hanyalah sangkar emas yang menyiksa. Bramantyo yang narsis selalu membatasi langkah Arini, merendahkan harga dirinya, dan mematikan potensi Arini sebagai wanita. Puncaknya adalah ketika skandal perselingkuhan Bramantyo dengan Siska terkuak, membuat Arini akhirnya memberanikan diri menggugat cerai demi menyelamatkan sisa rasa hormat pada dirinya sendiri. Kini, dengan rumah hasil pembagian harta bersama ini, Arini bertekad membuka usaha toko kue kecil-kecilan demi menyambung hidup dan membiayai kuliah Rian tanpa tergantung lagi pada uang mantan suaminya. "Mama cuma mau rumah ini bersih hari ini," lanjut Arini merapikan letak kacamatanya. "Semua barang Papa yang masih tertinggal di kamar atas dan gudang harus keluar sebelum malam tiba. Mama gak mau melihat satupun kemeja atau jam tangannya besok pagi." Rian mengepalkan tangannya, lalu mengembuskan napas kasar. "Siap, Ma. Biar aku yang bereskan kardus-kardus pakaian di kamar atas. Tapi barang-barang di gudang samping cukup berat, Ma. Makanya aku tadi minta bantuan Devan." Arini sedikit mendongak, alisnya terangkat. "Devan? Teman kuliah kamu yang sering kamu ceritakan itu?" "Iya, Ma. Dia ada di luar, lagi markir mobilnya di garasi," ujar Rian sambil berbalik menuju pintu depan. "Katanya dia gak keberatan membantu sebentar sebelum kita berangkat ke kampus nanti. Aku panggil dia dulu, ya." "Eh, Rian, tunggu sebentar..." Arini sempat berniat menahan, merasa sungkan merepotkan orang luar. Namun, langkah Rian sudah keburu hilang di balik pintu kayu yang terbuka lebar. Arini buru-buru merapikan map-map berkas perceraian itu ke dalam laci meja. Namun sebelum laci tertutup rapat, suara langkah sepatu terdengar mengetuk lantai teras. "Pagi, Tante. Permisi." Sebuah suara berat, hangat, dan berwibawa menyapa dari arah pintu. Arini mendongak seketika. Di sana, berdiri seorang pria muda dengan postur tinggi tegap, mengenakan kemeja kasual abu-abu dan celana jins gelap. Rambutnya sedikit acak-acakan terkena angin, namun garis rahangnya tegas dan sorot matanya sangat jernih. "Ah... Pagi," Arini refleks berdiri, merasa canggung sambil merapikan bajunya yang agak kusut. "Kamu Devan, ya? Teman kuliah Rian?" Pria muda itu tersenyum tipis, melangkah masuk dengan sopan dan percaya diri. "Iya, Tante. Saya Devan. Maaf kalau kedatangan saya agak mendadak dan mengganggu waktu Tante pagi ini." "Sama sekali gak ganggu, justru Tante yang gak enak," Arini mengibaskan tangannya pelan. "Rian ini suka sekali merepotkan temannya. Padahal urusan memindahkan barang gini bisa Tante panggil tukang nanti sore." "Sama sekali gak merepotkan, Tante," potong Devan cepat. "Rian itu sudah seperti saudara saya sendiri di kampus. Lagipula, mengangkat kardus dan menggeser lemari tua cuma hitungan menit untuk saya." Rian muncul dari balik punggung Devan membawa kantong sampah besar. "Nah, kan, Ma! Devan ini anak arsitektur, tapi tenaganya gak kalah sama kuli bangunan. Dia biasa angkat bahan maket kayu dan besi sendirian." "Rian, bicaramu itu," tegur Arini pelan. Devan justru terkekeh. "Gak apa-apa, Tante. Yang dikatakan Rian memang benar. Jadi, mana barang-barang yang harus dipindahkan lebih dulu?" "Ada di gudang samping dan beberapa kardus pakaian di kamar atas, Dev," jawab Rian sambil menunjuk ke arah tangga. "Kita mulai dari kardus pakaian Papa dulu saja di atas." "Siap. Kamu memimpin jalan, aku ngikut dari belakang," ujar Devan. Sebelum melangkah menuju tangga, Devan menyempatkan diri melirik ke arah meja kaca. Pandangannya sempat tertahan beberapa detik pada map merah berisikan berkas putusan pengadilan agama. Arini yang menyadari hal itu dengan cepat menggeser posisi tubuhnya, menutupi meja dari jangkauan penglihatan Devan. Devan tidak mengungkitnya, ia hanya memberikan anggukan kepala yang sangat sopan sebelum menaiki tangga. Selama hampir satu jam setengah, rumah itu ramai oleh derap langkah kaki. Arini sibuk di dapur menyiapkan minuman dan kue bolu buatan sendiri. Saat Arini membawa nampan berisi tiga gelas es teh manis ke ruang tamu, Devan baru saja turun membawa kardus kayu besar yang tampak berat dengan peluh membasahi dahi dan ceruk lehernya. "Taruh di sini saja dulu, Devan," kata Arini tergesa-gesa. "Astaga, kamu sampai keringetan gitu. Kenapa gak minta bantuan Rian biar ngangkatnya berdua?" Devan menurunkan kardus itu ke lantai perlahan. "Rian masih memilah barang kecil di atas, Tante. “Kardus ini isinya cuma buku tua dan bingkai foto. Gak terlalu berat, kok," ucapnya walau napasnya sedikit terengah. "Tetap saja, kamu ini tamu," Arini mengambil selembar tisu bersih dan menyodorkannya pada Devan, bersandingan dengan segelas es teh manis. "Ayo minum dulu.Tante buatkan es teh!” "Terima kasih banyak, Tante," Devan menerima gelas tersebut. Jemarinya yang panjang dan kokoh sempat bersentuhan tanpa sengaja dengan jemari Arini. Ada sensasi hangat yang sangat asing mendadak menjalar di kulit Arini, membuatnya refleks menarik tangannya sedikit lebih cepat dari biasanya.Sentuhan panas dan pergerakan yang makin intens membuat suara gesekan kain dan napas berat menguasai seluruh ruangan. "Nghh... ah! Ahh..." Bramantyo mendongakkan kepalanya, memejamkan mata rapat-rapat saat gelombang gairah menguasainya. "Ah... ya, di situ... nghh... ahhn!" Desahan demi desahan bersahutan makin nyaring di tengah remangnya kamar hotel. "Nghh... ahh... terus... ah!..." Cengkeraman tangannya di rambut wanita itu makin erat. Ia membiarkan dirinya tenggelam oleh sentuhan yang brutal itu, mendesah pasrah di bawah kungkungan wanitanya, "Ahhn... nghh... ah..." Devan membeku melihat adegan dan rasa puas di wajah Bramantyo, seolah-olah pengkhianatan itu bukan sesuatu yang perlu disesali. Devan merasakan amarah yang memenuhi dadanya. "Dasar pengecut..." Tangannya mengepal. Ia ingin menarik Bramantyo keluar dan menuntut pertanggungjawaban atas semua luka Arini. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, semuanya berubah. Koridor itu menghilang, digantikan oleh h
Suasana supermarket mendadak riuh. Bisik-bisik dari kerumunan orang yang melingkari mereka semakin menjadi-jadi. "Duh, tega banget ya..." "Ternyata begitu kelakuannya, padahal kelihatan alim..." "Kasihan mantan suaminya ya, dikuras habis..." Dada Arini terasa sangat sesak. Air mata keluar di sudut matanya, namun Arini menahannya mati-matian. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan wanita yang selalu menindasnya. "Ibu, tolong jaga sikap Ibu. Jangan membuat keributan di tempat umum seperti ini," pinta Arini dengan suara bergetar. "Perceraian saya dan Mas Bramantyo sudah disahkan oleh putusan hukum Pengadilan Agama secara adil dan sah. Rumah itu adalah hak saya berdasarkan hukum." "Adil kamu bilang?!" cibir Ibu Hendrawan melangkah maju dengan mata membelalak marah. "Kamu yang menjebak anak saya dengan pengacara murahanmu itu! Dan yang lebih menjijikkan lagi, Bramantyo cerita ke saya kalau kamu sudah berani memasukkan laki-laki asing ke dalam rumah!" Ibu Hendrawan mengacungka
"Pagi, Ma! Ada tukang koran di depan…eh? Suara apa itu, Ma?" Rian melangkah masuk melewati pintu depan yang baru saja digesernya, tangannya memegang segulung koran. Suara pintu yang terbuka keras tadi memutus suasana di area dapur secara mendadak. Arini mendadak tersadar, bergerak mundur dua langkah dengan tergesa-gesa. Wajahnya merona merah, dadanya masih naik-turun mengatur napas yang sempat tertahan. Devan berdiri tegak kembali dengan sangat tenang, mengambil kopi di atas meja seolah tidak ada hal aneh yang baru saja terjadi. "L… Lho, Rian? Kamu sudah bangun?" tanya Arini dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha sekuat tenaga menetralkan raut wajahnya. "Sudah dari tadi, Ma. Ini tadi di luar ada tukang koran," Rian berjalan mendekat ke area dapur, lalu memicingkan mata melihat ekspresi ibunya. "Mama kenapa? Kok mukanya merah gitu?" "A-apa? Nggak... Gak apa-apa, Nak. Cuma agak panas di dekat kompor," jawab Arini cepat, mengibaskan tangannya di depan wajah. Devan men
Melihat ketetapan hati Devan yang meski sudah dinasihati, Arini menelan ludah.Devan masih muda, tentu memiliki sifat keras kepala, seperti halnya Rian. Arini sadar bahwa ia harus mempertegas batasan di antara mereka.Arini memalingkan wajahnya pelan, lalu memegang kedua dada Devan dan mendorongnya lembut namun tegas."Devan, kamu harus hormati batasan kita. Tante harap kamu tidak memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya. Kita tidak bisa seperti ini," ujar Arini menegaskan batasannya.Arini melepaskan diri dari dekapan Devan yang akhirnya mengendur pasrah. Dengan napas yang memburu dan perasan kacau yang menyelimuti dadanya, Arini melangkah mundur tergesa-gesa.Tanpa berani menoleh lagi ke arah Devan yang masih berdiri tenang dengan senyum tipisnya di dekat meja dapur, Arini berbalik dan berlari menuju kamarnya, menyisakan keheningan malam dan gemuruh hujan yang belum reda.Keesokan harinya, ketika fajar baru saja menyingsing dan hawa dingin sisa hujan semalam masih terasa, Arini suda






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.