Share

Bab 3

Penulis: Erlina
Kulit di bagian itu benar-benar bersih hingga terasa begitu mencolok.

Lindsey memalingkan wajah dan hendak pergi, tetapi Brandon masih terpaku pada pertanyaan itu.

"Kenapa waktu itu kamu mencariku?"

Lindsey menggenggam erat tas di tangannya, lalu memberanikan diri menatap Brandon. "Brandon."

Namun, pintu ruang privat itu justru didorong terbuka saat itu juga. Suara seorang anak perempuan yang jernih terdengar. "Papa ...."

Dari balik pintu terdengar suara Cecilia. "Sayang, papamu lagi cari jepit rambutmu. Lain kali jangan ditaruh sembarangan lagi ya."

"Ya, Mama."

Wajah Lindsey seketika pucat pasi. Dia mundur beberapa langkah dengan panik, lalu buru-buru berbalik dan pergi.

Saat melewati Cecilia, Cecilia tersenyum kepadanya.

Cecilia begitu dewasa, anggun, dan tahu bagaimana menempatkan diri. Hal ini membuat Lindsey yang masih bersikeras mencari sebuah jawaban terlihat semakin kekanak-kanakan.

Di luar sedang turun hujan deras. Lindsey langsung menerobos ke tengah hujan tanpa memedulikan apa pun, lalu asal menghentikan sebuah taksi.

Cuaca awal musim semi cukup dingin. Bibirnya sampai memucat karena kedinginan. Tepat saat itu, sahabatnya, Jinny, menelepon.

"Gimana? Kalian sudah ketemuan? Kamu sudah dapat jawabannya?"

Lindsey terdiam sambil menatap hujan deras di luar. Dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Jinny menghela napas di ujung telepon. "Menurutku, kamu seharusnya nggak usah datang malam ini. Dia sudah menikah, bahkan sudah punya anak."

"Lindsey, jangan marah kalau aku bicara agak kasar. Tapi tindakanmu benar-benar rendahan. Kamu seolah sengaja mengejar-ngejar untuk jadi pelakor. Jangan merendahkan dirimu seperti ini."

Sebutan "pelakor" terasa seperti cap penghinaan yang langsung membuat tubuh Lindsey menegang.

Jinny adalah sahabat terbaiknya. Kalau bukan karena terlalu kecewa, dia tidak akan berbicara sekeras ini.

Bibir Lindsey bergetar beberapa kali. Dia menggenggam ponselnya erat-erat, lalu menunduk dan berkata pelan, "Nggak akan lagi."

Sebelum bertemu dengan Brandon, dia tidak bisa melepaskan rasa penasarannya. Dia diputuskan dengan cara yang begitu menyakitkan. Luka itu menumpuk sedikit demi sedikit hingga berubah menjadi duri yang tersangkut di tenggorokannya.

Memuntahkannya akan terasa sakit, tetapi menelannya akan membuatnya mati.

Sesampainya di rumah susun kontrakan, air hujan masih menetes dari dagunya. Lindsey mengambil handuk dan mengusap rambutnya dengan tatapan kosong.

Jinny mengambil obat penurun panas dan buru-buru menyerahkannya. "Aku masuk sif malam hari ini. Sebentar lagi harus ke rumah sakit. Kamu minum obat dulu biar nggak sampai flu."

Lindsey dan Jinny sudah saling mengenal sejak kecil. Mereka sama-sama berasal dari desa. Nilai Jinny jauh lebih bagus daripada Lindsey, tetapi pilihan jurusan yang dia tulis saat mendaftar kuliah tahun itu kurang tepat.

Akhirnya, dia ditempatkan di jurusan keperawatan di sebuah universitas ternama, yang sering menjadi bahan candaan warganet.

Lindsey sendiri mengambil jurusan bisnis perhiasan. Dulu, dia dan Jinny sebenarnya sama-sama masuk ke sekolah terbaik hanya karena sekolah mereka ingin mengejar kuota untuk masuk SMA unggulan. Begitu lulus, mereka langsung harus mencari kerja sendiri. Nama besar sekolah itu ternyata hanya berguna selama masih menjadi siswa.

Tubuh Lindsey masih basah kuyup. Dia mandi terlebih dahulu, lalu membersihkan kamar mandi yang sempit itu. Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Seseorang dari grup kampus menandai namanya.

Sebagian besar teman sekelasnya berasal dari keluarga kaya. Lindsey terlihat sangat pendiam jika dibandingkan dengan mereka. Selain masalahnya dengan Brandon yang dulu sempat menjadi buah bibir, keberadaannya hampir tidak pernah diperhatikan. Hanya wajahnya yang sesekali dijadikan bahan pembicaraan.

[ Lindsey, sudah ketemu Brandon? Dia bilang apa? ]

[ Jangan pura-pura nggak baca. Semua orang tahu apa yang kamu lakukan dulu. ]

[ Kalian nggak datang ya? Aku ada di sana. Lucu banget, Brandon bahkan kayak nggak kenal dia. Dia malah tanya Lindsey, untuk apa mencarinya? ]

[ Hahahaha. ]

Lindsey sudah terbiasa dengan kata-kata menyakitkan seperti itu. Selama bertahun-tahun dia tetap berada di grup itu hanya untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi tentang kehidupan Brandon sekarang. Dia selalu ingin menuntut sebuah jawaban.

Sekarang, sudah tidak perlu lagi. Dia keluar dari grup, lalu lanjut membersihkan sisa air di kamar mandi dengan tenang.

Setelah seluruh rumah selesai dibersihkan, ponselnya kembali berdering. Begitu melihat nama yang tertera di layar, dia tidak mengangkatnya.

Namun, telepon itu kembali berdering untuk kedua kalinya. Rasanya seolah, jika dia tidak mengangkatnya, telepon itu akan terus berbunyi.

Akhirnya dia menekan tombol jawab. Di ujung telepon adalah kakak laki-lakinya.

"Lindsey, lusa Ibu ulang tahun. Sudah dua tahun kamu nggak pulang. Kamu masih marah karena masalah rumah sakit jiwa itu? Ibu melakukan semuanya demi kebaikanmu. Kamu tahu sendiri, Ibu paling menjaga harga diri."

Jari Lindsey tanpa sadar mencungkil-cungkil sofa. Dia tidak ingin membahas masalah itu. "Dia sendiri yang bilang, anggap saja dia nggak punya anak perempuan sepertiku."

Di seberang sana hening beberapa detik, lalu terdengar tawa dingin. "Waktu itu kamu bahkan nggak dapat ijazah kelulusan. Selama setahun lebih, keluarga yang menghidupimu. Kamu sendiri tahu gimana kondisimu waktu itu."

"Orang-orang sampai menunggu untuk melihat keluarga kita dipermalukan. Sekarang Ayah dan Ibu sampai nggak berani tatap muka sama tetangga waktu keluar rumah. Apa gunanya nilai bagusmu? Sekolah tinggi-tinggi, tapi nggak dapat apa-apa."

Lindsey seolah tersulut oleh perkataan kakaknya. "Biaya kuliahku selama bertahun-tahun semuanya kubayar sendiri dari hasil kerja paruh waktu!"

"Selama setahun di rumah, aku cuma menghabiskan 6 juta uangnya dan sampai sekarang dia masih mengungkitnya! Berkali-kali terus diungkit! Bukannya selama ini aku terus kirim uang ke rumah? Masih kurang juga? Aku nggak mau pulang!"

Setelah menutup telepon, dadanya terasa membara, sementara seluruh tubuhnya dipenuhi rasa tak berdaya.

Malam itu dia benar-benar demam. Pipinya terasa panas membara. Dia berbalik dan memeluk selimut di dadanya, lalu terbatuk beberapa kali. Dia membenamkan wajahnya ke dalam selimut. Tak lama kemudian, kain itu basah oleh air mata.

Dengan susah payah, dia mengambil obat dari laci dan langsung menelannya tanpa air. Sekali lagi, dia memimpikan hal yang sama.

Dalam mimpi itu ada masa muda yang indah, sekaligus kenangan sedih dari masa pertumbuhannya.

Brandon menggendongnya melewati jalan pegunungan. Ketika mendengar isak tangisnya dari belakang, dia menghibur, "Masih dua jam lagi sebelum langit gelap. Kenapa nangis? Aku nggak bakal ninggalin kamu di sini kok."

Lindsey selalu berharap menjadi seseorang yang dipilih. Namun pada akhirnya, Brandon tetap meninggalkannya di tempat itu.

Demamnya baru turun pada pukul 7 pagi. Saat tiba di kantor, kepalanya masih terasa sangat pusing. Dia dipanggil ke ruang bos. Dia sudah mengenal bosnya sejak kuliah. Bosnya ini memiliki beberapa rumah lelang.

Dulu, Lindsey tidak mendapatkan ijazah kelulusan, lalu menghabiskan satu tahun di kampung halamannya tanpa melakukan apa-apa. Ketika kembali ke ibu kota, dia direkrut oleh rumah lelang. Selama kuliah, dia memang sudah bekerja paruh waktu di sana. Bosnya cukup baik kepadanya.

Bosnya, Chandra, saat ini sedang menelepon. Setelah menutup telepon, dia menatap Lindsey. "Klien yang akan kita temui hari ini klien besar. Bawa semua barang terbaik yang selama ini kita simpan."

Lindsey mengangguk. Saat mengikuti bosnya naik mobil, dia terbatuk dua kali.

"Nggak enak badan?"

"Cuma flu ringan. Uhuk, uhuk ...."

Saat batuknya sedang sangat parah, gerbang kompleks vila terbuka. Setelah melihat orang yang berdiri di depan pintu, Lindsey seolah membeku di tempat.

Cecilia tampak begitu menawan, anggun, dan tenang.

Seseorang menyambut mereka masuk.

Ruang utama yang megah dan mewah, para pelayan yang terlatih, serta seorang nyonya yang berpakaian elegan .... Semua itu adalah pemandangan yang hanya pernah Lindsey lihat dalam mimpinya.

Namun, Cecilia sudah memilikinya sejak lahir.

Chandra meletakkan semua barang yang dibawa di atas nampan. Lindsey kemudian menata nampan itu di atas meja ruang tamu.

Barang-barang yang sampai ke rumah lelang sebenarnya sudah lebih dulu diseleksi oleh keluarga-keluarga konglomerat lama. Hanya barang yang tidak mereka pilih yang akhirnya bisa masuk ke rumah lelang.

Keluarga Lesmana sangat berpengaruh. Apa yang diinginkan Cecilia tentu harus merupakan barang yang benar-benar istimewa dan tidak ada duanya.

Cecilia tersenyum dan memandang mereka. "Pak Chandra, gimana kalau orang di sebelahmu ini yang menjelaskannya padaku? Aku nggak terlalu ngerti tentang batu giok."

Dia kembali menatap Lindsey dengan senyuman yang tetap sangat sopan. "Lindsey, nggak nyangka kamu kerja di ibu kota."

Lindsey mengenakan sarung tangan hitam dengan terampil. Di atas nampan tersusun 30 gelang giok, semuanya berkualitas tinggi. "Ya, aku sudah kerja selama dua tahun. Bu Cecilia lebih menyukai warna apa?"

Chandra sedikit terkejut mengetahui bahwa kedua perempuan itu ternyata saling mengenal.

Cecilia melirik gelang-gelang itu sekilas. Dia terlihat kurang berminat, seolah gelang-gelang bernilai puluhan miliar itu sama sekali tak berarti di matanya.

"Jelaskan semuanya saja. Toh itu pekerjaanmu, 'kan?"

Ketika kalimat itu terlontar, Chandra langsung merasa suasananya agak aneh.

Namun, Lindsey tetap menjelaskan satu per satu dengan sungguh-sungguh. Dia menghabiskan waktu 40 menit.

Cecilia sangat pintar membuat orang merasa tertekan. Saat Lindsey menjelaskan dengan serius, Cecilia tampak tidak terlalu memperhatikan dan sesekali bahkan memanggil pelayan untuk berbicara sebentar.

Lindsey beberapa kali harus berhenti, lalu melanjutkan penjelasannya.

Bel pintu berbunyi. Cecilia mengangkat tangan untuk menghentikan penjelasan Lindsey, lalu pergi sendiri membukakan pintu.

Dari luar terdengar suara seorang anak. "Mama, hari ini Papa ajak aku naik kuda poni."

Sesaat kemudian terdengar suara Brandon, dengan nada penuh kasih sayang. "Anak ini yang ngotot mau pergi."

Hari ini gaya berpakaian Brandon lebih santai, hanya kemeja putih sederhana dengan celana hitam. Lengan kemejanya digulung sedikit, memperlihatkan garis lengan yang tegas. Tanpa kesan tajam seperti biasanya, dia seperti kembali menjadi pemuda yang penuh percaya diri dan bebas seperti dulu.

Lindsey mengalihkan pandangannya. Tangannya tetap tenang memegang gelang yang menunggu untuk dijelaskan.

Namun, Cecilia seolah sudah melupakan urusan itu.

Brandon akhirnya bertanya, "Ada tamu di rumah?"

Barulah Cecilia teringat bahwa dia sudah membiarkan Lindsey dan bosnya menunggu selama sepuluh menit.

"Ya. Kamu minta aku pilihkan gelang buat Ibu, 'kan? Nggak nyangka yang datang menawarkan barang justru Lindsey. Aku juga agak kaget."

Ujung jari Lindsey sedikit menegang. Akhirnya, dia tahu kenapa dirinya tidak menyukai Cecilia.

Meskipun Cecilia tidak pernah melakukan apa pun kepadanya, setiap ucapan dan gerak-geriknya selalu membuat Lindsey merasa rendah diri, seolah pekerjaan yang layak dan terhormat ini begitu tidak berkelas di mata mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 43

    Jinny menguap. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya."Aku ketemu orang malang yang wajahnya lumayan ganteng. Kalau aku bisa membantu, ya aku bantu saja.""Jinny, jangan terus-terusan bermulut tajam tapi berhati lembut."Jinny langsung memeluk Lindsey. Dia memejamkan mata, menyembunyikan b

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 42

    Sepanjang pagi, Lindsey terus merasa tidak fokus. Dia akhirnya sekalian memblokir nomor Jason. Lagi pula, dia akan pindah rumah dan tidak boleh membiarkan Keluarga Tanoto mengetahui tempat tinggal barunya.Dia memberi tahu Jinny tentang hal itu. Jinny setuju dan bersumpah tidak akan membocorkan alam

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 41

    Jinny mengorek telinganya. "Nama lengkapnya Logan siapa?"Lindsey buru-buru hendak mengambil kartu nama yang diterimanya semalam, tetapi tiba-tiba teringat bahwa kartu itu sudah dirobek-robek dan dibuang oleh orang gila.Namun, Jinny sudah menunduk dan mulai mencari informasi. Tak lama kemudian, dia

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 40

    Sialnya, hari ini dia mengenakan celana kulot berwarna terang dan kaus lengan pendek berwarna krem. Dia sudah menendang Brandon dua kali, tetapi tetap tidak berhasil membuat pria itu menjauh. Sebaliknya, tubuhnya malah terasa panas karena marah.Kaki celana kulotnya menjuntai ke bawah, memperlihatka

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 39

    Lindsey seolah terpaku hingga tak mampu bergerak. Seluruh tubuhnya seakan hendak menjerit. Dia perlahan menoleh ke arah Brandon, wajahnya seketika pucat pasi.Namun, Brandon benar-benar mengira dia sedang mempertimbangkan perkataannya dengan serius. Saat ini dia masih memeluk Lindsey, dan ketika Lin

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 38

    Mobil Brandon terus mengikuti dari belakang. Jaraknya memang agak jauh, tetapi Logan tetap menyadarinya. Dia tidak membongkar hal itu dan juga tidak bertanya kepada Lindsey.Saat Logan mengantar Lindsey sampai ke depan kompleks rusunnya, Lindsey ternyata sudah tertidur sambil bersandar di kursi penu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status