LOGIN和總裁老公隱婚六年,他始終不願讓兒子叫一聲爸爸。 在他又一次因為女秘書錯過兒子生日後。 我終於拿出了離婚協議,帶着兒子永遠離開。 向來冷靜的男人卻失了控,瘋了似的闖進辦公室詢問我的去向。 只是這一次,我和兒子都不會回頭。
View MoreAllahu Akbar … Allahu Akbar. Laila Ila Hailahu Allahu Akbar … Allahu Akbar Walillah Ilham.
Takbir menggema diseluruh jagat raya. Sementara, aku masih mengumpulkan botol bekas untuk dijual. Besok lusa sudah ditutup tempat pengepul karena lebaran tiba. Sedangkan aku masih sibuk mencari uang untuk sesuap nasi. Memenuhi kebutuhan kelaurga kecilku. Padahal, lebaran esok hari sudah tiba. Di sini aku masih bergelut dengan peluh, dan keringat yang bercampur debu.
Ibu sudah tak lagi mampu mencari barang-barang bekas. Usaha ini terpaksa aku jalankan untuk bertahan hidup. Sudah sejak dari kemarin hujan mengguyur kotaku. Bahkan, di hari terakhir menjelang puasa ramadan tetap saja air membasahi bumi.
"Kamu mau apa? Penampungan sudah tutup sejak sore tadi. Tidak tidak lagi menerima barang bekas." Mang Damin berdiri menatapku acuh tak acuh. Pria paruh baya itu, tampak akan meninggalkan tempat penampungan barang bekas.
"Tapi, Mang. Aku dan ibuku perlu makan malam ini besok sudah hari lebaran. Tolong buka sebentar, ya," pintaku memelas. Berharap Mang Damin punya hati nurani, untuk menerima barangan rongsokan yang kubawa.
"Tidak bisa. Saya juga mau takbiran malam ini. Silahkan bawa kembali seminggu lagi kemari."
Tubuhku terasa lemas saat Mang Damin menolak barang rongsokan yang kubawa. Sudah seharian aku berkeliling untuk mencari botol bekas. Agar bisa menghasilkan uang untuk makan. Namun, semua pengepul sudah tidak lagi menerima dengan alasan malam takbiran.
"Mang, tolonglah. Aku dan ibuku bisa mati kelaparan kalau tidak ada uang buat kami makan lusa. Besok pengepul sudah tutup dan waktu akan dibuka seminggu lagi kami harus makan apa, Mang?"
"Bukan urusanku. Kalian mau makan apa. Pergi sana!" Usir Mang Damin. Pendiriannya tetap kekeh tidak mau menerima barang milikku.
Dia segera menutup pintu gudang pengepul dengan kuat. Lelaki itu, segera pergi berlalu tanpa rasa bersalah. Aku duduk terdiam sambil menenteng karung yang berisi barang rongsokan. Sedangkan Rafa, masih tetap dalam gendongan di punggung belakang. Dia sudah kehujanan dan kedinginan sejak tadi pagi. Tapi anakku yang malang masih betah tidur dalam gendongan. Mungkin Rafa tahu kesusahan orang tuanya. Harus berjuang sambil mencari nafkah.
Tubuh mungilnya pun sudah basah kuyup karena rintik hujan. Sungguh, tidak tega melihat anak malang seperti dia. Masih berumur empat tahun harus ikut merasakan derita ayahnya. Mencari sesuap nasi demi bertahan hidup. Apa hendak dikata. Nasibku yang malang tak berubah meski sudah berusaha bekerja keras.
Bukan aku tak sayang padanya, namun pilihan tidak ada lagi. Sejak umurnya tiga bulan, Rafa sudah ditinggal ibunya. Sakira pergi meninggalkanku bersama Rafa hanya karena tak tahan hidup susah. Dia memilih laki-laki lain yang lebih kaya.
Kini, sudah empat tahun berlalu. Namun, tak pernah kudengar lagi beritanya. Saat terakhir kita bertemu, dia sudah menikah dengan pria idamannya. Ya, karena aku miskin dia berpaling dan meninggalkan Rafa yang masih bayi merah.
"Mas, pokoknya aku minta cerai sama kamu. Aku tidak tahan hidup susah terus menerus denganmu, Mas. Sampai kapan hidupku begini. Sampai kapan, Mas," ucap Sakira kala itu. Matanya memerah menatapku.
"Sabar, Sakira. Mas juga lagi berusaha kerja agar hidup kita enak dan bahagia."
"Kalau begini terus aku tidak tahan, Mas. Kamu cuma kerja sebagai buruh harus menanggung ibumu yang penyakitan itu. Rumah juga masih mengontrak. Kapan kita senang, Mas."
"Istighfar, Kira. Ibu itu orang tua kandungku. Kamu gak boleh ngomong begitu. Hanya dia satu-satunya keluargaku. Kalau bukan aku, lalu siapa lagi yang akan merawatnya."
"Usaha dong, Mas. Usaha!" Teriak Sakira.
Tangisnya pecah ketika suaranya melengking tinggi. Sementara, bayi Rafa menangis karena mendengar teriakan ibunya. Mungkin dia haus karena sejak tadi Sakira belum memberinya ASI.
Kuraih tubuh Rafa yang terus menangis. Memberikan kepada Sakira. Namun, dia menolak untuk menyusui. Berbagai alasan dia katakan.
"Sakira, Rafa menangis. Tolong kamu susui dia," ucapku lembut.
"Aku tidak mau. Berikan saja dia minum susu formula."
"Astagfirullah, Sakira. Kamu itu ibunya, masa tega membiarkan Rafa minum susu formula."
"Mulai sekarang kamu yang urus Rafa, Mas. Kamu bisa membeli obat untuk ibumu. Tapi tidak bisa memberikan susu untuk anak sendiri."
"Ibu sedang sakit, Kira. Kalau dia tidak diberi obat maka bisa semakin parah penyakitnya."
"Itu urusanmu, Mas. Pokoknya aku tidak mau menyusui Rafa."
Buk!
Sakira langsung pergi ke kamar, lalu membanting pintu sekuatnya. Ibu yang mendengar pertengkaran kami pun langsung ke luar dari kamar.
"Ada apa lagi to, Le. Kamu bertengkar lagi sama istrimu?"
"Ndak, Bu. Kami tidak bertengkar kok. Ibu istirahat saja nanti malah capek," ujarku.
"Kalau hidup Ibu jadi beban buatmu lebih baik Ibu pergi saja dari sini. Ibu tidak ingin rumah tanggamu hancur gara-gara Ibu."
Ya Tuhan!
"Ibu gak usah ngomong gitu. Aku akan menjadi anak durhaka bila Ibu pergi."
Sebagai suami, tentu aku tidak ingin terus membela istri. Bukan tak mau, tetapi keadaanlah yang memaksa tetap begini. Siang dan malam sudah bekerja keras membanting tulang. Demi menutupi semua kebutuhan. Namun, nasib baik belum berpihak kepadaku.
"Itu Rafa kenapa, Le? Kok sedari tadi menangis terus?"
"Rafa haus, Bu. Sakira tidak mau menyusuinya."
"Ya Allah, kenapa ibunya gak mau menyusui, Danu?" tanya ibu lagi.
Aku bergeming. Tangis Rafa terus saja berpanjangan. Membuat hatiku terasa sakit. Bukan tak ingin membelikan dia susu, namun keuanganku tidaklah cukup. Jangankan untuk membeli susu formula, untuk makan saja harus bekerja keras.
Dari pagi sampai jam lima sore aku bekerja sebagai buruh bangunan. Selesai itu, masih harus mencari barang rongsokan dan menjual kepada pengepul barang bekas.
Gaji hasil kerja menjadi buruh kuberikan kepada Sakira untuk memenuhi kebutuhan. Uang hasil mencari barang rongsokan aku berikan pada ibu untuk membeli obat. Ibu divonis dokter terkena penyakit paru-paru. Perobatannya tidak boleh telat selama enam bulan. Setiap satu Minggu sekali, aku harus menebus di puskesmas terdekat.
"Ayah, Rafa lapar," ucap Rafa membuka mata.
"Sabar, ya, Nak. Sebentar lagi kita akan beli makanan."
"Ayah, apakah malam ini kita akan makan enak? Sekarang malam takbiran. Besok hari raya. Teman-temanku semuanya sudah membeli baju baru buat besok. Kapan aku bisa punya baju baru juga, Yah?" tanya Rafa dengan mata yang berbinar.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah pria yang tak berguna. Bahkan, untuk membeli sepotong baju saja tidak bisa."
Kupeluk tubuh kurus Rafa. Sembari menangis di pelukannya. Jujur, ingin sekali memberikan semua apa yang dia inginkan. Akan tetapi, keadaan ekonomiku tidak bisa membuatnya tertawa seperti anak-anak yang lainnya.
"Ayah, kenapa nangis? Rafa gak papa kok kalau Ayah belum bisa belikan baju untuk Rafa. Baju yang lama pun tak apa-apa."
"Ayah janji, bila nanti punya uang banyak akan membelikan Rafa baju baru."
"Iya,Yah. Rafa ngerti kok Ayah belum punya uang."
Oh Tuhan! Bagaimana anak sekecil Rafa bisa mengerti. Sungguh, aku malu telah menjadi ayah yang gagal. Andai, saja keajaiban bisa terjadi. Aku akan tak meminta banyak kecuali baju lebaran.
Suara takbir masih terdengar bergema dari arah masjid. Aku dan Rafa pergi meninggalkan tempat penampungan dengan langkah gontai. Usaha untuk menjual barang rongsokan telah gagal. Rencananya, akan membelikan baju baru buat ibu dan Rafa bila barang bekas terjual.
Aku sudah mengumpulkan uang tabungan beberapa bulan lalu untuk persiapan lebaran. Ditambah sedikit lagi pasti bisa membelikan mereka baju baru. Dari tahun ke tahun ibu tak pernah memakai baju baru. Ingin sekali memberikan hadiah gamis. Walau harganya tidak mahal. Pasti ibu bahagia menerima pemberian dari anak laki-lakinya.
Bahkan, baju yang dia gunakan sudah robek sana sini. Tidak layak untuk dipakai. Namun, ibu tak pernah mengeluh. Dia mengerti keadaan ekonomi kita sangat sulit. Jangankan untuk membeli baju lebaran, untuk makan besok saja uang tidak cukup. Tempatku bekerja libur satu Minggu. Otomatis aku tidak bisa bekerja selama itu. Harus ada stok makanan di rumah, sementara hasil pencarian barang bekas belum terjual.
"Ayah, apakah kita akan pulang sekarang?" Rafa bertanya sambil menatapku.
"Iya, Nak. Kita akan pulang ke rumah. Maaf, Ayah belum bisa memberikan baju lebaran untuk kamu."
"Ndak apa, Yah. Rafa ngerti kok Ayah lagi gak punya uang. Rafa tidak akan minta apa-apa," ucap Rafa menghapus jejak air mataku. Senyumnya membuatku bersemangat terus berjuang merubah nasib.
Aku terus saja melangkah menyusuri jalan yang becek. Hujan masih enggan untuk berhenti. Meski gerimis masih turun membasahi bumi. Akan tetapi, tak menyurutkan langkah sebagain orang untuk mengumandangkan takbir. Menyebut kebesaran Allah. Setelah agak jauh meninggalkan penampungan barang rongsokan tiba-tiba suara yang tidak asing lagi menyapa. Membuatku seketika menghentikan langkah.
"Danu, tunggu!"
***
Bersambung.
我用了五年時間走到顧墨琛的身邊,可他卻用了一個晚上,就讓我的心血付諸流水。扯了扯嘴角,我還是想維持成年人的體面。打開門,我沒有回頭:「進來坐吧。」顧墨琛眼神一亮,立刻跟上了我的腳步。「兩顆糖,不加奶。」倒了杯咖啡放到顧墨琛的面前,我在另一個沙發上坐下。顧墨琛的聲音有些沙啞:「你還記得。」我笑了笑,沒有接話。「你既然來找我,離婚協議應該也看到了吧?」「我不要你分一半的財產,我只想要淘淘的撫養權。」顧墨琛呼吸一頓,抬起頭看我:「林晚依,我不同意離婚。」我不置可否地點點頭,早就預料到了。「沒關係,我可以等,分居三年也可以了。」顧墨琛重重
9那晚,顧墨琛在廚房的地上坐了一夜。這是他第一次這麼狼狽。從前不管他多晚回家,都會有盞燈是為他而亮。都會有個人坐在沙發上,安靜地等著他回家。現在,都沒有了。偌大的別墅只剩下他一個人,孤單地等著天亮。第二天,顧墨琛連衣服都沒有換,直接來到了公司。推開辦公室的門,我的工位早已被人收拾整齊。乾淨得刺眼。桌上,一份單薄的文件靜靜放著。像是潘朵拉的魔盒在等著人開啟。顫抖著手翻開,一行大字映入眼前。【男女雙方因性格不合,致使夫妻已確感情破裂,無和好可能。】【經雙方協商自願離婚,並就此達成一致意見訂立如下協議……】【男方:顧墨琛】【女方:林晚依
好不容易熬到宴會結束,和主辦方打完招呼後,顧墨琛就逃也似地離開了。等回到家,醉意也湧了上來。顧墨琛扶著頭,搖搖晃晃地推開門。「林晚依,倒水。」話落,一室寂靜。顧墨琛抬起頭,看著黑暗的大廳,這才反應過來。我和兒子昨天就離開了。打開燈,顧墨琛去了廚房。從冰箱裡拿出一罐汽水,關門的時候才發現,冰箱門上不知從何時起貼滿了大大小小的貼紙。大多是孩子喜歡的動漫形象。看著這些平時覺得幼稚過頭的圖畫,顧墨琛突然沒忍住輕笑了一聲。眼前好像又出現了淘淘躡手躡腳地走進書房的場景。他拿著兒童書,小心翼翼地來到顧墨琛的面前,說:「爸爸,你可以陪我一起看書嗎?」而他
眼前浮現出我和兒子離開時決絕的背影,顧墨琛心跳得很快。也許,他應該停止自己幼稚的行為。也許,經過這麼多年,我已經變了。也許……7晚上六點,顧墨琛帶著徐青青參加了合作方舉辦的晚宴。已經一天沒有看到我了,顧墨琛拿著酒杯有些心不在焉。這次是不是自己太過分了?腦海中突然閃現出這句話。顧墨琛抿了抿唇,將杯中的酒一飲而盡。掏出手機,正打算給我發訊息,卻突然被迎上前的合作方打斷。「顧總,上次的方案……」顧墨琛一愣,立刻將其他心思按下,進入工作模式。正當幾人相談甚歡的時候,一道不和諧的聲音突然插了進來。「顧總,這個甜點好好吃啊。」徐青青拿著一個巧克力
6 看著郵件上面碩大的四個字,顧墨琛突然有種不好的預感。正要點開查看,徐青青搖曳生姿地走進來。「顧總,這是上次的報表。」徐青青將檔案放到桌上,輕車熟路地走到顧墨琛身邊,一隻手搭在他的肩上。以前,這是兩人心照不宣的曖昧。現在,顧墨琛突然覺得有些不適。坐直身子,顧墨琛翻開檔案,只看了一頁就眉心皺起。一整頁下來,除了格式,基本上沒什麼對的。甚至連部門名稱都打錯。猛地將檔案摔在桌上,顧墨琛語氣冰冷地開口:「這份報表誰做的?連基本的工作能力都沒有嗎?」「把陳經理給我叫來,他們人事部是怎麼招人的!」徐青青臉色刷的一下變得難看。「顧總,這是我做的。」所
徐青青驚訝了一聲,問道:「林助理,你怎麼會在顧總家?」聞言,我第一時間將兒子拉到身後,擋住他的視線。「我……」「他們是我的親戚,暫時借住在這裡。」才開了個頭,顧墨琛就打斷了我的話。拿著行李箱的手不斷縮緊。雖然已經不是第一次。可每次聽到,心臟都會被刺痛。我正要說話,兒子卻先一步開口:「叔叔好。」我不敢置信地轉過頭,卻只看到兒子微紅的眼眶。「媽媽,我們走吧。」所有的話語都在此刻哽在喉頭,我扯了扯嘴角輕聲回道:「好。」擦肩而過的瞬間,顧墨琛拉住我。4他不敢置信地看著我:「淘淘他……叫我什麼?」我笑了笑,覺得諷刺。「這不是你一直想要的嗎?顧總?」隱婚六年,顧墨
配圖是一張高檔餐廳的美食照片。儘管沒有露臉,但我還是注意到了右上角不小心露出來的婚戒。那是我和顧墨琛結婚時,特意挑的。只不過,他向來都只戴在左手的小拇指上。因為那代表著單身。多諷刺啊。象徵婚姻的戒指是顧墨琛單身的符號。兒子的六歲生日,他在高檔餐廳和情人燭光晚餐。所有的酸楚在這一刻都化成了平靜。我按了個讚,將手機放下。轉頭替兒子戴上生日帽。「淘淘,生日快樂。」燭光下,兒子閉上眼雙手合十。「我的生日願望是,永遠和媽媽在一起。」我拿起手機,將這一刻定格。離開的念頭也在此刻徹底長成參天大樹。「好,媽媽答應你。」那天晚上,我們誰都沒有再提顧墨琛。好像這個家從來都只有兩
和總裁老公隱婚六年,他始終不願讓兒子叫一聲爸爸。在他又一次因為女秘書錯過兒子生日後。我終於拿出了離婚協議,帶著兒子永遠離開。向來冷靜的男人卻失了控,瘋了似的闖進辦公室詢問我的去向。只是這一次,我和兒子都不會回頭。1「陳經理,下個月我就要去海外進修了,這是我的辭職報告。」經理詫異地看著我:「怎麼這麼突然?」我拿出早就想好的說辭:「孩子的父親在澳洲,我打算帶孩子過去,一家人團圓。」經理點點頭:「也好,你在國內一個人帶孩子也實在辛苦,我們都以為你是單親媽媽呢。」我笑了笑,以前不是,但馬上就是了。一出門,剛好撞見迎面走來的顧墨琛和徐青青。顧墨琛是我的老闆,更是我孩子的父親