Mag-log in休暇が予定より早く終わり、私は自分のアパートに戻った。 ところが、部屋の中には見知らぬ女性がいて、私を泥棒だと言い放った。 「旦那が買ってくれた新居に引っ越して2日目で泥棒に入られるなんて、最悪だわ!君に礼儀を教えてやる」 彼女に殴られ、血を吐きながら全身傷だらけになるまで暴行された。命が危うくなるまで暴力は続き、彼女は責任を逃れるため、果てには私を壁に埋めようとした。 悲鳴を聞いた隣人が通報し、私は救助されて病院で目を覚ました。 しかし、駆けつけた母が最初に言った言葉はこうだった。 「あんたの家はいとこに譲ったのよ。彼女はいとこの奥さんよ。謝罪文にサインしないなら、家族の縁を切るからね」
view moreBelinyu, Bangka
Agustus 2000“Kalau uangnya belum ada, adikmu ikut kerja besok.”
Tangan Nadya Thung berhenti di atas buku utang.
Bahar berdiri di seberang meja warung dengan rokok di bibir. Lumpur tambang mengering hingga lutut celananya. Di belakangnya, pompa pencucian timah meraung tanpa henti. Setiap truk melintas, gelas-gelas di rak kayu beradu.
Riko berdiri di samping Nadya dengan seragam SMP yang mulai sempit. Kedua tangannya mengepal.
“Adikku masih sekolah,” kata Nadya.
“Sekolah dak bisa bayar utang.”
“Ibu akan bayar setelah pekerja menerima upah dan melunasi utang warung.”
Bahar tertawa pendek. “Orang berutang ngomongnya selalu sama.”
Nadya kembali melihat buku di hadapannya. Hampir setiap hari ia membantu Lina mencatat pesanan kopi, nasi, rokok, dan minyak tanah. Ia mengenali angka-angka itu lebih baik daripada Bahar.
Tiga bulan lalu, Lina meminjam Rp380.000 untuk menambah persediaan warung. Dalam buku Bahar, jumlahnya sudah berubah menjadi Rp620.000.
Dua pembayaran belum dicoret. Ada bunga yang tidak pernah disepakati dan biaya satu drum solar yang bukan milik mereka.
Nadya menarik pensil dari sela buku.
“Hitunganmu salah.”
Lina meninggalkan tungku di belakang warung. Aroma asap melekat pada rambut dan pakaiannya.
“Nadya,” bisiknya. “Sudah.”
Nadya menggarisbawahi tiga angka dalam buku.
“Utang kita tiga ratus delapan puluh ribu. Bukan enam ratus dua puluh.”
Bahar menjentikkan abu rokok ke lantai.
“Kau mau mengajariku berhitung?”
“Kalau memang perlu.”
Jari Lina mencengkeram lengan Nadya.
Beberapa pekerja di bangku luar mulai menoleh. Seorang lelaki sedang membalut telapak tangannya dengan potongan karung beras. Lelaki lain mengaduk kopi sambil tersenyum tipis. Tidak seorang pun bergerak membela mereka.
Bahar meraih buku itu dan membantingnya ke meja.
“Besok adikmu ikut ke lokasi.” Ia menunjuk Riko dengan rokok. “Angkat selang sampai utang lunas.”
“Tidak.”
Bahar menyeringai. “Kau mau menggantikannya?”
Tatapannya turun dari wajah Nadya.
Nadya lebih tinggi daripada kebanyakan gadis seusianya. Tubuhnya ramping dan liat karena setiap hari mengayuh sepeda serta membantu di warung. Kulitnya kecokelatan oleh matahari Bangka. Seragam lamanya telah memudar dan mulai sempit di bahu karena tubuhnya terus bertambah tinggi.
Ketika pekerja tambang menatap terlalu lama, Nadya biasanya mendekap tas ke tubuh. Hari itu ia tidak menunduk.
Tatapan Bahar bergerak semakin lambat.
“Kalau kau ikut,” katanya, “utang bisa selesai lebih cepat.”
Salah seorang pekerja tertawa kecil.
Bahar mengulurkan tangan ke dagu Nadya.
“Jangan sentuh anak Atek Thung.”
Ahin berbicara dari bangku belakang. Pekerja tua bermata keruh itu tetap menghadap jalan.
Bahar menoleh. “Kau ikut campur?”
“Aku cuma bilang jangan sentuh.”
Bahar kembali menghadap Nadya.
“Bukunya nanti kubetulkan.”
“Sekarang.”
Jari mereka sama-sama menahan sampul buku.
“Lepas,” kata Bahar.
“Tidak.”
Riko maju setengah langkah.
Ahin mengisap rokoknya. “Kalau mau mengubah angka, cepatlah. Januar sebentar lagi datang periksa catatan.”
Wajah Bahar berubah.
Januar memang dijadwalkan datang pagi itu untuk memeriksa pembayaran dan persediaan solar. Bahar rupanya mengira masih memiliki waktu untuk memaksa Lina menerima jumlah tersebut.
Ia merampas buku dari tangan Nadya.
“Anak perempuan dak tahu diri. Baru bisa hitung sudah merasa paling pintar.”
Nadya menatapnya.
“Lebih pintar darimu mungkin.”
Suara motor terdengar dari ujung jalan.
Nadya mengenal suara itu. Januar beberapa kali datang ke warung untuk urusan tambang. Nadya pernah menyajikan kopi untuknya, tetapi mereka hampir tidak pernah berbicara.
Motor hitam berhenti dekat parit.
Januar turun dan menggantungkan helm pada setang. Usianya baru dua puluh empat tahun, tetapi nama keluarganya membuat pekerja tambang segera memberi jalan. Ia ikut mengurus tempat timbang, solar, serta pembayaran di beberapa lokasi milik keluarganya.
Bahar buru-buru meletakkan buku.
“Buku solar,” kata Januar.
“Nanti kubawa.”
“Sekarang.”
Bahar menunjuk Nadya. “Dia bikin ribut soal utang.”
Januar memperhatikan sampul buku yang nyaris terlepas, tangan Riko yang mengepal, dan Lina yang berdiri terlalu rapat dengan anaknya.
“Ada apa?”
“Cuma salah paham,” jawab Bahar.
Nadya membuka buku dan menunjukkan angka yang telah digarisbawahi.
“Dua pembayaran belum dicoret. Bunga ini dak pernah disepakati. Solar ini masuk ke lokasi sebelah.”
“Bukti pembayaran cicilan?”
Nadya mengeluarkan dua kertas kecil dari sela halaman.
“Yang satu Ahin tulis. Yang satu aku.”
Ahin mengangguk.
Januar meminta buku milik Bahar.
“Ketinggalan,” jawab Bahar.
“Kau menagih tanpa catatan?”
“Aku hafal.”
“Kalau hafal, kenapa jumlahnya berubah?”
Bahar akhirnya mengeluarkan buku kecil dari saku belakang. Januar membandingkan kedua catatan, lalu mengambil pensil Nadya dan mencoret angka akhirnya.
“Tiga ratus delapan puluh ribu.”
Lina mengembuskan napas.
“Betulkan,” kata Januar.
“Cuma salah tulis.”
“Kesalahan yang selalu menguntungkanmu?”
Bahar menunduk.
Januar melihat Riko.
“Kenapa dia mau dibawa?”
“Buat bayar utang.”
“Dia sekolah.”
“Banyak anak sekolah juga kerja.”
“Bukan kau yang menentukan anak siapa berhenti sekolah.”
Nada Januar tetap datar. Bahar justru tampak semakin kecil di hadapannya.
“Besok bawa semua buku ke rumah,” lanjut Januar. “Jangan pakai namaku untuk menambah bunga.”
Bahar mengangguk, lalu pergi.
Januar menyerahkan buku kepada Nadya.
“Masih kau yang pegang catatan?”
“Kalau Ibu sibuk.”
“Aku pernah lihat tulisanmu.”
Pandangannya jatuh pada seragam Nadya.
“Kelas tiga?”
“Iya.”
“Atek dulu juga cepat menghitung.”
Nadya mengangkat wajah. “Kau kenal Ayah?”
“Ayahku yang lebih dekat. Aku sering ikut ke tempat timbang.”
“Ayah mati tetap dengan utang.”
Lina mencubit pinggangnya.
Januar tidak tersinggung.
“Atek orang jujur.”
“Jujur dak membuat dia hidup lebih lama.”
Januar diam sejenak.
“Memang dak.”
Jawaban itu membuat Nadya terdiam. Januar tidak menghiburnya atau mengatakan bahwa orang baik selalu mendapat balasan. Ia hanya mengakui bahwa Atek telah mati meski tidak mencuri milik siapa pun.
Sebelum pergi, Januar melihat Riko.
“Sekolah yang benar.”
Riko mengangguk cepat.
Setelah motor Januar menjauh, Riko menyenggol lengan Nadya.
“Dia bela kita.”
“Dia menjaga namanya.”
“Tapi aku dak jadi kerja.”
“Karena dia melarang.”
“Itu sama saja.”
Nadya menutup buku utang.
“Cepat. Kita terlambat.”
Dalam perjalanan ke sekolah, pikirannya terus kembali pada kejadian di warung. Bahar hampir menyentuhnya. Lina menyuruhnya diam. Para pekerja hanya melihat.
Begitu Januar datang dan memeriksa angka, Bahar berhenti membantah.
Hari itu Nadya paham: angka yang benar pun bisa kalah jika tidak ada orang yang cukup kuat untuk membuat orang lain mengakuinya.
---
Sepulang sekolah, Nadya dan Riko membantu di warung sampai sore. Ketika tiba di rumah, motor Hendra sudah terparkir di halaman.
“Ko, cuci sepeda di luar.”
Riko memandangnya, tetapi tidak bertanya.
Rumah kayu itu bergetar ketika truk tambang melintas. Ruang tengah berbau rokok dan minuman basi. Televisi hitam-putih menyala tanpa suara.
Nadya masuk ke kamar. Pintunya tidak memiliki kunci karena Hendra melepas selotnya beberapa bulan lalu. Katanya, anggota keluarga tidak perlu saling mengunci pintu.
Nadya baru melepas ikat rambut dan membuka kancing paling atas seragam ketika papan lantai berderit.
Hendra berdiri di ambang pintu.
Ia masuk tanpa mengetuk. Tatapannya berhenti terlalu lama pada seragam Nadya yang belum sempat dirapikan. Nadya segera mengancingkannya kembali.
“Kau pulang terlambat.”
“Tadi bantu Ibu.”
“Bahar datang. Katanya kau mempermalukan dia.”
“Dia menambah utang.”
“Utang tetap utang.”
“Bukan berarti dia boleh mencuri.”
“Bahar bilang Januar bicara sama kau.”
“Dia periksa buku.”
“Apa saja yang dia tanyakan?”
“Soal Ayah.”
“Lalu?”
“Dak ada.”
“Jangan bohong.”
“Aku dak bohong.”
Hendra mengangkat tangan. Tubuh Nadya menegang, mengira tamparan akan datang. Namun jemari lelaki itu mengambil sehelai rambut yang terlepas dan menyelipkannya ke belakang telinga Nadya.
Gerakannya terlalu lambat.
“Kau sudah besar,” katanya. “Jangan sembarang bikin lelaki melihat.”
“Aku dak bikin siapa-siapa melihat.”
Hendra tersenyum.
“Perempuan selalu bilang begitu.”
Jarinya turun ke sisi leher Nadya.
Nadya mundur.
“Jangan.”
Hendra berhenti.
“Kau bilang apa?”
“Jangan sentuh aku.”
Di halaman, sebuah ember jatuh.
“Ce?” panggil Riko.
Hendra menoleh ke jendela, lalu kembali memandang Nadya.
“Mulutmu makin lancang setelah dibela lelaki.”
“Januar dak membela aku.”
Hendra mendekat sampai bau tembakau dan minuman basi memenuhi napas Nadya.
“Malam ini kita bicara.”
“Apa yang mau dibicarakan?”
“Cara kau tinggal di rumah ini.”
Ia berbalik dan keluar.
Riko muncul setelah pintu kamar Hendra tertutup.
“Ada apa, Ce?”
“Dak ada apa-apa.”
“Ce.”
“Pergi ganti baju.”
Riko mengatupkan rahang, tetapi akhirnya pergi.
Nadya menutup pintu. Gagangnya terasa longgar. Tidak ada selot atau kunci yang dapat dipasang.
Pagi tadi Bahar berhenti karena takut kepada Januar.
Malam nanti, Januar tidak akan berada di rumah.
Hanya ada Hendra dan sebuah pintu yang tidak dapat dikunci.
私の母は恐怖に満ちた目で康弘を見つめた。「ただ彼女を脅かすつもりだったんでしょ?最後にナイフで少し切って怖がらせるだけで、本当に殺すつもりなんてなかったはずだ!」どうして母はいつもそんなに愚かなんだろう。岡崎家の人々が言うことなら何でも信じる。彼らは私に高校卒業と同時に結婚しろと言った。相手の男は性格も良く、家庭も良いから、このチャンスを逃すのはもったいないと。母は私に絶食をさせてまで、強制した。もし実家の祖父母が駆けつけてくれなければ、私の人生はすでに台無しになっていた。私は徹と結婚したとき、祖母と祖父が2千万の結納金を要求した。それが徹の誠意を試すためだと信じて、母はその要求に従った。結婚式の日、私は部屋に閉じ込められ、徹が入れないようにされた。もし私が強硬でなかったら、私と徹はその日に離婚していたかもしれない。その時、私たちはまだ起業に成功していなかった。でも今、母が私の前に立って、ナイフを最愛の甥に向けても、私の心にはもはや何の波紋も広がらなかった。母はあっさりと康弘に押さえつけられ、康弘は手袋をした手で母をしっかりと掴み、母は必死に逃れようとした。「ダメ、娘を殺すわけにはいかない」ナイフはゆっくりと私の心臓に近づき、康弘の顔には興奮した表情が浮かんでいた。「会社の株は今、何億の価値がある。お金を手に入れたら、刑務所に行ったってどうでもいい。それでもみんな俺にへつらうさ」ナイフの先が私の肌を貫こうとしたその時、パトカーの音が響き、警察がドアを突き破って入ってきた。私は驚いた祖父母に微笑みかけながら言った。「康弘が一生刑務所にいるって言ったでしょ?本当に彼は一生刑務所にいることになったね。ははは、私の予言、どうしてこんなに当たるんだろう!」警察に続いて駆け込んできた徹が、私をしっかり抱きしめた。「本当に怖かったよ!」私は彼の背中を優しくさすって言った。「ほら、私は大丈夫じゃないか」徹は慎重に私を車に乗せると、まだ震えていた。「まさか君がこんなに大胆だとは思わなかった。彼が君を殺すって知ったのに、どうして来たんだ?」私はお腹を撫でながら答えた。「我慢できなかったの。毎晩夢の中で、まだ生まれていない娘が痛みを訴えていた」「彼女は生まれるチャンスを奪われたから、復讐をしな
もし以前だったら、私はすぐに駆け寄って彼女を守っただろう。広瀬徹がそっと尋ねた。「止めに行くか?彼女は君のお母さんだ。長年の洗脳がなければ、きっと自分を失うことはなかったはずだよ」「行こうよ。これは彼女自身が選んだ道だ。父さんが彼女を救えなかったように、私にも救えない。彼女には逃げるチャンスが何度もあったのに、それを選ばなかったのは彼女自身なんだから」私がその場を離れるのを見て、母は怒り狂って叫んだ。「もうお前のような娘はいない!後悔しても知らないからな!」後悔なんてしないよ。後悔するのは、いつだって彼女の方だ。時が過ぎるのは早いもので、母は祖父母の世話に専念し、私に連絡を取ることはなかった。まさか再会がこんな形になるとは思わなかった。出所した康弘が手袋をした手で母の手にナイフを握らせていた。「おばさん、何だって俺のためにするって言ったよね?」友里と康弘が刑を受けた後、私は徹との甘い時間を過ごし、すぐに子供を授かった。あの日、私に別れを告げた女の子が戻ってきたのだ。私は徐々に会社の仕事を手放し、安心して休んでいた。そんな時、祖母から電話があった。母が意識不明になったが、祖父母は病院に連れて行く気がないというのだ。母は私を産んでくれた人だ。彼女が死ぬのを黙って見ているわけにはいかない。救急車を手配しても誰もいないので、仕方なく車を運転して祖父母の家へ向かった。そして私は椅子に縛られていた。意識不明だったはずの母が、ナイフを持って私に向かっていた。震える母の手を見つめながら私は尋ねた。「私を殺すつもりなの?お母さん」彼女は激しく首を振った。「殺すつもりなんてない。ただ、康弘を助けてほしいの。彼は君のせいで刑務所に入れられて、出所した後もどこにも就職できないんだから」私は続けて聞いた。「それで?どうしろと?あなたの言う通りにして、彼に私と徹の会社の株を渡せってこと?」彼女は勢いよく頷いた。「そうよ!同意してくれるの?今すぐ解放してあげる」彼女はそう言いながら手を伸ばそうとした。愚かな母親よ、今はあなたの思い通りにはいかない。祖父が前に出て、母の頬を一発叩いた。母は頬を押さえ、不満そうに言った。「お父さん、優香はもう康弘を助けるって言ったんです」祖父は険しい顔で母を軽蔑するように見たかと
警察が友里を取り調べのために召喚した際、彼女は出頭せず、保釈中の友里が罪を恐れて逃亡したと推測された。警察が彼女の家を訪ねると、そこには悲惨な状態の二人がいた。二人は何も言えず、結論としては「恋人同士の喧嘩でお互いに和解した」ということになった。友里は流産していた。康弘が彼女を蹴った一撃が、彼女の子供を奪ったのだ。それと同時に彼女の「保護者」も失われた。二人は再び拘留され、裁判の日を待つことになった。裁判当日、母と祖父母が裁判所の門前で待っていた。母は私を見つけると、ナイフを首に当ててきた。「康弘を許さないというなら、私はここで死ぬ。みんなに、母を追い詰めて死なせたと知らしめてやる。そうして、あなたの名誉を地に落としてやる」徹は母が何か過激な行動に出るのを恐れ、慌てて私をその背中で庇った。祖母は横で同調するように言った。「それでいいのよ。親不孝者なんか地獄に落ちればいいんだわ!」祖父も怒りを込めて言った。「よく考えろ!康弘が判決を受けても刑期が長くはないんだ。本当にこの件で母親を死なせるつもりか?」私は母を冷たく見つめた。「母さん、これが最後の『母さん』と呼ぶ機会だ。岡崎家にどれだけ恩があるっていうんだ。父さんはあなたを救いたくて、あなたと結婚した。でも、あなたは兄の借金を肩代わりさせるために、彼を昼夜問わず働かせて、過労死させた」「私もあなたを救いたくて、父が残した貯金を康弘の学費に充て、家を売って康弘を留学させることに同意し、仕事まで世話した。こんなにも尽くしてきたのに、それでも足りない。誰も、もうあなたを救えないよ」「あなたはただ、尽くした後に彼らが褒めてくれるのが嬉しいだけで、彼らの一瞬の愛を求めている」「でも、私が愛していないとでも?父さんが愛していないとでも?」「ほら、首から血が流れてるのに、隣の二人は少しでも心配してるか?」私は彼女を横目に裁判所へ向かった。彼女が私を愛さないのに、どうして私が彼女を愛さなければならないの?被告席に立つ康弘と友里を見ると、二人はこの期間にすっかり衰弱し、骨と皮ばかりの姿になっていた。彼らも私を見つけると、胸を激しく上下させていた。それは恐怖の現れだった。友里は懇願の声を上げた。「お願い、私を許して!わざとじゃなかったの。あなたを泥棒だと思っただけ
私はステマ工作員を紛れ込ませて康弘の所業を拡散した。その結果、母たちの策略は裏目に出て、康弘の写真がネット上に流出。彼は瞬く間に「誰もが糾弾する存在」となった。その頃、友里に復讐しようとしている人からメッセージが届いた。康弘は行き場を失い、友里の元へ逃げ込んだらしい。私はチャット画面を開いた。「この男も共犯だ。見逃すつもりはない」私は鼻で笑った。康弘、自ら罠に飛び込んだようなものだ。ネット上で事態がどんどんエスカレートし、ありとあらゆる人間が話題に群がり始めた。私は動画を投稿して事実を明らかにした。「岡崎康弘と岡崎友里に虐待され、重傷を負った挙句、殺されかけた」動画はわずか半日で再生回数が100万回を超えた。私は母にこの数年送金していた証拠と自分の診断書も公開した。「やっぱり逆転劇だな、みんな!この母親、頭おかしいんじゃない?」「分かってないな。「弟に多くの資産を援助する姉」ってやつだ」「ああ、投稿者が可哀想すぎる!せめて服を2着買って応援しようかな」ネット民たちの同情の声の中、母や祖父母は外出するたびに指をさされて罵られるようになり、一方で私と徹の会社には多くの注文が舞い込んできた。この件が一段落したころ、動画が私の元に届いた。再生してみると、そこには友里が映っていた。友里は地面に跪き、タバコが彼女の手のひらに押し付けられ、「ジジジ」という音が響いた。「痛い!痛い!お願いだから、もう許して!」タバコは再び点火された。「私だってあの時、こうやってお願いしたのに、あなたは許してくれた?」彼女はかつての私のように必死にもがいたが、身動きが取れず、ただ悲痛な叫び声を上げるだけだった。「お金ならあるわ!全部渡すから、埋め合わせをさせて!」彼女の髪は掴み上げられ、次々と平手打ちが顔に叩き込まれる。「17回もタバコで焼いたんだ。私は15回で勘弁してやる」彼女は必死に後ずさろうとしたが、手足を押さえつけられ、タバコの火が次々と体に押し付けられた。「次は私の番だ。彼女は私の胸に『クズ』と刃物で刻んだんだ」彼女の胸元の服がはだけ、薄い刃物がその胸を行ったり来たりした。やがて彼女は哀れな声すら上げられなくなり、まるで死んだように地面に転がった。彼女の指先には針が突き刺され、水に頭を押