تسجيل الدخول和前夫離婚一年,傅寒川在群裡艾特我,「冷戰夠久了,回來吧,我們復婚。」我回,「你沒病吧?」大家見狀,紛紛勸和。傅寒川又問,「我不在的這段時間裏,你在做什麼?」我扭頭看了看正在哄孩子睡覺的男人。反手打下幾個字:「在坐月子。」原本熱鬧沸騰的群,瞬間凝固,傅寒川氣急敗壞的給我打了108個電話,我全都視而不見。他發了瘋,可那個愛他如命的女孩,再也不屬於他了。【父子火葬場,追妻追女兒/破鏡不重圓,大女主覺醒逆襲打臉】*江晚月嫁給傅寒川七年,養育一雙兒女五年。換來的是,兒子在的生日上許願,要新媽媽。傅寒川說童言無忌,可小孩是不會撒謊的。江晚月決定實現兒子的願望,兒子、老公她都不要了。她離婚帶走女兒,所有人都認為她撐不過一個月,就會找傅寒川求複合。一個月過去,江晚月忙著搞事業,女兒忙著給自己找新爸爸。那天,傅寒川帶兒子跪在門外,求她回頭。房間裡,她被男人壓在門上,耳朵被咬住。「江小姐,你是不是該給我一個名分了?」
عرض المزيدTas jinjing berbahan kanvas itu sudah pudar warnanya, tergeletak canggung di atas lantai marmer yang mengkilap. Bara berdiri kaku di sana, kedua tangannya saling meremas di depan perut. Dia takut bergerak, takut debu dari sepatu bututnya mengotori kemewahan yang menyilaukan mata itu.
Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi yang sedang membaca koran. Handoko, ayahnya. Pria yang dulu meninggalkan Bara dan ibunya di kampung demi mengejar ambisi di kota. "Jadi ... ibumu sudah meninggal?" tanya Handoko tanpa menurunkan korannya. Nada bicaranya datar, seolah sedang menanyakan kabar cuaca. Bara menelan ludah, tenggorokannya tercekat. "Iya, Pak. Bulan lalu," jawabnya pelan dengan logat daerah yang masih kental. Dia ingat bagaimana ibunya meregang nyawa di atas dipan kayu yang reot, sementara ayahnya hidup di istana ini. Rasa panas menjalar di dadanya, tapi Bara buru-buru menunduk. 'Sabar, Bar. Kamu butuh tempat tinggal buat kuliah,: batinnya. Handoko akhirnya melipat korannya, menatap Bara dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan menilai yang merendahkan. "Dengar baik-baik," kata Handoko dingin. "Saya izinkan kamu tinggal di sini karena saya tidak mau orang-orang bilang saya menelantarkan darah daging sendiri. Tapi ingat posisimu. Jangan bikin malu. Jangan bertingkah kampungan. Dan jangan ganggu istri dan anak saya." "Baik, Pak," Bara mengangguk patuh. Dia memang tidak berniat mengganggu. Dia hanya ingin bertahan hidup. Saat itulah, suara hak sepatu beradu dengan lantai terdengar dari arah tangga. "Mas, ini anak itu?" Bara mendongak. Napasnya tertahan. Seorang wanita turun dari tangga dengan anggun. Kulitnya putih bersih, rambutnya tertata rapi, dan wangi parfumnya langsung memenuhi ruangan saat dia mendekat. Itu Marissa, ibu tirinya. Dia jauh lebih muda dari dugaan Bara, dan jauh lebih cantik dari wanita mana pun yang pernah Bara lihat di kampung. Di belakang Marissa, muncul seorang gadis remaja yang sibuk dengan ponselnya. Keyla. Dia hanya melirik Bara sekilas dengan tatapan jijik, lalu mendengus. "Ih, Ma. Bau matahari banget orangnya." Bara makin menunduk, merasa kecil. Namun, Marissa justru tersenyum lembut. Dia mendekati Bara, lalu dengan tangan halusnya, dia menepuk bahu Bara yang lebar dan keras karena sering mencangkul di sawah. "Sudah, Keyla. Jangan begitu," tegur Marissa lembut. Dia menatap mata Bara. "Selamat datang ya, Bara. Anggap saja rumah sendiri. Kalau butuh apa-apa, bilang sama Tante." Sentuhan itu membuat Bara gemetar. Di kampung, tidak ada wanita "berkelas" yang mau menyentuhnya. Kelembutan Marissa terasa sangat kontras dengan kekejaman ayahnya dan kesombongan Keyla. "Te-terima kasih, Bu ... eh, Tante," gagap Bara. Handoko berdiri, memutus momen itu. "Sudah, antar dia ke kamar belakang. Saya mau berangkat kerja. Bara, ingat pesan saya. Tahu diri." Ayahnya berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi. Bara mengepalkan tangannya di samping tubuh. Dia melihat punggung ayahnya yang menjauh, lalu beralih menatap kemewahan di sekelilingnya. 'Bapak boleh sombong sekarang,' batin Bara perih. 'Aku akan jadi patung di rumah ini. Aku akan diam, aku akan menurut, sampai aku bisa berdiri sendiri dan pergi dari sini.' Marissa berjalan lebih dulu menyusuri lorong dan Bara mengekor di belakangnya dengan canggung. Gaun sutra tipis yang dipakai Marissa menempel ketat di tubuhnya yang montok. Kain itu mencetak jelas lekuk pinggang dan pinggul besarnya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri setiap kali dia melangkah. Bara menelan ludah dan mencoba melihat ke lantai, tapi matanya nakal dan kembali melirik betis putih mulus yang mengintip dari belahan gaun itu. Marissa membuka pintu sebuah kamar kecil di bagian belakang. "Maaf ya Bar, kamarnya agak berdebu karena jarang dipakai," kata Marissa lembut sambil masuk ke dalam. Bara hanya mengangguk dan berdiri kaku di dekat pintu. Dia melihat Marissa berjalan ke arah ranjang lalu membungkuk sedikit untuk merapikan sprei yang kusut. Gerakan itu membuat kerah bajunya yang rendah melonggar lebar. Mata Bara langsung terbelalak. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat jelas belahan dada ibu tirinya itu. Payudaranya yang besar dan putih mulus terlihat begitu penuh, seolah mendesak ingin tumpah dari balik kain tipis itu. Kulit di area itu terlihat sangat halus dan kencang, beda sekali dengan kulit perempuan di kampungnya. Aduh, sadar Bar! Itu istri bapak, batin Bara berperang. Dia buru-buru memalingkan wajah ke tembok. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya jadi agak berat. Dia merasa berdosa tapi penasaran setengah mati. "Bar? Kok malah melamun? Kamu kepanasan ya?" tanya Marissa yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Bara kaget bukan main. Jarak mereka sekarang begitu dekat. Wangi parfum manis dari tubuh Marissa langsung memenuhi hidung Bara. "Eh, ti-tidak apa-apa, Tante. Cuma agak gerah sedikit," jawab Bara gugup sambil menyeka keringat di dahinya. Marissa tersenyum maklum. Tangan halusnya terulur lalu menyentuh pipi Bara. Telapak tangan itu terasa dingin dan lembut, sangat nyaman di kulit Bara yang kasar karena matahari. "Panggil Tante saja biar akrab. Kasihan kamu, pasti capek sekali ya perjalanan jauh naik bus," ucap Marissa dengan nada sayang. Sentuhan di pipi itu membuat lutut Bara lemas. Marissa lalu menurunkan tangannya dan ganti memegang kedua bahu Bara. Dia meremas pelan otot bahu Bara yang keras. "Bapakmu memang galak, tapi jangan diambil hati ya. Ada Tante di sini. Tante akan pastikan kamu betah tinggal di sini," kata Marissa sambil menatap mata Bara dalam-dalam. Posisi tangan Marissa di bahunya membuat tubuh bagian atas wanita itu makin condong ke arah Bara. Bara bisa melihat dada Marissa yang besar itu naik turun saat bernapas. Kulit putih di leher jenjangnya terlihat sangat menggoda. Pikiran Bara jadi kacau, antara haru karena dibela dan pusing melihat kemolekan tubuh di depannya. "Makasih banyak, Tante. Tante baik banget sama saya," kata Bara pelan. Dia menunduk sedikit untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi matanya malah tak sengaja jatuh lagi ke arah dada itu. Cepat-cepat dia pejamkan mata sejenak untuk mengusir pikiran kotornya. Marissa melepaskan pegangannya lalu menepuk lengan Bara pelan. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Nanti Tante siapkan handuk bersih. Habis itu kita makan siang bareng, Tante sudah masak enak," ujarnya riang. Marissa pun berbalik dan berjalan keluar kamar. Bara memandangi punggung dan pinggul sintal itu yang bergerak menjauh sampai sosoknya menghilang di balik pintu. Bara menghembuskan napas panjang seolah baru saja menahan napas lama sekali. Dia membanting tubuhnya ke kasur busa yang empuk. Bayangan kulit putih dan dada mulus Tante Marissa masih menari-nari di kepalanya. "Sabar Bar, sabar," gumamnya lirih sambil memegangi dadanya yang masih deg-degan.助理的聲音從聽筒裡傳來:「沈總,警方那邊的進度我都盯著。搜救隊在山上找了一夜,沒有發現傅家小少爺的蹤跡。」 「警方那邊呢?」沈岸的聲音冰冷。 助理的聲音在他耳邊響起,「那個倒戈的司機,交代了和江南笙的整個合作過程,但他說,把傅家小少爺從貨車裡掉包帶走的,不是他。」 沈岸坐進車內,他的手指在方向盤上輕輕敲了一下:「他交代背後還有其他指使人嗎?」 「他說沒有,我們現在還在追查,真正把傅家小少爺帶走的人。」 助理在電話裡等了一會,卻遲遲沒等到沈岸的聲音。 「沈總?」 沈岸開口了,「組織人調查近期一個月的境外轉帳,鎖定五位到六位數的款項,特別是匿
粥粥趴在江晚月腿上,小手還攥著媽媽的衣角,呼吸均勻而綿長,像是把這一整晚的驚嚇和擔憂,都化在了夢裡。 沈岸沒有走。 他輕手輕腳地從浴室打了一盆熱水,試了試溫度,放在床頭櫃上。 他蹲下身,先給江晚月擦了擦臉。 溫熱的毛巾覆上她的臉頰時,她的眉頭微微蹙了一下,但沒有醒。 沈岸的動作很輕,輕得像怕驚碎什麼易碎品。 毛巾從她額頭滑過,擦去夜風留下的涼意。 暖黃色的燈光落在他側臉上,將他本就優越的骨相,映照得愈發分明。 他的眉骨高挺,眼窩深邃,睫毛的陰影投在眼下,像兩片薄薄的蝶翼。 鼻樑筆直,唇形薄而好看,此刻抿成一條溫和的線,帶著
江晚月抱緊粥粥,下巴抵在女兒的髮頂,閉上了眼睛。 她實在不忍粥粥這麼小,就跟著她經歷這些。 回想起粥粥出現在傅家的場面,江晚月就溼了眼眶。 「粥粥,媽媽想跟你說,你可以不必這麼堅強。」 江晚月開口,粥粥沉默了一下,抬起頭來問她: 「媽媽是想說,女孩該有女孩的樣子嗎?」 江晚月搖頭,「你是我女兒……」她摸著粥粥的臉道,「你還是一隻小雛鳥,無論發生什麼事,媽媽都會將你庇護在我的翅膀下。」 「當媽媽的,也不用事事都堅強。」 粥粥的話,讓江晚月愣了一下。 她又說道,「媽媽也不要因為是媽媽,每一次都要挺身而出,擋在我的前面。」
傅寒川被陸放突然懟到眼前的手機螢幕,閃了一下眼。 他皺著眉低頭看去,直播間裡,彈幕正以一種近乎狂歡的姿態洗版: 「我隨10086,記傅寒川帳上!」 「隨一個字記傅老太帳上!」 「隨一個沈岸,記傅寒川帳上!」 「你們別太過分了啊哈哈哈哈我也隨一個!」 而螢幕中央,是沈岸側身替江晚月攏外套的畫面。 夜風裡,那個男人微微低頭,看不清表情,但動作溫柔得不像話。 江晚月沒有和他拉開距離,只是安靜地站著,目光望著山林方向。 他們看上去,很親密,好像已經相互接納了彼此。 傅寒川的臉色在一瞬間變得極其難看。 不是因為彈幕裡