Semua Bab Iblis Itu Suamiku: Bab 1 - Bab 10
47 Bab
CHAPTER 1 : CINTAI AKU
Tanganku bergetar hebat tiba-tiba. Serangan itu datang kembali, sekujur tubuhku diguyur keringat dingin. Jantungku seolah dipacu lebih cepat dari sebuah jet⸻nafasku tersengal-sengal akibatnya. Iris madu milikku menangkap deretan kata yang tertera di layar ponselku. ‘Jika kau ingin mati, mati saja tak akan ada siapapun yang akan mengasihanimu.’ ‘Itu semua salahmu, apa kau tidak ingat siapa yang sudah menghancurkan hidupku?’ Aku menghentikan langkahku dan bersimpuh begitu saja. Berkat pesan-pesan sialan  itu kini kepalaku terasa pening dan pandangan tak lagi fokus. Kakiku kupaksakan untuk kembali melangkah, dan untuk kesekian kalinya tetesan air yang kian deras membasahi tubuhku. Aku terhuyung-huyung, berjalan tidak tentu arah di jalanan kota London. Tanpa sadar ternyata kakiku telah tiba di salah satu taman kota yang paling terkenal di pusat kota Inggris, Taman Hyde. Aku tak peduli dengan derasnya hujan dan tetap berjalan
Baca selengkapnya
CHAPTER 2 : PERJANJIAN
            Sinar matahari yang menelisik masuk melalui celah tirai beludru mulai mengusik tidurku, keinginan bergelung di balik selimut tebal masih menggelayut. Kasur yang terasa sangat empuk beraroma citrus berpadu dengan harum musk menggelitik hidung. Tunggu, sejak kapan kamarku yang biasanya beraroma lavender menjadi citrus? ‘Yang terakhir, cintai aku dan jadilah suamiku selama setahun nanti.’ Kilasan balik semalam terbesit kembali dibenakku. Ucapan memalukan pada seseorang membuatku langsung terduduk dengan setengah sadar, membuatku hampir oleng jika sebuah tangan tidak segera menangkapku. Aku berkedip beberapa kali melihat surga di hadapanku. Seorang pria bersurai  pirang dengan manik legam tengah mengenakan jubah mandinya tersenyum padaku. Tanpa basa-basi tentu saja aku segera menjauh dan menarik selimut menatapnya dengan raut yang dapat dipastikan sudah memerah. “Selamat pagi
Baca selengkapnya
CHAPTER 3 : NYONYA DAYTON
Apa yang paling aku benci selain orang-orang? Keramaian dan tatapan orang-orang seperti saat ini⸻hampir setiap pasang mata memperhatikanku. Bagaimana tidak? Saat ini aku dan suamiku⸻pria yang semalam kutemui⸻baru saja turun dari mobil Bugatti La Voiture Noire. Salah satu mobil yang dinobatkan menjadi mobil termahal di dunia senilai 18,7 Juta USD, tengah mampir di sebuah rumah sakit yang terletak di jantung kota London dan tebak apa jabatan suamiku tersayang ini? Direktur utama sekaligus pemilik dari rumah sakit yang tampak seperti hotel ini. Aku mencoba berdeham beberapa kali dan membenarkan rambutku yang sudah kutata seapik mungkin. Tentu saja, aku tak ingin mempermalukan diriku sendiri dengan berpakaian seperti gembel. Dress berkerah tinggi dengan pita tanpa lengan  merek Prada, dipadukan dengan mantel Gucci coklat membalut tubuh rampingku, tak lupa bots berhak tinggi berwarna senada dengan renda hitam di ujung dressku.
Baca selengkapnya
CHAPTER 4 : KESAN PERTAMA
Suara ketukan ujung sepatu hak bersahutan menggema di sepanjang lorong sebuah rumah sakit. Dua orang wanita berjalan dengan anggunnya. Beberapa kali perawat adam yang melihat sosok wanita yang berjalan paling belakang terkagum-kagum⸻kecantikannya terlalu mempesona. Tubuh bak gitar spanyol, tinggi semampai, kulit seputih salju dan rambut sepinggang berwarna mahoni yang tertimpa sinar lampu membuatnya tampak berkilau. "Selamat pagi," sapa wanita berbibir tipis yang berbalut lipstik merah tersebut, membuat sejumlah perawat pria yang melihat sosok wanita itu terkagum-kagum. Di sebelah wanita elok tersebut adalah seorang wanita paruh baya yang sedang tersenyum bangga. 'That's my daughter.' Bangga wanita tersebut yang tengah berjalan dengan membusungkan dada, mendengar decak kagum orang-orang pada sang putri. Langkah keduanya terhenti ketika mendapati seorang perawat sedang berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk. Tangannya menunjuk ke arah salah satu pintu kayu be
Baca selengkapnya
CHAPTER 5 : KEHIDUPAN BARU
Nafasku tak beraturan, kepalaku terasa pening seolah batu besar baru saja menghantamku. Belum lagi perutku yang terasa seperti ditekan keras, aku dapat merasakan seluruh tubuhku melemas tepat setelah kedua orang yang tak lain adalah ibu serta kakak sulungku menghilang di balik pintu. *BRUUKK* Tubuhku segera merosot kehilangan tenaga, untungnya pria di sampingku ini segera menahan tubuh serta kepalaku agar tidak menghantam dinding. Aku menatap iris obsidiannya yang tampak tenang setelah melakukan akting yang cukup panjang tadi. Sebastian membawaku dalam gendongannya dan meletakkanku di atas sofa. Pria pirang itu melepaskan sepatu botsku menyisakan paha putih jenjangku yang segera ditutupinya dengan sebuah selimut cadangan baru di lemari belakang sekat tempatku membuat minum tadi. Aku hanya bisa memperhatikan gerak-gerik pria yang saat
Baca selengkapnya
CHAPTER 6 : TINGGAL BERSAMA
Pemandangan apartemen berinterior hitam dan putih yang mendominasi hampir di setiap sudutnya. Kemudian sebuah jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota London. Selama setahun ke depan hingga akhir nafasku nanti akan menjadi hal yang sangat familiar. Aku masih saja berdecak kagum melihat pemandangan dari atas sofa yang diletakan tepat di hadapan jendela besar. Bruuuakk  Hingga suara berdebum yang sepertinya berasal dari beberapa barang membuatku mengalihkan pandangan ke arah sumber dari suara keras itu. ‘Sepertinya itu Sebastian.’ Suamiku itu saat ini memang sedang merapikankamar yang seharusnya akan kutempati.  Tanganku merentang lebar dan bergerak ke kanan kiri,  mencoba melemaskan setiap otot-otot dan sarafku. Rambut mahoni yang telah menutupi pantatku pun telah ter
Baca selengkapnya
CHAPTER 7 : PERINGATAN KEMATIAN ( BAGIAN 1 )
 Awal tahun merupakan waktu dimana setiap harapan baru lahir dan lembaran baru dibuka guna menggoreskan tinta kehidupan yang lain di bab yang baru sebelum mencapai akhir buku kehidupan. Jika beberapa orang menghabiskan waktu awal tahunnya dengan canda, tawa, dan bersulang. Seorang wanita justru duduk di dalam selimut menatap jendela besar di samping tempat tidurnya sembari menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan. Hidung mancungnya tampak memerah, jejak air mata tertinggal di kedua sisi pipi putihnya. Tangannya bergetar menggenggam gunting. Menangis dalam gelapnya ruan
Baca selengkapnya
CHAPTER 8 : PERINGATAN KEMATIAN ( BAGIAN 2)
“Rael itu hanya pernah berpacaran satu kali, itu pun ia justru dikhianati sahabatnya sendiri. Siapa ya …  Penelope, sepertinya itu namanya.” Ibu memasang sedih dan penuh iba lagi padaku,tangannya mengusap pipi putihku dengan sorot matanya memandangku rendah, “Aku tidak tahu bagaimana bisa memiliki Putri sepertinya. Mungkin ini karena mendiang suami Ibu dulu sering memanjakannya.” ‘Sudah cukup, aku muak dengan omong kosong ini.’  Bahkan mereka berani mengatakan itu semua di hadapan suamiku, jika bukan karena kontrak kami dan seandainya Sebastian adalah suamiku sesungguhnya Ia pasti sudah berlari meninggalkanku. Kedua tanganku terkepal, hingga tanpa sadar kuku panjang yang tajam milikku menembus lapisan kulit. Sudah cukup berhenti gemetar, aku tidak ingin hin
Baca selengkapnya
CHAPTER 9 : BUKAN SALAHMU
Sebastian memasuki apartemen masih menggenggam tanganku yang sepertinya sudah sedingin es batu. Udara hangat langsung melingkupi tubuhku yang bergetar hebat, aku hanya berjalan mengikuti kemana pria ini akan melangkah. Ternyata ia membawaku menuju kamarku dan menghidupkan lampu juga diffuser beraroma lavender kesukaanku. Kami duduk berhadapan dengan aku yang masih tertunduk.  Suasana sangat hening bahkan aku bisa mendengar deru mesin diffuser dan tetesan air. Kemudian aku merasakan tubuhku ditarik dan menabrak dada bidang miliknya, tangannya menjulur mengusap punggungku. Aku tidak menolak dan kini malah menangis dalam dekapannya.  “Maafkan aku h-hiks ...” “ I-itu salahku jadi kau basah, ma-maaf.”  Tidak dapat berkata-kata apa-apa lagi, bagaimana bisa s
Baca selengkapnya
CHAPTER 10 : KUNJUNGAN DADAKAN
Semerbak aroma sup dan daging bacon menguar memenuhi apartemen hingga menelusup masuk setiap ruang, termasuk kamar dan mulai menggelitik hidung. Merasa terusik akhirnya kedua mataku mengerjap beberapa kali berusaha memfokuskan pandangan melihat sekeliling kamar bernuansa hitam dan putih. ‘Tunggu, hitam dan putih?’ Segera terduduk dengan cepat, sekali lagi aku mengedarkan pandanganku dan baru menyadari semalam aku tertidur di kamar Sebastian. Dan tiba-tiba kepalaku terserang sakit kepala yang amat sangat, tanganku meraba dahi lebar ku dan menemukan kompres gel yang sudah menempel di sana⸺tak lupa dua buah selimut yang sudah membungkusku. Celingukan, aku seperti seorang perampok yang tengah menghindari si pemilik rumah. Aku berencana untuk diam-diam menyelinap ke dapur mengambil sarapan yang disiapkan Sebastian yan
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
DMCA.com Protection Status