Bongouvile Hospital, 09:12 - Delapan bulan kemudian. Ruang bersalin itu penuh suara tangis. Bukan tangis sedih. Tangis bayi laki-laki yang baru kenal dunia, keras, menuntut, hidup. Rexi Addison terbaring lemas di ranjang. Rambutnya basah, wajahnya pucat, tapi senyumnya lebar. Tangannya gemetar saat menerima gumpalan kecil yang diselimuti kain biru dari suster. Alvaro Addison berdiri di sampingnya. Cowok yang dulu cuma bisa nyeringai sekarang matanya berkaca-kaca. Tangannya yang biasa nampol orang, sekarang megangin kepala anaknya hati-hati banget. "Hai, jagoan," bisik Alvaro. Suaranya serek. "Gue papa lo." Altair Alexa Addison. Itu nama yang mereka pilih jam 3 pagi waktu Rexi ngidam mi instan. Altair, si bintang paling terang. Alexa, biar dia nggak lupa dia anak ibu yang kuat. Bellina berdiri di pojok, ngerekam pake HP sambil nangis. "Cakep banget cucu Mama... mirip Al waktu bayi, galak." "Ma, jangan zoom jerawat gue," protes Alvaro, tapi nggak ngelepas pandangannya dari Altair
Read more