LOGINAlvaro Addison, seorang pria yang memiliki sikap dingin dan semena-mena.Sikap dingin dan sikap semena-mena Alvaro semakin menjadi-jadi setelah sang ibu menikah dengan salah satu CEO yang memiliki seorang putri yang bernama Rexi Alexa atau kerap kali dipanggil Rexi.Rexi sangat membenci fakta dan kenyataan bahwa ayahnya akan menikah dengan seorang wanita yang memiliki seorang anak laki-laki, apalagi saat Rexi tahu kalau ternyata wanita itu adalah ibu Alvaro.Tapi,Tuhan tidak mengabulkan permintaan Rexi karena pernikahan sang ayah tetap berlangsung.Rexi depresi dan frustasi saat setelah pernikahan ayahnya itu, apalagi saat Al sudah bersikap tak masuk akal kepada Rexi.Bagaimana jadinya jika Rexi Alexa si keras kepala bertemu dengan Alvaro Addison si pria semena-mena?Akankah mereka saling menerima satu sama lain? Ataukah mereka akan berakhir dengan dendam yang sama?
View MoreApartemen, 06:12 AM -
Rexi melangkahkan kakinya berjalan menuruni anak tangga apartemen dua lantai itu.
Pandangan kedua bola mata sang ayah mengarah kepada anak perempuan yang sekaligus anak pertamanya, Rexi Alexa. Atau kerap kali disapa dengan panggilan Rexi.
"Rexi ..." sapa sang ayah sambil tersenyum.
"Ayo sarapan dulu," tawarnya dengan lembut.
Rexi menghentikan langkah kakinya, lalu menatap sang ayah dengan tatapan sinisnya.
"Tumben sekali Papa ada di apart. Biasanya pagi begini, Papa udah berangkat ke kantor," kata Rexi menyindir.
"Rexi!" pekik Barack, sang ayah, memperingati.
"Ah ... Rexi tahu, kenapa Papa bisa ada di apart!" seru Rexi, dia tidak peduli peringatan papanya.
"Papa enggak berangkat ke kantor karena mau ketemu sama Tante Bellina, kan?" lanjutnya dengan nada suara meremehkan.
"Rexi!" Barack kembali memperingati Rexi.
"Hati-hati aja, Pa. Kalian berdua belum nikah, masih ada seminggu. Kalian enggak boleh satu atap," kata Rexi sinis.
Rexi langsung berjalan pergi usai mengatakan kalimat itu kepada sang ayah, sedangkan Barack menatap kepergian anaknya dengan nanar.
"Loh ... Rexi di mana?" tanya seorang wanita yang berumur sekitar tiga puluh tahunan lebih kepada Barack.
"Ha?! It-"
"Ah ... Aku tahu, kok," potong Bellina sambil tersenyum kecil, dia paham dengan maksud ketidakhadiran Rexi di ruang makan itu.
Barack berdiri dari duduknya dengan cepat, kemudian memeluk tubuh Bellina.
"Kamu sabar sedikit saja, Sayang," kata Barack lembut.
"Iya," jawab Bellina.
Bellina tersenyum kecil lalu membalas pelukan Barack.
░░️░░️░
Sekolah -
Rexi berjalan di koridor sekolahnya, wajahnya terlihat kesal dan emosi.
"Papa apa-apaan, sih?! Mama baru sebulan meninggal. Tapi, papa udah dapat penggantinya!" kesal Rexi di dalam hati.
"Ish! Kesal! Kesal!" Rexi menghentakkan kakinya.
"Masih pagi, tapi udah bad mood aja!" kesalnya lagi di dalam hati.
Rexi menghentakkan kakinya dengan kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
Tak butuh waktu lama, Rexi sudah sampai di depan kelas dan langsung memasukinya.
"Eh! Ini kenapa, nih?! Masih pagi mukanya udah kelihatan jelek banget," kata sahabat Rexi, Kiara Wilona.
Rexi tidak menggubris ucapan Kiara dan lebih memilih duduk di kursinya kemudian menenggelamkan seluruh wajahnya di atas meja.
"Loh! Si Rexi kenapa, Ra?!" tanya salah satu sahabat Rexi yang baru saja datang, Nina Arlena.
Kiara mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban.
"Gak tahu. Baru datang udah gitu aja," kata Kiara.
"Diam lo semua! Masih pagi udah cerewet!" kata Rexi.
"Gue ngantuk," lanjutnya.
"Sensi banget, sih, Rex? Masih pagi juga," kata sahabat Rexi yang memiliki rambut pirang, Renata Ajlesia.
Rexi membuka matanya dengan cepat lalu menatap Renata dengan tajam.
Renata hanya mengangkat pundaknya secara bersamaan sebagai jawaban, lalu duduk di samping Nina.
░░️░░️░
12:12 -
"Kantin yuk!" ajak Kiara.
"Tapi, gimana sama anak itu?" tanya Nina sambil menunjuk Rexi dengan dagunya.
"Masih ngebo. Gimana dong?" tanya Nina.
"Tinggalin aja, sih. Kenapa susah banget? Nanti dia nyusul juga kok," sahut Renata ketus.
"Ya udah, ayo!" ajak Nina.
Renata menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar kelas yang pastinya diikuti Nina dari belakang.
Kiara menatap kepergian Renata dengan tatapan penasaran.
"Apa cuma perasaan gue aja, Renata terlalu ketus sama Rexi?" batin Kiara.
░░️░░️░
"Ngghh ..."
Rexi merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pandangannya mengarah untuk mencari teman-temannya.
"Loh! Mereka semua ke mana?!" tanya Rexi.
Rexi menetralkan penglihatannya dan kembali mencari teman-temannya.
"Loh?! Emang enggak ada!" kesalnya.
Rexi berusaha berpikir, tempat mana yang menjadi tujuan ketiga temannya itu.
"Kantin?" gimana Rexi.
Rexi berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kantin sekolahnya.
Bugh!
Hantaman sebuah bola basket mengenai kaki Rexi.
"Anjir!" pekik Rexi kaget.
Sang pelaku hanya menatap Rexi lalu mengambil bola basketnya dan berniat untuk pergi, tapi Rexi malah mencaci makinya.
"Heh! Kalau enggak bisa main, enggak usah main! Bukannya kelihatan keren di mata orang, lo malah celakain orang!" kesal Rexi.
"Ck ... Ini masih siang, Sialan! Udah bikin gue bad mood dua kali lipat aja!" lanjutnya emosi.
Nafas Rexi naik turun seiring rasa amarah dan kesalnya itu.
Tak mau memperpanjang masalah setelah mencaci maki pria itu, Rexi lebih memilih untuk pergi saja dari sana daripada masih berada di hadapan pria itu.
Pria itu menatap kepergian Rexi dengan datar, lalu tersenyum menyeringai.
░░️░░️░
Brak!
Rexi memukul salah satu meja yang ada di kantin dengan cukup keras sehingga membuat siswi yang duduk di sana kaget bukan main.
"Rexi!" pekik Kiara kesal.
"Apa?!" Rexi menatap Kiara tajam.
"Lo bertiga, kenapa ninggalin gue di kelas sendirian?!" tanya Rexi kesal lalu duduk di samping Nina.
"Lo ngebo-nya lama banget. Ya udah, kita tinggalin aja," jawab Renata santai lalu menikmati makanannya.
Rexi menggertakkan giginya karena kesal dengan Renata yang berani menjawab ucapannya.
"Lo mau makan, Rex?" tawar Nina.
"Gak. Gue enggak mood," jawab Rexi datar.
"Terus lo ke kantin buat apaan?" tanya Renata.
"Enggak tahu mau ngapain, kaki gue aja yang mau aja jalan ke sini," jawab Rexi asal.
"Ogeb beneran lo!" kata Kiara.
Rexi menatap Kiara dengan tajam, sedangkan Kiara yang ditatap langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat. Dia takut kalau Rexi marah kepada dirinya.
Kiara, Renata, dan Nina menikmati makan siang mereka, sedangkan Rexi lebih memilih untuk memainkan ponselnya saja.
"Anjir! Kita telat tiga menit!" kata Nina usai melihat jam tangannya.
"Gue enggak mau terlambat, yah! Yang masuk itu guru killer!" kata Nina panik lalu berlari pergi usai meletakkan uang dua puluh ribuan di bawah mangkuk baksonya.
Kiara dan Renata melakukan hal yang sama.
Rexi berdiri dari duduknya dan berniat untuk mengikuti jejak ketiga temannya, tapi dia langsung menghentikan langkahnya dengan cepat.
"Eh, wait! Kenapa rasanya gue laper banget?" gumam Rexi.
Rexi membalikkan badannya dan berjalan menuju salah satu penjual gorengan.
Sekitar beberapa menit memesan, akhirnya Rexi mendapatkan nasi goreng kesukaannya.
Rexi kembali duduk di kursinya semula, lalu tersenyum lebar saat melihat sepiring nasi goreng yang ada di hadapannya.
"Selamat makan," ucapnya kepada diri sendiri dengan lembut.
Sekitar beberapa menit Rexi menikmati makanannya dan berakhir dia mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Akh ... Akhirnya udah kenyang gue. Waktunya balik ke kelas!" katanya dengan gembira dan berlari secepat kilat untuk keluar dari kantin.
"Anjir! Itu orang atau makhluk jadi-jadian?! Cepat banget!" kata seorang pria ber-name tag 'Deian Elbar' saat melihat Rexi berlari secepat kilat.
Bongouvile Hospital, 09:12 - Delapan bulan kemudian. Ruang bersalin itu penuh suara tangis. Bukan tangis sedih. Tangis bayi laki-laki yang baru kenal dunia, keras, menuntut, hidup. Rexi Addison terbaring lemas di ranjang. Rambutnya basah, wajahnya pucat, tapi senyumnya lebar. Tangannya gemetar saat menerima gumpalan kecil yang diselimuti kain biru dari suster. Alvaro Addison berdiri di sampingnya. Cowok yang dulu cuma bisa nyeringai sekarang matanya berkaca-kaca. Tangannya yang biasa nampol orang, sekarang megangin kepala anaknya hati-hati banget. "Hai, jagoan," bisik Alvaro. Suaranya serek. "Gue papa lo." Altair Alexa Addison. Itu nama yang mereka pilih jam 3 pagi waktu Rexi ngidam mi instan. Altair, si bintang paling terang. Alexa, biar dia nggak lupa dia anak ibu yang kuat. Bellina berdiri di pojok, ngerekam pake HP sambil nangis. "Cakep banget cucu Mama... mirip Al waktu bayi, galak." "Ma, jangan zoom jerawat gue," protes Alvaro, tapi nggak ngelepas pandangannya dari Altair
Apartemen Alvaro, 02:17 - Rexi kebangun karena suara gedoran pintu. Bukan ketok santai. Gedoran kayak mau ngancurin engsel. Alvaro udah berdiri di depan pintu, kaosnya kusut. Matanya merah, tapi awas. "Siapa?" "Polisi! Buka pintu!" Rexi duduk kaku di kasur. Tangannya refleks megang perut. "Al..." Alvaro kasih isyarat suruh diem. Dia ngintip dari lubang pintu. Dua orang berseragam, satu lagi pake kemeja. Barack Maxis berdiri di belakang mereka, wajahnya nggak kalah merah dari mata Alvaro. Alvaro buka pintu setengah. "Ada apa malem-malem, Pak?" "Alvaro Addison, kami dapat laporan penculikan anak di bawah umur dan pembawaan kabur dari rumah sakit," kata polisi paling depan. "Rexi Alexa ada di dalam?" Barack nyelonong maju. "Rexi! Papa tahu kamu di dalam! Keluar sekarang!" Alvaro ngehalang pake badannya. "Istri saya lagi istirahat. Gangguin besok aja." "Istri?!" Barack nyaris nabrak pintu. "Kamu nikahin anak saya tanpa wali?! Itu nggak sah!" "Sah, Pak," suara Bellina muncul dar
Apartemen Alvaro Addison, 14:33 - Pintu apartemen dibanting menutup. Suara debamnya memantul di ruang tamu yang sepi. Alvaro menurunkan Rexi pelan ke sofa kulit hitam. Napas Rexi masih tersengal. Wajahnya pucat, tapi matanya nyala. Bukan nyala amarah lagi. Nyala orang yang udah mutusin buat perang. Bellina masuk terakhir. Napasnya ngos-ngosan, tangannya masih menggenggam ponsel. "Al, lo gila! Lo bawa Rexi kabur dari rumah sakit dalam kondisi gitu!" Alvaro melempar jaketnya ke lantai. Dia berlutut di depan Rexi, menggenggam tangan Rexi yang dingin. "Lo mau minum? Makan? Obat?" Rexi menggeleng. Dia menatap Alvaro lurus. "Gue mau nikah. Sekarang." Bellina mengusap wajah. "Rexi, sayang. Kalian berdua lagi emosi. Pernikahan nggak bisa—" "Bisa, Ma," potong Alvaro. Dia berdiri, menatap Bellina tegas. "Ma urus penghulu. Urus saksi. Urus semua suratnya. Hari ini." "Alvaro Addison! Kamu dengerin Mama!" Bellina mulai naik nadanya. "Rexi masih di bawah umur! Kalian butuh wali! Barack ngga
Ruang inap Rexi mendadak jadi medan perang yang sunyi. Udara dingin AC rumah sakit Bongouvile kalah sama hawa panas dari empat pasang mata yang saling kunci. Meki Alexa berdiri mematung di ambang pintu. Air mata menggenang di pelupuk matanya saat menatap Rexi yang pucat di ranjang. Bibirnya gemetar menyebut nama itu lagi. "Rexi... anakku..." suara Meki pecah. Tangannya terulur, tapi tertahan di udara. Rexi menatap Meki lekat. Wajah yang selama tujuh belas tahun cuma dia lihat di foto usang dalam laci Barack. Wajah yang dia benci, dia rindukan, dan dia kubur dalam-dalam bersama makam yang nggak pernah dia ziarahi. Barack Maxis berdiri kaku di pojok ruangan. Darahnya seperti berhenti mengalir. Wajahnya pucat pasi, lebih putih dari seprai rumah sakit. Rahasia yang dia pendam delapan belas tahun akhirnya berdiri di depannya, hidup-hidup. Alvaro Addison duduk di sisi ranjang Rexi. Tangannya melingkar protektif di pinggang Rexi. Matanya nyalang, melirik bergantian ke Meki, ke Anggara,
- Group Chat -- Bang Tamvan Sat -Brave Ice :Lo ke apart gue semuanya.Brave Ice :Ke apartemen gue tanpa terkecuali.Brave Ice
Plak!Tamparan keras itu berhasil melayang pada pipi kanan mulus Rexi. Untuk yang kedua kalinya dia mendapatkan tamparan pada pipinya dari sang ayah.Rexi menundukkan kepalanya dengan dalam, dia merasa kehilangan ayahnya yang selama ini dia banggakan.
"Bar ... Udah. Jangan marahin Rexi," kata Bellina memperingati Barack.Rexi tersenyum sinis saat mendengarkan pembelaan Bellina untuk dirinya."Ck ... Cari muka sama gue?" tanya Rexi di dalam hatinya."Dengan drama lo yang mau belain gue dari ben
"Arggg! Ibu Ina apa-apaan, sih?! Gue cuma telat dua belas menit malah disuruh buat cabut rumput lapangan!" kesal Rexi.Ya. Rexi terlambat masuk kelas saat pelajaran sudah dimulai sehingga dia mendapatkan hukuman yang tak lain adalah mencabut rumput lapangan sekolah.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore