LOGINAlvaro Addison, seorang pria yang memiliki sikap dingin dan semena-mena.Sikap dingin dan sikap semena-mena Alvaro semakin menjadi-jadi setelah sang ibu menikah dengan salah satu CEO yang memiliki seorang putri yang bernama Rexi Alexa atau kerap kali dipanggil Rexi.Rexi sangat membenci fakta dan kenyataan bahwa ayahnya akan menikah dengan seorang wanita yang memiliki seorang anak laki-laki, apalagi saat Rexi tahu kalau ternyata wanita itu adalah ibu Alvaro.Tapi,Tuhan tidak mengabulkan permintaan Rexi karena pernikahan sang ayah tetap berlangsung.Rexi depresi dan frustasi saat setelah pernikahan ayahnya itu, apalagi saat Al sudah bersikap tak masuk akal kepada Rexi.Bagaimana jadinya jika Rexi Alexa si keras kepala bertemu dengan Alvaro Addison si pria semena-mena?Akankah mereka saling menerima satu sama lain? Ataukah mereka akan berakhir dengan dendam yang sama?
View MoreDi sebuah lokasi konstruksi gedung. tampak seorang pria tengah mengangkut berkarung-karung pasir dari atas bak truk kemudian diletakkan ke sebuah titik lokasi konstruksi.
Julian tampak begitu atletis dengan otot-ototnya yang menyembul keluar. Dengan pakaiannya yang hanya berupa kaos dengan lengannya yang terbuka lebar. Namun kegagahannya hanya dimanfaatkan saja oleh sang mandor. Semua perintah dengan kata-kata kasar harus ditelannya setiap hari. Tak ada pilihan lain. Julian yang hanya menempuh pendidikan menengah hanya bisa bersyukur dengan apa yang dia dapatkan. Truk berikutnya pun tiba. Kali ini truk membawa puluhan sak semen. Mandor kemudian mengarahkan pandangan ke arah Julian lalu menunjuk tepat arah truk tersebut. "Julian, setelah ini kau harus angkat semua semen itu. Sekarang ku beri waktu kau 30 menit untuk menyelesaikan pekerjaan mengangkut pasir!" seru Sang mandor seraya bertolak pinggang. Julian hanya menundukkan kepala dan sedikit mengangguk. Karena waktu yang diburu. Ia pun terpaksa harus mengangkut dua sampai tiga karung pasir sekaligus. Begitu kuatnya Julian hingga membuat para pekerja lain berdiri terperangah memandang Julian. Di antara para pekerja yang berdiri, seorang pekerja senior merasa tidak senang dengan Julian. Dengan sengaja ia diam-diam menyandungkan kaki Julian hingga menimbulkan pasir yang diangkatnya jatuh berhamburan. "Bodoh! tidak becus! Baru beberapa karung saja kau sudah oleng! Mesin reot!" Seru Sang Mandor dengan mata terbelalak. "Pekerja seperti ini harusnya dibuang saja pak mandor! Modal otot saja tidak cukup!" saut pekerja senior tersebut. Mendengar ucapan itu seketika Julian naik pitam. Ia menegakkan badannya dan langsung menghampirinya. "Apa maksudmu berkata seperti itu?" "Kau sengaja menyandungku, kan?!" Tatapan Julian begitu kesal. Apalagi memandang wajah pekerja senior itu yang tersenyum seakan puas dengan apa yang dilakukannya. "Kalau iya memang kenapa? Kau mau marah?" tanya pekerja senior tersebut dengan santai dan kepala yang sedikit miring. Tiba-tiba tangan Julian mengepal keras dan rasanya ingin sekali melayangkan tinju ke wajah pekerja tersebut. Suasana seketika menjadi panas. Para pekerja senior lain merasa terpanggil untuk membela rekannya. Dan di saat itulah Julian dikerumuni oleh para pekerja senior dengan tubuh mereka yang kekar. Setidaknya ada lima pria berhadapan langsung dengannya. Melihat kejadian itu, sang mandor pun mencoba melerai. Ia berjalan terseok-seok ke arah mereka. "Hei! Hei! Sudah! Pekerjaan kalian belum selesai! Cepat selesaikan dulu!" Salah satu pekerja senior itu membisiki sang mandor. Entah apa yang dikatakannya. Tiba-tiba sang mandor menganggukkan kepala dan berkata. "Oke, kali ini ku beri kalian waktu 5 menit untuk beri pelajaran," ucap sang mandor dengan berkata pelan. Mandor kemudian berjalan mundur dan tampak hanya melihat saja. Lima senior itu mulai memukul-mukul telapak tangannya. "Kau belum tau siapa kami?" "Berani sekali kau melawan senior di sini?!" Ucap salah satu senior itu lalu tiba-tiba tangannya menekan dada Julian. Namun Julian tidak bergerak sedikitpun dengan dorongan itu. "Oh jadi karena kalian senior di sini bebas untuk melakukan apa saja kepada junior? Kita sama-sama bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga!" Ucap Julian membela diri. "Alah, banyak omong!" Seketika sebuah tinju mengarah ke wajah Julian. Dan pada saat yang sama sekelebat bayang tiba-tiba dengan cepat menangkap kepalan tangan pria tersebut. Hanya dalam hitungan detik Julian menangkap tangan pria itu lalu dengan cepat ia memelintirnya hingga pria tersebut pun mau tak mau menjatuhkan tubuhnya ke tanah. "Akhh! Sialan kau!" ucap pria bertubuh kekar itu seraya menahan sakit di tangannya yang masih terpelintir. "Ini bukan aku yang menginginkan. Tapi kalian yang memulai!" seru Julian seraya terus memelintir tangan pria itu. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah balok kayu melayang. Instingnya yang kuat membuat ia dengan cepat mengetahuinya. Balok itu seketika ditendangnya hingga terpental membalik ke arah pelemparnya. Gubrak... "Akhh!" pelempar balok itu kesakitan kala balok yang dilemparnya malah mengenai kepalanya. Semua mata terperangah melihat apa yang terjadi. Mereka tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki seorang pemuda yang sedari awal hanya terlihat diam dan tidak menunjukkan sifat dominan. Dari kejauhan, seorang pria berdiri memperhatikan. Lalu perlahan ia mulai menghampiri ke titik lokasi keributan. "Hei... Hei... Sudah hentikan!" "Saya tidak mau ada keributan di sini!" seru pria berpakaian loreng berusaha mendamaikan. "Maaf komandan. Dia..." "Sudah! Tak perlu banyak alasan. Saya tau siapa di sini yang selalu menjadi biang keributan. Sekarang kalian bubar!" seru pria berpakaian loreng tersebut seraya mengarahkan tangannya ke arah para pekerja senior tersebut. Para pekerja akhirnya membubarkan diri. Namun perhatian pria itu beralih ke arah Julian. Kala Julian mulai melangkahkan kaki. Tiba-tiba pria itu memanggilnya. "Hei anak muda!" Julian seketika menengok ke arahnya. "Iya ada apa pak?" tanya Julian. "Jangan panggil saya pak. Panggil saja saya komandan. Saya yang menjaga keamanan proyek ini," ucap pria berpakaian loreng tersebut. "Ba-baik komandan," jawab Julian, sedikit terbata-bata. Lalu tiba-tiba pria itu tersenyum dan berkata. "Kau memang pemuda yang hebat. Aku melihatmu dari kejauhan." "Mohon maaf, Aku hanya membela diri, Komandan. Tidak untuk menunjukkan kehebatanku," jawab Julian. "Hmm... Bagus, kalau begitu aku ingin mengajakmu ke markasku. Bagaimana?" tanya Sang tentara tersebut. "U-untuk apa Komandan?" tanya Julian, heran. "Aku akan mempromosikanmu untuk bergabung ke dalam kesatuan prajurit. Aku melihat kemampuan pertahanan dirimu sungguh luar biasa," ucap seorang tentara itu seraya memandang kagum kepada Julian. Tentu saja Julian terkejut mendengar tawaran tentara tersebut. "Yang benar saja komandan?! Saya ini tidak lulus sekolah menengah atas! Mana mungkin saya sanggup menjadi tentara!" ucap Julian merendah diri. Namun tentara tersebut mencoba meyakinkannya. Ia menepuk lengan Julian dan berkata. "Tenang saja, saya akan membantu mu untuk mendapatkan beasiswa. Kau bisa menjadi prajurit sambil menyelesaikan pendidikanmu." Julian menundukkan kepala. Lalu kembali menegakkan badannya dan berkata. "Baik aku akan pikir-pikir dulu," ucap Julian. Kemudian ia berbalik badan dan pergi meninggalkan pria berpakaian loreng tersebut. Julian merasa tak percaya dengan dirinya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ia ingin sekali mengubah nasibnya. "Hey anak muda! Jangan lama-lama kau berfikir. Keburu aku berubah fikiran!" ucap pria tersebut. Lalu Julian membalikkan badannya dan mengganggukkan kepalanya. Dan pria berpakaian loreng itu pun melangkah pergi menuju pos keamanan. Julian kembali melakukan aktivitasnya. Yaitu mengangkat pasir dan semen ke titik lokasi yang ditentukan. Namun fikirannya masih terus berputar mengenai tawaran seorang tentara tersebut. Hingga jam istirahat pun tiba. Julian segera berlari menuju pos keamanan yang berada di gerbang proyek. Sesampainya di gerbang tersebut. Yang ia temui hanyalah para security. "Maaf pak. Di mana komandan yang berpakaian loreng tadi?" tanya Julian, tampak kebingungan. "Untuk apa kau mencari komandan?" tanya security itu dengan tatapannya yang seakan meragukan Julian. "Saya ada perlu dengan beliau," jawab Julian. Security itu lantas menjawab dengan sedikit tersenyum meremehkan. "Urusan apa? Komandan itu orang yang sangat sibuk. Tidak mungkin dia mau berurusan dengan orang yang tidak penting!" "Tapi pak..." Julian tampak memelas. Tiba-tiba Sang scurity berdiri dari kursi dan mengusir Julian. Ia mengarahkan tangannya ke arah pintu keluar seraya berkata. "Jangan nyampah kau di sini. Pergi!" Tiba-tiba seorang pria berpakaian loreng muncul dari arah luar dan berdiri terpaku melihat kejadian tersebut.Bongouvile Hospital, 09:12 - Delapan bulan kemudian. Ruang bersalin itu penuh suara tangis. Bukan tangis sedih. Tangis bayi laki-laki yang baru kenal dunia, keras, menuntut, hidup. Rexi Addison terbaring lemas di ranjang. Rambutnya basah, wajahnya pucat, tapi senyumnya lebar. Tangannya gemetar saat menerima gumpalan kecil yang diselimuti kain biru dari suster. Alvaro Addison berdiri di sampingnya. Cowok yang dulu cuma bisa nyeringai sekarang matanya berkaca-kaca. Tangannya yang biasa nampol orang, sekarang megangin kepala anaknya hati-hati banget. "Hai, jagoan," bisik Alvaro. Suaranya serek. "Gue papa lo." Altair Alexa Addison. Itu nama yang mereka pilih jam 3 pagi waktu Rexi ngidam mi instan. Altair, si bintang paling terang. Alexa, biar dia nggak lupa dia anak ibu yang kuat. Bellina berdiri di pojok, ngerekam pake HP sambil nangis. "Cakep banget cucu Mama... mirip Al waktu bayi, galak." "Ma, jangan zoom jerawat gue," protes Alvaro, tapi nggak ngelepas pandangannya dari Altair
Apartemen Alvaro, 02:17 - Rexi kebangun karena suara gedoran pintu. Bukan ketok santai. Gedoran kayak mau ngancurin engsel. Alvaro udah berdiri di depan pintu, kaosnya kusut. Matanya merah, tapi awas. "Siapa?" "Polisi! Buka pintu!" Rexi duduk kaku di kasur. Tangannya refleks megang perut. "Al..." Alvaro kasih isyarat suruh diem. Dia ngintip dari lubang pintu. Dua orang berseragam, satu lagi pake kemeja. Barack Maxis berdiri di belakang mereka, wajahnya nggak kalah merah dari mata Alvaro. Alvaro buka pintu setengah. "Ada apa malem-malem, Pak?" "Alvaro Addison, kami dapat laporan penculikan anak di bawah umur dan pembawaan kabur dari rumah sakit," kata polisi paling depan. "Rexi Alexa ada di dalam?" Barack nyelonong maju. "Rexi! Papa tahu kamu di dalam! Keluar sekarang!" Alvaro ngehalang pake badannya. "Istri saya lagi istirahat. Gangguin besok aja." "Istri?!" Barack nyaris nabrak pintu. "Kamu nikahin anak saya tanpa wali?! Itu nggak sah!" "Sah, Pak," suara Bellina muncul dar
Apartemen Alvaro Addison, 14:33 - Pintu apartemen dibanting menutup. Suara debamnya memantul di ruang tamu yang sepi. Alvaro menurunkan Rexi pelan ke sofa kulit hitam. Napas Rexi masih tersengal. Wajahnya pucat, tapi matanya nyala. Bukan nyala amarah lagi. Nyala orang yang udah mutusin buat perang. Bellina masuk terakhir. Napasnya ngos-ngosan, tangannya masih menggenggam ponsel. "Al, lo gila! Lo bawa Rexi kabur dari rumah sakit dalam kondisi gitu!" Alvaro melempar jaketnya ke lantai. Dia berlutut di depan Rexi, menggenggam tangan Rexi yang dingin. "Lo mau minum? Makan? Obat?" Rexi menggeleng. Dia menatap Alvaro lurus. "Gue mau nikah. Sekarang." Bellina mengusap wajah. "Rexi, sayang. Kalian berdua lagi emosi. Pernikahan nggak bisa—" "Bisa, Ma," potong Alvaro. Dia berdiri, menatap Bellina tegas. "Ma urus penghulu. Urus saksi. Urus semua suratnya. Hari ini." "Alvaro Addison! Kamu dengerin Mama!" Bellina mulai naik nadanya. "Rexi masih di bawah umur! Kalian butuh wali! Barack ngga
Ruang inap Rexi mendadak jadi medan perang yang sunyi. Udara dingin AC rumah sakit Bongouvile kalah sama hawa panas dari empat pasang mata yang saling kunci. Meki Alexa berdiri mematung di ambang pintu. Air mata menggenang di pelupuk matanya saat menatap Rexi yang pucat di ranjang. Bibirnya gemetar menyebut nama itu lagi. "Rexi... anakku..." suara Meki pecah. Tangannya terulur, tapi tertahan di udara. Rexi menatap Meki lekat. Wajah yang selama tujuh belas tahun cuma dia lihat di foto usang dalam laci Barack. Wajah yang dia benci, dia rindukan, dan dia kubur dalam-dalam bersama makam yang nggak pernah dia ziarahi. Barack Maxis berdiri kaku di pojok ruangan. Darahnya seperti berhenti mengalir. Wajahnya pucat pasi, lebih putih dari seprai rumah sakit. Rahasia yang dia pendam delapan belas tahun akhirnya berdiri di depannya, hidup-hidup. Alvaro Addison duduk di sisi ranjang Rexi. Tangannya melingkar protektif di pinggang Rexi. Matanya nyalang, melirik bergantian ke Meki, ke Anggara,
-INDONESIA - APARTEMEN ANGGARA - 20:12 -Anggara melihat Meki yang berbaju rapi turun dengan terburu-buru dari kamarnya."Mau ke mana
Alvaro Addison!" teriak Barack.Al tidak memperdulikan teriakan Barack, tetapi membalasnya hanya dengan sebuah senyuman tipis.Dengan kasar Barack menarik kerah Al untuk mundur. Dan tarikan Barack berhasil menghentikan aktifi
Rumah sakit, 21:12 -"Apa yang terjadi dengan Rexi?!" tanya Barack dengan khawatir saat baru datang."Masih perduli lo sama anak sendi
Indonesia, 06:13 -Ice terbangun dari tidurnya, dia menguap dengan lebar.Pandangan mata pria itu teralih untuk menatap seorang wanita






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore