Malam itu, layar ponsel Maya menyala terang di ruang tamu kontrakannya yang sempit. Di gendongannya, anak bungsunya tertidur dengan gelisah. Di sampingnya, anak sulungnya memainkan mainan tanpa suara, seolah tahu ibunya sedang marah besar. Maya menatap layar. Di sana, Savana masih tersenyum manis di unggahan terbaru. Caption-nya berbunyi, `Berdoa untuk istri-istri yang disakiti pelakor. Tuhan melihat segalanya.` Tangan Maya mengepal. Selama setahun terakhir ia diam. Ia menelan ludah setiap kali melihat suaminya, Adam, pulang larut malam dengan wangi parfum mahal yang bukan miliknya. Ia menutup mata saat rekeningnya terisi dari hasil endorse Savana yang ditransfer lewat Adam. Mobil baru, perhiasan, liburan ke Bali. Semua dari hasil menghancurkan rumah tangga orang lain. Awalnya, Maya tidak ingin mengumbar aib rumah tangganya. Ia takut reputasi keluarganya hancur. Ia takut anak-anaknya dibully. Tapi malam ini, batas kesabarannya habis. Ia b
Magbasa pa