Senin pagi di Kedai Manis terasa berbeda. Udara di dalamnya lebih berat dari biasanya. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh. Para karyawan baru saja tiba. Namun, suasana kerja belum dimulai. Yang terdengar justru bisik-bisik. "Eh, denger nggak?" "Denger apa?" "Kemarin... Pak Reno nginep di RS sama Vianca, loh." "Masa...? Kok, bisa, sih?" Vianca yang baru masuk dari pintu belakang, langsung menunduk. Pipinya memanas. Ia pura-pura sibuk menata celemek. *Di area barista, Tasya menyilangkan tangan di dada. Tasya. Senior barista. Sudah tiga tahun bekerja di Kedai Manis. Dan diam-diam, ia menyukai Reno. "Halah," kata Tasya, suaranya sengaja dikeraskan. "Janda anak satu emang pinter, ya." Silvi yang sedang menggiling biji kopi, mendongak. "Maksud lo apa, Sya?" "Pinter narik simpati," jawab Tasya. "Dandan mulu tiap hari. Biar diliat Pak Reno. Centil." "Apa?" Silvi meletakkan alatnya. "Dandan itu SOP, Sya. Biar nggak kucel ngadepin customer. Itu aturan Kedai. Otak lo aja y
続きを読む