Dua orang yang menyayangi di rumah ini. Memelankan larian, “Ma--Ibu, Kakek, ada apa?” pandangan menurun, berpikir apa mereka telah lama berada di kamar? “Xiao er, kamu dari mana? Lupakan, besok kamu bisa ikut ke istana.” Meraih tangannya, mendudukan di ranjang. ‘Ke istana? Boleh juga, pasti ada makanan enak dan barang yang bagus, heheh,’ otaknya menjalar. “Kamu ikut bersama Kakek, bila ayahmu tidak mau mengajak.” Mendapat dukungan, Xiao meng menganggukan kepala. Tangan mengelus rambut Li xiao. Aneh, kulitnya lembut, berseri dan putih. Inilah wajah alami putrinya, dulu sering memakai riasan tebal. Pernah memberi tahu, agar tidak perlu berdandan seperti itu. Tidak dandan pun cantik, menjaga perasaan Xiao li. Padahal itu aneh, tidak layak disebut dandanan. Mereka harus pergi, mau latihan dan mengecek hasil jarahan. Eggh! Mengambil barang orang lain. “Kek, Bu, aku mau istirahat--- capek, baik. Aku besok ikut, terima kasih,” mengarahkan mereka keluar. Melepas usapan, “Kami turuti ke
Terakhir Diperbarui : 2022-01-04 Baca selengkapnya