-Dara-Aku duduk di atas kursi roda dengan lemahnya sambil menatap pemandangan taman rumah sakit yang indah, Mas Revan di sebelahku. Dia masih setia menggenggam tanganku, mengecupnya sesekali, mengirimkan gelenyar aneh yang merayapi sekujur tubuhku. Dia mengajakku berbicara, bercerita, tapi aku masih sama, tak menghiraukannya.Aku hanya takut, takut jika aku kembali menunjukkan rasa cintaku padanya, itu membuatnya mengabaikanku, membuatku tak terlihat di matanya, membuatnya tak merasa kehilangaanku.Setelah beberapa kata yang kuucapkan tadi pagi, aku tak berkata-kata lagi. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan tubuhku sendiri, aku tidak ingin dia meninggalkanku, aku hanya ingin dia merasa kehilanganku.“Dara, bicaralah lagi, kumohon.” pintanya yang kali ini sudah berjongkok di hadapanku.“Apa kamu tahu, aku benar-benar takut kehilanganmu, bicaralah lagi sayang.” katanya lagi. Sungguh, aku tidak dapat melihatnya sedih seperti sekarang ini. Aku lalu memandang wajahnya, mendaratkan
Magbasa pa