Makan malam dengan Kak Clarissa berjalan... mengejutkan. Tidak ada interogasi, tidak ada latihan mental. Kami hanya makan ramen, bicara soal buku, film, dan betapa absurdnya guru-guru di sekolah ini. Untuk satu jam itu, dia bukan Ratu OSIS yang manipulatif, dan aku bukan kandidat boneka. Kami hanya dua orang remaja yang lelah dengan ekspektasi dunia.Namun, pagi ini, realita kembali menghantam wajahku sekeras bola basket yang dilempar Fachri.Hari Pengumuman.Suasana sekolah terasa aneh. Biasanya aku berjalan di koridor seperti hantu—tidak terlihat, tidak terdengar. Tapi hari ini? Semua mata tertuju padaku. Tatapan mereka beragam: ada yang kagum, ada yang sinis (pendukung Kevin), dan ada yang menatapku seolah aku adalah alien spesies baru yang baru saja mendarat."Pagi, Pak Ketua," sapa salah satu siswa kelas tiga yang biasa nongkrong di parkiran.Aku hanya mengangguk kaku, perutku mulas lagi. Panggilan itu... terdengar mengerikan.Aku sampai di kelas dan langsung diseret Fachri ke me
Last Updated : 2026-02-04 Read more