Keesokan paginya, langit di atas SMA Fortuna Negara terlihat mendung, seolah mendukung suasana hatiku yang sedang kelabu. Batas waktu untuk memberikan jawaban kepada Bu Annisa adalah sore ini.Aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas dengan langkah berat, seakan ada pemberat besi yang terikat di pergelangan kakiku. Namun, sebelum aku sempat mencapai tempat perlindunganku (baca: kelas), sebuah tangan halus namun tegas menarik kerah belakang seragamku."Ara, mau kemana terburu-buru begitu, Tuan Telmi?"Suara itu. Suara yang tenang, sedikit serak khas bangun tidur, namun mengandung ketajaman yang bisa mengiris mental seseorang. Aku menoleh perlahan dan mendapati Kak Clarissa berdiri di sana. Rambut hitam panjangnya tergerai indah, kontras dengan tatapan matanya yang sayu namun mengintimidasi."Kak Clarissa? Ini masih pagi, tumben Kakak sudah aktif?""Jangan salah sangka. Nyawaku masih tertinggal setengah di tempat tidur," jawabnya sambil menutup mulut dengan punggung tangan, menahan u
Read more