"Rose, aku butuh kau sekarang. Tolong datang ke rumahku, bawa beberapa potong kue manis dan, demi Tuhan, jangan tanya apa-apa sampai kau melihat apa yang ada di atas meja wastafelku."Suara Valeryn bergetar, hampir habis di ujung kalimat. Di seberang telepon, suara bising khas butik mewah langsung teredam, digantikan oleh nada panik yang kentara dari sahabat sekaligus kepala desainer utamanya."Val? Kau menangis? Ada apa? Apa si berengsek mantan tunanganmu itu menerormu lagi? Katakan padaku, biar kusuruh sekuriti menghajar—""Bukan dia, Rose," potong Valeryn cepat, setetes air mata kembali lolos melintasi pipinya yang pucat. "Ini lebih rumit. Ini tentang...Hawaii. Tolong, datang saja sekarang."Tidak butuh waktu lama bagi Rose untuk membelah kemacetan ibu kota. Kurang dari empat puluh menit, wanita berambut bob nyentrik itu sudah berdiri di depan pintu kamar Valeryn, masih mengenakan pita ukur kain yang melingkar di lehernya dan sebuah kotak kue premium di tangan kiri."Oke, aku
Read more