Pak Kadis mendengarkan penjelasan Kadrun dan Brewok dengan wajah yang semakin tegang. Pintu ruang kerjanya sengaja dikunci dari dalam. Tirai jendela ditutup rapat. Hanya mereka bertiga yang mengetahui isi pembicaraan tersebut.“Jadi, delapan penerima bantuan ini benar-benar fiktif?” tanya Pak Kadis sambil membolak-balik berkas yang disodorkan Brewok.“Sudah saya cek satu per satu alamatnyo, Pak,” jawab Brewok. “Semuanyo idak sesuai. Ado yang alamatnyo ruko kosong, ado jugo yang cuma rumah kontrakan biasa. Waktu kami tanyokan kepada warga sekitar, idak ado satu pun yang kenal dengan nama-nama ini.”Pak Kadis mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung pada kursinya.“Dan Pak Rama mengaku menerima seratus juta rupiah?”“Iyo, Pak,” jawab Kadrun dengan suara berat. “Tapi dio bilang, ado orang suruhan yang mengantar surat rekomendasi itu langsung ke rumahnyo.”“Suruhan siapa?”Kadrun dan Brewok saling berpandangan. Tidak satu pun dari mereka tampak ingin menjadi orang pertama ya
Magbasa pa