MasukKadrun sebagai seorang seniman batik yang idealis, baik, dan tulus telah jatuh cinta pada Siti Majenun seorang pemandu lagu karaoke yang eksotis dan materialistis. Keduanya memutuskan untuk menikah dengan harapan dapat memenuhi mimpi mereka masing-masing tentang pernikahan. Setelah memasuki mahligai rumah tangga, ternyata banyak hal mengejutkan yang terjadi di antara mereka yang tidak sesuai ekspektasi satu sama lain. Apakah yang terjadi kemudian? Apakah pernikahan mereka dapat terus dipertahankan? #DongengMasaKini
Lihat lebih banyakPertemuan dengan Zulaikah memutar memori putih abu-abu yang telah lama berlalu. Sepanjang jalan mengendarai sepeda motor kesayangannya senyum Kadrun tak berhenti mengembang. Kenangan antara dirinya dengan Zulaikah kembali berputar di kepalanya. Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang sangat kompak dan saling memahami satu sama lain. Zulaikah selalu membantunya mengerjakan tugas sekolah dan ujian. Sementara Kadrun selalu menjadi pelindung Zulaikah. Mereka sering menghabiskan waktu selain di sekolah adalah di pasar. Tempat kursus menjahit Zulaikah berada di dekat pasar sementara Kadrun suka nongkrong di pangkalan ojek sekaligus pangkalan preman. Kadrun selalu menunggu Zulaikah selesai kursus menjahit, setelah kursus Zulaikah akan mengajarkan Kadrun pelajaran sekolah yang tertinggal, atau memberikan PR yang sudah dia kerjakan untuk Kadrun.“Masuk sekolah lah besok, Drun. Ada ulangan matematika,” Zulaikah berujar kala itu di pangkalan ojek setelah selesai kursus menjahit.“Aku belum be
“Kau sudah sangat sukses sekarang, Zulaikah.” Kadrun menyahut.Zulaikah tersenyum. “Ya, syukurlah. Rezeki itu Tuhan yang mengatur. Sebagai manusia kita harus mensyukuri.”“Aku bangga ternyata kawan akrabku jadi orang terkenal sekarang.” Kadrun menggoda Zulaikah yang sedang meneguk teh hangat yang dia pesan.“Ah, kawan akrab apa? Kau tidak bisa mengenaliku pas kita ketemu,” protes Zulaikah memonyongkan mulutnya.“Kau sangat berbeda, Zulai! Apalagi kau mengenakan hijab. Wajahmu tidak lagi jerawatan. Kau juga tidak mengenakan kacamata. Dulu kau hitam legam. Sekarang kulitmu seputih pualam. Manalah aku memikirkan kalau kalian orang yang sama. Apalagi dulu kau juga selalu memakai kawat gigi.”“Ingatanmu payah. Masa tidak sedikitpun dari wajahku ini yang kau ingat, padahal aku tidak operasi plastik. Apalagi kalau aku oplas habis-habisan!”“Ah, masa kau mau oplas? Begini
Kadrun terbangun dari tidurnya. Dia duduk sambil memegang kepala di atas ranjang kontrakannya. Dia memperhatikan sekeliling, masih terasa dan tercium aroma Siti. Bagi Kadrun kebersamaannya dengan Siti Majenun hanya sebuah mimpi. Sekarang dia sudah terbangun dari mimpi. Dia kembali ke kehidupan normalnya. Dia kembali kepada keadaan sedia kala.Kadrun melirik jam weker di atas nakas. Pukul 03.00 WIB dini hari. Matanya tidak lagi mampu dia pejamkan walaupun sebenarnya ia ingin segera tertidur dan kembali disibukkan dengan pekerjaan kantor. Kadrun meraih handphone yang tergeletak di nakas sebelah weker. Dia membuka sebuah pesan Whatsapp yang tak terbaca. Sebuah nomor tak dikenal mengirim sebuah pesan.Saya Zulaikah. Maaf, lancang mengirim pesan. Besok pagi apakah kita bisa bertemu? Jam sarapan. Jam 7.30. Saya tunggu di Kafe Morning.Kadrun mengingat kembali sosok Zulaikah. Dia perempuan yang tampak santun dan berpendidikan.
Setelah pertemuan di rumah dinas walikota, Kadrun segera memenuhi janjinya pada Agam, membawa sahabatnya itu ke tempat karaoke langganan mereka. Sambil mendengarkan Agam dan Brewok duet lagu dangdut sampai lagu rock metal, pikiran Kadrun melayang entah ke mana. Sebagian besar pikirannya terbang ke rumah, dia merindukan Siti sekaligus merasa membencinya pada saat bersamaan. Dia ingin segera pulang ke rumah. Beberapa kali dilihatnya arloji tetapi dua jam waktu berkaraoke yang dia pesan terasa terlalu lama berakhir.“Ayo, Jok. Nyanyi apa?” tanya Brewok menegur Kadrun yang terus melamun.Kadrun menggeleng.“Hei, di tempat karaoke itu nyanyi bukan melamun, Jok!” Agam ikut berkomentar.Kadrun hanya tersenyum. “Kalian lah dulu menyanyi, nanti aku belakangan.”Agam dan Brewok kembali memilih lagu. Mereka kembali bernyanyi, kali ini lagu pop Jawa. Kadrun menghela napas. Walaupun suasana hatinya sedang tidak baik, ta
Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit
Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikena
Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan
Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.