Pak Rama duduk gelisah di dalam ruangan Kadrun. Tubuhnya tampak kaku di atas kursi, sedangkan kedua tangannya terus saling meremas di pangkuan. Sesekali ia melirik pintu, seperti sedang menghitung jarak yang harus ditempuh jika tiba-tiba memutuskan untuk melarikan diri.Pendingin udara menyala cukup kuat, tetapi butiran keringat tetap muncul di pelipisnya.Brewok berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap. Sejak Pak Rama masuk, matanya tidak pernah beralih dari lelaki itu. Tatapannya tajam, berbeda dari Brewok yang biasanya gemar bergurau. Tidak ada satu pun lelucon keluar dari mulutnya pagi itu.Sementara itu, Kadrun duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya terbentang daftar delapan penerima hibah yang alamatnya telah diperiksa langsung oleh Brewok. Beberapa bagian ditandai dengan tinta merah: ruko kosong, rumah kontrakan, bengkel sepeda motor, rumah makan, hingga tanah yang hanya dipenuhi semak.Jemari Kadrun mengetuk permukaan meja pelan.Tok. Tok. Tok.Bunyi itu membuat
Read more