Tubuh Kara menegang. Kedua tangannya refleks mendorong dada Ender, berusaha menciptakan jarak, namun sia-sia. Cengkeraman Ender terlalu kuat, terlalu mendominasi. Napas Kara mulai tidak beraturan. Kepalanya seketika terasa kosong, seolah pikirannya dipaksa berhenti bekerja. Ciuman Ender mendominasi, dalam, menekan, menuntut respons Kara pada ciuman itu. Kara memalingkan wajahnya, berusaha menghirup udara yang terasa semakin menipis. Namun jeda itu hanya sesaat. Ender meraih dagu Kara, meraup kembali bibir Kara dengan penuh desakan, tak memberinya kesempatan untuk benar-benar lepas. Kedua tangan Kara kembali mendorong dada Ender, kali ini dengan lebih kuat. Nafasnya tersengal, matanya mulai berkabut oleh campuran emosi yang bergejolak. "Cukup, ku mohon_" suara Kara pecah sarat akan emosi tertahan. Untuk pertama kalinya, Ender berhenti. Namun bukan berarti Ender menjauh. Dia hanya menahan posisinya. Wajahnya masih sangat dekat. Tatapannya menyorot tajam ke dalam mata Kara, menc
Read more