“Duh, mimpi apa aku, dapat WA dari pangeran ganteng!” teriak Susanti girang. “Siapa, San? Hayo, jangan pacar-pacaran ah, enggak suka Mbak.” “Yee, kok gini pesannya. Huh!” Susanti memberikan ponselnya padaku. [Assalamualaikum Mbak Susanti, maaf ganggu waktunya. Apa Mbak Fatki sedang bersama kamu? Tolong bilang padanya untuk angkat teleponku.” Aku tersenyum membaca WA itu. Rupanya telepon barusan dari Mas Fais. Aku kira dari Mas Fawas, makanya aku malas jawab. “Senyum-senyum ... bilang terima kasih dulu sama aku, Mbak.” “Terima kasih Susanti, cantik.” Berdebar aku menunggu telepon dari Mas Fais. Duh, kok, jadi seperti abege gini, ya?” “Balas dulu, San. Iya, gitu?” titahku. “Eh, iya, lupa aku, Mbak.” [Iya. Mas, eh, wa’alaikumsalam ... ini Mbak Fatki ada di sampingku. Dia sedang berdebar-debar menunggu telepon dari kamu, Mas.] Jawab Susanti pakai Voicenot. Ih, dasar Susanti ini bikin malu aja. “San, kamu ih, enggak gitu juga kali. Malu tahu!” “Halaaah jaim, tapi beneran kan, M
Huling Na-update : 2022-11-02 Magbasa pa