Sunny masih terdiam, wajahnya merah padam, bibirnya terbuka namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar setelah godaan Ryuse tadi.Ryuse menatapnya lama, sorot matanya perlahan berubah—dari nada jenaka yang tadi dia bawa, menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih intens. Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Sunny dengan lembut, ibu jarinya mengusap perlahan di bawah mata gadis itu, menghapus jejak air mata yang sempat jatuh sebelumnya."Sansan," bisiknya, suaranya serak."Ryuse, aku—"Kata-kata itu tidak pernah selesai. Ryuse sudah lebih dulu menunduk, bibirnya menyentuh bibir Sunny dalam ciuman yang lembut namun dalam, tanpa keraguan seperti yang biasa dia tunjukkan. Tangannya yang tadi memegang kain untuk mengobati luka kini terlupakan sepenuhnya, jatuh begitu saja ke lantai kamar.Sunny terkejut, tubuhnya membeku sesaat. Namun dia tidak mendorong Ryuse menjauh. Sebaliknya, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan itu, matanya perlahan terpejam, jemarinya yang gem
Read more