Sunny terjaga dengan napas memburu, selimut tipis kusut di sekitar kakinya. Mimpi itu lagi—bayangan buram yang tidak jelas bentuknya, hanya perasaan tercekik dan suara langkah kaki yang mendekat tanpa wajah yang bisa dikenali. Jantungnya masih berdebar kencang saat dia duduk, menatap kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya bulan tipis dari celah jendela.Dia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Tenggorokannya terasa kering. Perlahan, Sunny bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju pintu kamar, berniat mengambil air minum di dapur.Namun langkahnya terhenti di lorong.Cahaya lilin yang redup menari-nari dari arah ruang tamu, memantul lembut di dinding kayu rumah mereka. Sunny mengintip dari balik tirai kain yang memisahkan lorong dengan ruang depan, dan mendapati ibunya, Jane, masih duduk di sana—bukan tidur, melainkan menatap kosong ke arah jendela yang gelap, jemarinya memutar-mutar secangkir teh yang sudah dingin."Ibu?" Sunny melangkah masuk, suaranya pelan.Jane ter
Read more