Rain menggeser duduknya, merapatkan jarak hingga bahu mereka bersentuhan. Ia mengusap kepala Amy dengan gerakan menenangkan, berusaha memadamkan kegelisahan yang terpancar dari wajah gadis itu."Jangan terlalu dipikirkan, Amy. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal mimpi itu," ujar Rain lembut, meski ia sendiri merasa bumi di bawahnya sedang bergeser.Namun, Amy tidak membiarkan jawaban itu lewat begitu saja. Ia mendongak, menatap Rain dengan sisa-sisa keberaniannya. "Tapi Rain, kenapa? Kenapa Amethyst melarangku menggunakan pil itu? Jika benar peramal itu berkata jujur tentang sisa umurku, bukankah aku bisa selamat jika menelannya?"Rain tertegun. Ia menatap bibir Amy yang sedikit bergetar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah batu sihir yang berpendar. Keheningan yang menyakitkan membeku di antara mereka selama beberapa saat. Rain hanya diam, rahangnya mengeras seolah menahan beban rahasia yang terlalu berat untuk disuarakan."Sudah sangat larut, Amy," kata Rain akhirnya, suaranya
Read more