Trustin masih berdiri mematung di depan Sarah, jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan yang sudah puluhan tahun tidak ia rasakan sehebat ini. Ia menatap lekat-lekat mata Sarah yang tampak berkaca-kaca namun penuh keinginan. "Sarah... Aku bertanya sekali lagi," suara Trustin merendah, terdengar berat dan penuh tekanan emosi. Ia menarik pinggang Sarah hingga tubuh wanita itu menempel sempurna pada dadanya yang bidang. "Apa kamu benar-benar menginginkan waktu berduaan denganku? Hanya kita berdua, tanpa gangguan dokumen, tanpa gangguan Bramantyo, dan tanpa mereka semua?" Sarah menunduk, wajahnya terasa sangat panas. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Trustin yang besar di pinggangnya. "Aku... Iya, Trustin. Aku menginginkannya. Sangat menginginkannya." Jawaban itu terasa hangat di tubuh Trustin, jantungnya berdebar semakin cepat. Selama ini ia selalu menahan diri karena menghormati Sarah dan situasi yang sedang kacau. Namun sekarang, setelah masalah s
Ler mais