"Kamu terlalu banyak bicara, Sarah," bisik Trustin, suaranya serak dan rendah, bergetar tepat di depan bibir Sarah. "Malam ini, biarkan tubuhku yang menjelaskan seberapa besar ketakutanku kehilanganmu." Tanpa menunggu jawaban, Trustin kembali membungkam bibir Sarah. Ciuman kali ini jauh berbeda dari sebelumnya, tidak ada lagi ketergesaan yang kasar, melainkan sebuah penjelajahan yang dalam dan penuh perasaan. Lidah Trustin menyapu deretan gigi Sarah, mencari tautan yang lebih intim, menuntut balasan yang sama besarnya. Sarah mendesah pasrah, tangannya merayap naik, jemarinya menyusup ke dalam rambut Trustin yang masih sedikit lembap, menarik pria itu agar tidak memberikan celah sedikit pun di antara mereka. Tangan besar Trustin mulai bekerja. Dengan gerakan yang sangat terlatih namun penuh kelembutan, ia mengusap sisi wajah Sarah, turun ke leher, dan berhenti sejenak di denyut nadi istrinya yang berpacu kencang. Perlahan, telapak tangan yang kasar karena latihan militer itu tur
Read more