Rasa sakit yang luar biasa langsung membuat Nigel lupa untuk berbicara, sekujur tubuhnya pun meringkuk."Dia sudah bilang nggak mau, kenapa kamu masih terus mengganggunya?"Suara dingin Ardika terdengar, sorot mata dinginnya juga terpaku pada Nigel."Eh, apa hubungannya ini denganmu?"Sambil berbicara, Nigel mencoba untuk mendongak melihat Ardika.Dia juga tidak menyangka ada orang yang ikut campur urusannya."Dia adalah temanku. Kamu menyakitinya, tentu saja itu adalah urusanku."Ardika kembali mengingatkan dengan dingin, kekuatan di tangannya juga bertambah besar."Sakit, sakit, lepaskan. Aku salah, aku akan pergi, oke?"Nigel cukup penakut. Menghadapi orang yang kuat, dia sama sekali tidak mampu memberikan perlawanan, langsung mengaku kalah.Dia mengangkat kepalanya, menatap Ardika di hadapannya itu. Dia hanya merasa orang itu sangat menakutkan.Jelas-jelas hanya sorot mata dingin biasa, tetapi hanya sekali lihat sudah bisa membuat sekujur tubuh seperti diliputi hawa dingin. Orang y
Read more