Pagi itu terasa lebih sunyi bagi Nova. Rumah ini, pernah menjadi tempatnya mengukir bahagia dengan Angga tetapi sekarang rasanya untuk menarik napas saja dia kesulitan. Nova duduk di salah satu kursi di meja makan, berseberangan dengan Rachel dan Celva. Sedangkan Angga, setia dengan tahtanya di kursi bagian kepala meja. “Sayang, kenapa melamun? Ayo dimakan. Kalau udah dingin, makanannya akan tidak enak jika kamu diamkan terlalu lama.” Angga tersenyum, bersikap seolah tak ada yang mengusik Nova saat ini. Keinginan untuk memprotes dan mempertanyakan keberadaan Rachel terus berputar di kepala Nova. Tapi, dia paham, ada ketenangan yang harus dijaga. “Iya, ini aku lagi makan, kok,” jawab Nova, tersenyum kaku.Di tengah ketegangan itu, Nova menikmati makanannya dengan pandangan turun. Melihat keakraban Celva dan Rachel ibaratkan menggores luka di nadi sendiri. Perih, melihat darah daging sendiri tak menganggap kehadirannya. “Mama ahel, mau ayamnya lagi.” Suara Celva kini mengisi udara
Last Updated : 2026-02-23 Read more