MasukDemi memenuhi tuntutan orang tuanya yang terbuai oleh harta, Nova terpaksa menerima perjodohan dengan Angga, pria yang usianya dua belas tahun lebih tua dari Nova, sekaligus seorang pewaris keluarga kaya raya yang meminangnya. Awalnya, ia pikir pernikahannya akan membawa kebahagiaan yang ia dambakan. Suami mapan, tampan, dan idaman dianggap sebagai penyempurna kehidupan Nova yang selama ini kelam. Namun, tidak disangka, justru itu adalah awal petaka yang akan ia hadapi selamanya. Sisi gelap Angga pun terkuak tepat di malam pertama, menjadikan mimpi indah pun berubah menjadi trauma kelabu. Nova menjadi pelampiasan dendam Angga yang telah lama ia pendam, dendam yang menjadi rahasianya selama ini. Sampai akhirnya Nova sendiri yang mengetahui, rahasia kelam apa yang selama ini Angga sembunyikan. Demi gengsi, orang tua Nova menggadaikan kebahagiaan anaknya. Dan mereka berada di bawah kendali Angga sang penguasa. Berada di sekitar orang-orang yang haus pujian membuat Nova semakin frustasi. Berkali-kali ia mencoba mengakhiri hidup namun selalu gagal. Pernikahannya yang penuh tuntutan, dan keluarganya yang tak mendukung adalah dua hal yang paling menguras kewarasan Nova. Di tengah keputusasaan, Angga yang selalu menghantam mental Nova menguak sebuah kebenaran yang tak pernah Nova bayangkan sebelumnya.
Lihat lebih banyakBrak!!
Suara pintu kamar hotel yang ditutup kencang membuat Nova berjengit kaget. Dari cermin meja rias Nova menyambut kedatangan sosok pria yang masih setia dengan setelan jas lengkap meski acara resepsi sudah berakhir dua jam lalu.
"Mas Angga? Kamu dari mana, mas? Aku sudah menunggu kamu di sini sejak tadi," ucap Nova seulas senyum Nova pamerkan di hadapan suaminya.
Meski Nova tak mencintai sosok yang kini menjadi suaminya, tuntutan orang tua tak bisa dielak. Nova tak memiliki kuasa untuk menolak pernikahan yang tak diinginkan. Nama baik yang ia coreng tak sebanding dengan pengorbanan yang ia lakukan saat ini.
Angga menatap Nova dengan sorot tajam, "Seorang pembunuh sepertimu tidak pantas berpura-pura baik," ujar Angga sarkas sambil berdesis licik. Nova tidak mengerti kemana Angga akan membawa topik pembicaraan ini.
"A-apa maksudmu?" Nova gelagapan. Tubuhnya membeku saat Angga menatapnya dalam, bahkan penuh dendam.
Kekehan Angga sama sekali tidak menjawab kebingungan Nova . Ketukan sepatu pantofel memecah keheningan di kamar hotel yang dihiasi oleh ornamen-ornamen romantis. Namun, apalah arti keindahan itu jika Nova justru dihadapkan dengan sosok penuh misteri.
Angga yang Nova hadapi sekarang sangat berbeda dengan Angga yang ia temui satu bulan lalu. Tidak ada senyuman hangat ataupun sapaan lembut yang sempat membuat Nova terpesona di pertemuan pertama mereka.
"Kamu pikir, setelah kamu berhasil membunuh Andre, kamu bisa hidup bahagia?"
Tubuh Nova mundur selangkah demi selangkah. Seiringan dengan Angga yang mengikis jarak. Napasnya tercekat saat nama Andre keluar dari mulut pria itu. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepala, namun sikap Angga terus mendesaknya untuk memberikan sebuah pengakuan yang tak Nova ketahui.
“Bagaimana kamu bisa mengenal Andre? Siapa kamu sebenarnya?” susah payah Nova mengucapkan kalimat itu di tengah-tengah aura intimidasi Angga untuknya. Kilas balik masa lalu mulai bermain di memori ingatan Nova, bagaikan kaset film yang sedang diputar ulang.
Bukannya menjawab, Angga menjulurkan tangannya meraih tangan Nova secara paksa. Nova terkejut dengan sikap kasar Angga yang berani menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, tidak peduli sekarang Nova telah berstatus sebagai istri sahnya.
"Tolong lepaskan aku, Angga!" Teriakan Nova melolong kencang ketika Angga mengunci kedua tangannya di atas kepala tanpa ampun.
Namun, sekeras apapun Nova memohon pertolongan, pria di atasnya tetap mencekal tubuh Nova dengan kejam. Wajah Angga memerah tanda emosinya siap meluap kapan saja.
"Kamu tidak akan bisa lepas dengan mudah, Nova. Kamu adalah penyebab kematian Adikku, dan sudah seharusnya nyawa dibalas dengan nyawa," desisan kalimat di telinga Nova membuat bulu roma di sekujur tubuhnya meremang.
Sebuah fakta baru saja terungkap dan sukses membuat darah di sekujur tubuh Nova berhenti mengalir. Kulit putih mulus itu memucat disambut dengan seringaian licik Angga yang menakutkan.
Nova tidak pernah menyangka ia akan terjebak dalam dendam yang sedang menyelimuti sosok pria asing ini. Pria yang tiba-tiba ditakdirkan menjadi suaminya lewat perjodohan paksa dari orang tua.
Perpaduan hawa panas yang menjalar dan keringat dingin sebesar biji jagung sudah cukup menyiksa Nova saat ini. Dalam kungkungan tangan kekar pria pemilik rahang tegas itu, Nova mempertahankan dinding pembatas yang sudah ia bangun antara dirinya dengan Angga saat ini.
"Aku bukan pembunuh Andre, tolong percayalah."
"Untuk apa aku percaya pada pembohong berkedok wanita polos sepertimu, hah?! Mulai malam ini, kamu akan membayar semua dosa yang kamu perbuat atas kematian adikku!" ucap Angga tegas. Kedua matanya menyorot tajam bagaikan bilah mata pisau yang baru diasah.
Belum sempat Nova mencerna maksud pria yang telah resmi menjadi suaminya ini–lebih tepatnya suami paksaan–kesabaran Nova diuji oleh jemari kekar Angga yang kembali bergerayang di atas tubuh polos Nova. Jangan tanya kemana jubah mandi yang sebelumnya Nova kenakan. Kekuatan Angga sangat mampu untuk menghempaskan benda itu dalam sekali tarikan dari tubuh Nova.
"Mmpphh!!" Sebelah tangan Angga mengunci mulut Nova hingga tenggorokannya tercekat. Nova meraung di balik bekapan tangan Angga memohon ampun namun berujung sikap abai.
"Diamlah! Semakin kamu memberontak, semakin besar ambisiku untuk menghancurkan masa depanmu!" Mata Nova terpejam erat, telinganya berdengung saat Angga membentaknya.
Hati Nova rasanya pilu. Malam pertama yang seharusnya menjadi penantian setiap pengantin baru adalah malam paling mengenaskan dan meninggalkan luka trauma dalam benaknya.
Kini Angga sudah mengunci semua akses Nova untuk bergerak. Sekuat apapun Nova memberontak, tenaganya kalah jauh dengan sang suami.
Angga menatapnya dengan tatapan penuh dendam. Baru kali ini Nova melihat sorot mata penuh kebencian dari seseorang yang tidak pernah sekalipun Nova kenal sebelumnya.
Tuntutan orang tuanya untuk menjaga nama baik keluarga berujung petaka. Sosok pria yang tiba-tiba datang dengan segala pesona dan kata-kata manisnya kini berubah menjadi serigala buas yang siap menerkam mangsanya di atas ranjang.
Sorot kebencian itu berubah dalam sepersekian detik saat melihat tubuh polos Nova, "aku tidak menyangka kamu memiliki tubuh yang indah. Ternyata aku tidak salah mengambil keputusan."
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik setelah ini. Tentu hanya di depan banyak orang," bisik Angga di telinga Nova. Hembusan napasnya menderu mengenai leher hingga wanita itu bergidik geli.
Angga telah sepenuhnya menguasai tubuhnya dengan leluasa. Bahkan Angga sangat lihai memainkan perannya sebagai figur suami untuk memenuhi nafkah batin Nova sebagai seorang istri.
Namun, siapa yang menyangka jika pernikahan yang sebelumnya Nova pikir akan membawanya kepada kebahagiaan setelah ditinggalkan oleh mendiang Andre–sang mantan kekasih–setelah kasus pembunuhan itu, justru berujung petaka. Nova terjebak bersama sosok yang tidak akan pernah melepaskan dirinya dalam kebahagiaan.
“Bersiaplah, sayang. Aku akan memberikan kenikmatan yang tidak pernah bisa kamu dapatkan dari lelaki manapun. Anggap saja malam ini adalah malam perkenalan kita. Satu bulan saling menyapa tidak menjamin kamu mengenalku dengan baik, bukan?” Angga menyeringai, senyum miringnya telah mendoktrin Nova bagaimana perangai asli pria itu di balik sikap ramah dan label CEO muda dermawan yang dibanggakan banyak orang.
Angga melepaskan satu per satu kancing kemeja dengan sebelah tangan. Begitu mahir mendominasi suasana dengan kekuasaannya.
“Mpph!! Lephas kan aku!” Nova rasa ia sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaga yang ia punya untuk mengucapkan itu, namun, tangan Angga terlalu kuat untuk meredam suaranya.
“Kamu cukup keras kepala rupanya. Tidak masalah, aku tertarik dengan wanita yang suka memberi tantangan. Bersiaplah, kamu akan melahirkan penerusku dengan kualitas terbaik,” ucap Angga lalu merapatkan tubuhnya menindih Nova yang terus memberontak tak terima.
Malam pertama pernikahannya akan menjadi mimpi buruk yang tak pernah Nova bayangkan sebelumnya. Nova bersumpah, ia tak akan melupakan malam yang sudah membuat seluruh dunianya direnggut paksa oleh penderitaan tak berujung.
Di atas kursi roda dengan selang infus masih menempel di tangan, Angga menghirup udara segar yang menyelimutinya sejak lima belas menit lalu. Matanya diam-diam mengintai langkah dan tawa anak kecil saling bersahutan yang mengisi telinganya. “Ini sarapanmu, Tuan.” Kursi beton di pinggiran taman tepat di samping Angga terisi. Chris datang bersama baki berisi nasi dan sup ayam dengan uap yang masih mengepul di atas mangkuk. Angga hanya menatap setiap gelagat pria itu dalam diam. Masih mencerna fakta bahwa sosok di depannya kini adalah saksi hidup yang menyimpan rekaman rahasia masa lalu perjalanan cinta dan fakta kelam keluarganya. “Tuan, kau baik-baik saja?” Chris bertanya lagi saat tidak melihat reaksi apapun dari Angga. “Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikan itu!” tegas Angga, kilat matanya tajam. “Mulai detik ini kau kupecat!” Keputusan itu terdengar seperti petir yang mengintai masa depan Chris. Wajah pria itu berubah kaku, bibir bawahnya bergetar kecil. Sesuatu yang m
Langit sudah berubah menjadi keabuan saat Angga membuka matanya perlahan. Dinding kamar serba biru, dan detak jarum jam mendominasi keheningan di ruangan itu mengajarkan ketenangan dalam diam. Bulu mata lentik Angga bergetar kecil, dadanya masih nyeri sesekali, dan kepalanya masih berdenyut. Sebelah tangan terangkat pelan, nyaris tak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar memijat pelipis. “Angga? Kamu sudah bangun?” Seseorang di samping Angga berdiri, disusul derit kursi yang memekak telinga. Pandangan Angga teralih padanya. Wajah cantik pemilik sorot mata indah itu kini berdiri setengah menunduk demi mensejajari sudut pandang. Kulit pucat wanita itu dan rahang yang menirus, seakan memberitahu Angga banyak hal yang dititipkan di pundaknya. “Sayang…” Angga berucap lirih di balik masker oksigen yang menutupi hidungnya. Mata sesekali mengerjap mengoreksi fokus penglihatan. “Aku… kenapa?” Senyum lega di wajah Nova lepas setelah berjam-jam dikekang rasa khawatir. “Penyakit jantung kamu
Awan hitam menggantung rendah di langit pekat. Bintang-bintang yang biasanya bertabur menghias malam tak satupun menunjukkan dirinya. Gemuruh petir pelan menyambar. Bergantian dengan kilat keemasan yang muncul sepersekian detik di langit malam ini. Angga masih duduk di kursi yang sama, setelah kepergian Chris beberapa jam lalu. Dadanya nyeri tiap kali dia berusaha menyanggah kenyataan bahwa, dirinya adalah akar dari semua kekacauan yang ada. “Ini kopi hitamnya, Tuan.” Seorang pelayan menaruh cangkir kopi panas di sisi kanan meja kerjanya, lalu bergegas pamit karena tak cukup memiliki keberanian menghadapi Angga dengan segala suasana hatinya yang memburuk. Pandangan Angga bergeser pelan, pada cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis ke udara. Permukaannya nampak tenang, dalam dan keruh seolah sepakat menggambarkan isi pikiran Angga selama ini. Fakta bahwa Andre memilih mengirim video perselingkuhannya dulu dengan sengaja pada Nova, adalah hal yang tidak pernah Angga sangka seb
Ruang kerja itu terasa lebih hidup. Dinding yang semula dicat dengan warna gelap, mengalami perubahan drastis di setiap permukaannya. Warna hitam kelam berganti jadi warna putih bersih yang diselingi dengan warna biru langit di beberapa sisi tertentu. Meja besar yang terlihat gagah, berdiri tegak tak jauh dari jendela besar di belakangnya. Setiap sudutnya sempurna. Di atasnya, satu laptop berdiri dengan posisi terbuka. Sinar layarnya redup karena terlalu lama diabaikan oleh sang pemilik. Di belakang meja kerja itu, ada singgasana lain yang menjelaskan kembalinya sebuah kekuasaan yang sempat hilang dari tangan seorang pria bernama Savangga. Kursi dengan punggung tinggi itu berputar pelan kala pemandangan di luar jendela tidak lagi menarik perhatiannya. “Jadi, sebenarnya siapa dirimu?” Tatapan Angga kini memaku sosok pria tinggi kurus dengan kacamata yangs etia bertengger di hidungnya. Sebuah dokumen disodorkan padanya dengan satu jari. “Apa aku harus mencari tahu sendiri kebenaranny
Angin malam terasa menusuk kulit. Untuk Nova yang berdiri diantara hembusannya perlu memeluk tubuhnya sendiri demi sebuah perlindungan. Rachel menarik kursi, lalu mempersilahkannya duduk di sana. “Duduk dulu, Mbak. Supaya kita lebih nyaman ngobrolnya,” katanya sambil tersenyum hangat. “Terima kas
Bola-bola berhamburan di udara. Riak tawa anak kecil saling bersahutan mengelilingi Nova yang berdiri di ujung arena bermain papan seluncur. Di atas sana, Angga melambaikan tangannya bersama dengan Celva dalam pelukan. “Mama, kami datang!” teriaknya dari kejauhan. Sebelah tangan Nova terangkat ke
Pagi itu terasa lebih sunyi bagi Nova. Rumah ini, pernah menjadi tempatnya mengukir bahagia dengan Angga tetapi sekarang rasanya untuk menarik napas saja dia kesulitan. Nova duduk di salah satu kursi di meja makan, berseberangan dengan Rachel dan Celva. Sedangkan Angga, setia dengan tahtanya di ku
Di bawah langit malam yang gelap, Nova berlindung menutupi air matanya yang jatuh satu per satu ke pipi. Tidak peduli seberapa nyeri angin malam.menghunus kulitnya, dia tetap berdiri di sana. Halaman belakang yang dia rindukan sejak lama. Tempat di mana dulu selalu menjadi peraduannya kala gundah.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak