Ruangan dipenuhi suara riang. Tapi bagi Daniel, suara itu laun-laun teredam, tergantikan oleh memberatnya detak jantungnya sendiri. Dia putuskan menjadi pendengar, memperhatikan detail demi detail menyakitkan. Juna tampak jauh berbeda dibanding beberapa bulan silam saat masih terikat dalam dinginnya pernikahan formal dengan putri Siska Admaji. Di sini, di depan Jihan, tawa Juna lepas. Tatapan matanya hidup, penuh dengan binar protektif yang belum pernah Daniel lihat semula. Setiap beberapa detik, mata Juna akan melirik Jihan, memastikan gadis itu makan dengan baik, memastikannya tidak tersedak--segalanya demi membuat gadis itu gembira. Sebaliknya, pertahanan yang dahulu selalu Jihan bangun di depan pria kaya seperti Juna, kini runtuh total. Dia memotong kalimat Juna tanpa sungkan. Menggoda balik tanpa takut menyinggung ego sang direktur. Menepis pelan tangan Juna saat pria itu mencoba membersihkan noda saus di sudut bibirnya—bentuk gelagat penolakan yang justru t
Ler mais