Jihan Pitaloka nyaris tidak memiliki ruang untuk bernapas lega. Revisi yang datang bertubi-tubi dari dosen pembimbing membuatnya kembali mengutak-atik bab demi bab skripsi yang sudah ia anggap selesai. Namun kata 'selesai' di dunia akademik selalu punya makna yang lebih kejam dari sekadar penutup. Faktanya, belum selesai dan terus seperti itu. Pagi ini dia duduk di sudut perpustakaan kampus dengan tatapan kosong yang berusaha keras tetap fokus pada layar laptop. Tangan kanannya memegang stabilo, lalu tangan kiri sesekali meremas pelipis."Kepalaku rasanya mau pecah..." Kalimat itu keluar lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Di sekitarnya, mahasiswa lain sibuk dengan urusan masing-masing. Dunia berjalan normal, seolah tidak ada yang sedang berjuang melawan tumpukan teori dan referensi seperti yang dia hadapi.Sejemang, Jihan hela napasnya cukup panjang. Dia kembali mengetik, hapus, tulis ulang, terus seperti itu sampai ketidakpercayaan diri menyebabkan dia
Read more