Bibir Arshaka membungkam mulut Wilona dengan brutal. Tidak ada kelembutan di sana, hanya ada dominasi dan rasa lapar yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Ciuman itu dalam, menuntut, dan seolah ingin melahap seluruh kewarasan yang tersisa. Dari bibir yang membengkak, bibir Arshaka turun menyapu rahang Wilona, menggigit pelan leher jenjangnya, dan terus turun ke bawah."Nghhh... Arshaka..." Wilona hanya bisa melenguh, jari-jarinya meremas rambut legam pria itu, memohon tanpa kata agar pria itu memberikan lebih.Sadar pakaian basahnya hanya menjadi penghalang, Arshaka menarik diri sejenak. Dengan satu gerakan kasar dan gagah, ia melepas kemejanya yang basah kuyup, membuangnya sembarangan ke lantai marmer. Tubuh atasnya yang atletis terekspos sempurna. Bahu yang lebar, otot perut yang tercetak jelas, dan dada bidang yang naik turun dihiasi sisa-sisa tetesan air.Tanpa aba-aba, Arshaka merengkuh pinggang Wilona, mengangkat wanita itu dan menggendongnya hingga wajah mereka sejajar. Wilon
Read more