Home / Rumah Tangga / Nikahi Mamaku, Om! / Anda Bisa Memakai Perempuan Ini

Share

Anda Bisa Memakai Perempuan Ini

Author: Jamilah
last update publish date: 2024-05-11 22:29:50

“Bos!” Empat pria langsung menunduk menyambut kedatangan bos mereka.

Arshaka melirik sekilas. “Di mana?” tanyanya dengan ekspresi datar, tapi setiap katanya penuh penekanan.

“Mereka membawanya masuk.”

Tanpa basa-basi, Arshaka langsung berjalan masuk dengan postur tegas. Dada bidang yang tidak sengaja dibusungkan terlihat jelas. Tangan yang mengepal juga menambah kesan garang dari wajah bos besar Grup Gamala –yang paling disegani di kota itu.

Melihatnya berjalan mendekati pintu masuk, beberapa l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nikahi Mamaku, Om!   Semangkuk Rasa Pedas

    Wilona menghentikan langkahnya tepat di ujung lorong. Ia menunduk menatap Arjuna yang masih menggenggam tangannya."Arjuna, Sayang. Kamu masuk ke kamar duluan, ya? Ganti baju. Mama ada urusan sebentar sama Om," bisik Wilona lembut, sengaja membuat suaranya senormal mungkin.Arjuna mengangguk patuh dan melenggang masuk ke kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, kelembutan di wajah Wilona seketika menguap. Ia memutar tubuhnya, melangkah cepat dengan tumit mengentak lantai, kembali menuju ruang tengah.Arshaka masih duduk di sana, bersandar santai di sofa dengan tablet di pangkuannya.Wilona berhenti tepat di hadapan pria itu, berkacak pinggang. "Bisa ulangi ucapanmu barusan?"Arshaka perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Wilona dengan tenang. "Kalau mau pergi, bilang."Dada Wilona naik-turun menahan emosi. "Sejak kapan aku butuh izin darimu jika ingin keluar rumah?"Sudut bibir Arshaka berkedut, membentuk senyum miring yang sangat menyebalkan. "Tahu posisimu, Wilona.""Posisiku?"

  • Nikahi Mamaku, Om!   Tahu Posisimu

    Wilona masih terpaku, menatap pria berkemeja rapi di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya.“Samuel?”Pria itu membalas dengan senyum lebar yang hangat. “Masih ingat rupanya?”Wilona terkekeh pelan, rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi kelegaan. “Bagaimana mungkin aku lupa?”Samuel adalah salah satu teman masa kuliahnya dulu. Mereka memang bukan sahabat karib yang tak terpisahkan, tetapi cukup sering menghabiskan waktu bersama di sela-sela jadwal kelas dan tugas kelompok.Mata Wilona memindai penampilan pria itu dari atas ke bawah. Rapi. Sangat khas. “Sedang apa kamu di sini?”“Aku sekarang mengajar di SD Pelita,” jawab Samuel bangga.Satu alis Wilona terangkat tinggi. “Sekolah Arjuna?”Samuel mengangguk mantap. “Iya.”“Serius?”“Serius.”Wilona tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa seorang guru malah berkeliaran santai di kafe saat jam sekolah masih berlangsung?”Samuel ikut tertawa, suara tawanya renyah dan menenangkan. “Aman. Jadwal mengajarku hari ini baru

  • Nikahi Mamaku, Om!   Ancaman Eleanor

    Suasana di ruang makan perlahan kembali tenang, menyisakan denting pelan peralatan makan yang beradu dengan porselen.Eleanor duduk tegak bak seorang ratu di singgasananya. Tangannya yang mulai dihiasi keriput masih bertumpu anggun pada gagang tongkat hitam di sisi kursinya. Wajah wanita tua itu tampak tenang, tetapi sepasang mata elangnya tidak pernah benar-benar beristirahat dari mengawasi sekitar.Di seberangnya, Arshaka menyantap sarapannya dengan kelewat santai, seolah percakapan tentang pertunangannya barusan hanyalah selingan diskusi cuaca pagi.Namun, Eleanor tidak bisa ditipu. Beberapa menit sebelumnya, tepat saat Wilona berbalik meninggalkan area dapur, mata cucunya itu sempat mengekor ke arah punggung si perempuan. Hanya sepersekian detik. Sangat samar. Tetapi Eleanor melihatnya. Tentu saja ia melihatnya. Tidak ada yang luput dari pandangan Nyonya Besar Gamala.Tok.Eleanor meletakkan garpunya perlahan. Arshaka mengangkat wajah. "Ada apa, Nenek?""Aku dengar kau sedang bers

  • Nikahi Mamaku, Om!   Eleanor Gamala

    Udara di dalam rumah besar itu mendadak terasa kaku.Begitu kabar kedatangan Nyonya Besar menyebar, aktivitas yang semula santai berubah menjadi kepanikan yang terorganisir. Para pelayan bergegas menyejajarkan diri di dekat pintu utama, menunduk dalam diam. Para pengawal yang berjaga di halaman pun serta-merta meluruskan postur mereka, berdiri tegap tanpa berani mengeluarkan suara sekecil apa pun.Sebuah sedan hitam mewah meluncur mulus dan berhenti tepat di depan tangga pualam.Seorang pengawal bergegas membukakan pintu. Dari dalam sana, seorang wanita tua turun perlahan. Rambutnya yang telah sepenuhnya memutih ditata dalam sanggul klasik yang tanpa cela. Pakaiannya tampak sederhana, namun dari potongan dan kainnya, siapa pun tahu harganya tidak masuk akal. Di tangan kanannya, sebuah tongkat kayu hitam bergagang emas berukir digenggam erat—simbol otoritas yang selalu menyertainya.Eleanor Gamala. Nyonya Besar klan Gamala.Sebuah nama yang cukup untuk membuat para petinggi bisnis menu

  • Nikahi Mamaku, Om!   Merebut Kembali Hati Arjuna

    Dini hari merengkuh rumah besar itu dalam keheningan.Hanya pendar kekuningan dari beberapa lampu dinding yang memecah gulita di sepanjang lorong panjang. Aktivitas para pelayan telah lama surut, menyisakan penjaga-penjaga berpakaian gelap yang berdiri tegak di pos masing-masing bak patung batu, berjaga tanpa suara.Kemudian, pintu utama berderit pelan saat didorong terbuka. Arshaka melangkah masuk.Jas hitam yang membalut tubuh jangkungnya masih tampak rapi, meski beberapa lipatan kecil mengkhianati hari yang panjang. Wajahnya sedatar pahatan es, seolah malam penuh ketegangan yang baru saja dilewatinya sama sekali tidak menguras tenaganya.Seorang pelayan paruh baya yang berjaga di dekat pintu segera menghampiri, menunduk hormat. "Selamat datang, Tuan."Arshaka hanya membalas dengan anggukan singkat. Pelayan itu sigap menerima jas yang dilepas Arshaka dengan kedua tangan. Setelah beban di bahunya terangkat, pria itu melonggarkan kancing kerah kemejanya dan menyesuaikan tali jam tanga

  • Nikahi Mamaku, Om!   Harga yang Harus Dibayar

    Aroma anyir karat dan udara lembap mendominasi gudang pengap yang nyaris tak berventilasi itu. Di bawah temaram beberapa lampu gantung yang sesekali berkedip, bayangan tumpukan peti kayu tua dan drum kosong tampak memanjang seperti monster yang mengintai. Lantai semennya kasar, dipenuhi noda pekat yang lebih baik tidak usah dicari tahu asalnya.Suara langkah kaki berat menggema, memecah kesunyian. Dua orang pria bertubuh kekar menyeret seseorang masuk tanpa ampun.“Lepaskan aku! Lepaskan aku, sialan!” pria yang diseret itu meronta putus asa. Kedua tangannya terikat kuat di belakang punggung, matanya tertutup kain gelap, dan wajahnya sudah babak belur akibat ‘pemanasan’ selama perjalanan. “Siapa kalian?! Kalian mau apa dariku?!”Tidak ada jawaban. Salah seorang penjaga hanya mendengus, menarik kerah pria itu dengan kasar, lalu—Bruk!Tubuh Randi dilemparkan begitu saja ke lantai. Ia meringis keras saat telapak tangannya bergesekan dengan permukaan semen yang kasar. Panik, Randi berusaha

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jangan Sentuh Apapun

    Jika ada yang lebih cepat dari kedipan mata, itu adalah waktu yang dilalui oleh Wilona. Rasanya baru kemarin mereka menjadi tawanan di rumah rentenir itu, sekarang sudah satu minggu berlalu sejak saat itu.Selain pekerjaannya yang berbeda, kehidupan mereka juga banyak berubah. Salah satunya, ia har

  • Nikahi Mamaku, Om!   Sarapan yang Berisik

    Matahari yang semakin tinggi di luar mengembalikan kesadaran Wilona secara perlahan. Cahaya terang yang menyelinap di balik tirai membuat mata wanita itu mengerjap.Silau dan hangat. Itulah kesan sesaat yang ia rasakan. Sebelum bagian kosong di samping akhirnya menyadarkannya.“Arjuna!” Wilona meme

  • Nikahi Mamaku, Om!   Pindah ke Rumah Rentenir

    “Kamu yakin cuma ini?”Satu tas berukuran tidak terlalu besar yang Wilona bawa setelah mengemasi barang-barang, membuat dahi Arshaka mengerut. Untuk orang yang akan pindahan, bukankah bawaannya terlalu sedikit?“Aku sudah membawa semua yang kami butuhkan,” ucap Wilona, “kenapa? Kamu berharap aku ju

  • Nikahi Mamaku, Om!   Rumah Disita, Tawaran Tinggal Bersama

    Setelah semalaman bulan menggantung, kini giliran matahari yang perlahan naik ke peraduan. Kedua mata Arshaka mengerjap ketika mendengar alarm yang tak kunjung berhenti dari tadi. Tak perlu menoleh, ia segera meraih benda pipih di atas nakas dan melihat pukul berapa sekarang. Namun saat ia melihat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status