Begitu Nathan selesai berbicara, para wanita itu perlahan mengangkat kepala. Tatapan mereka menunjukkan perasaan yang selama ini tersimpan, tanpa perlu banyak kata untuk menjelaskannya.“Nathan, kami datang ke sini atas kemauan sendiri,” ujar Sheerena dengan berani. “Kami menyukaimu dan tidak peduli soal gelar atau status. Kami hanya ingin berada di sisimu. Malam ini, kami ingin menjadi wanitamu.”“Benar, kami juga menginginkannya,” sahut para gadis lainnya.Meski pipi mereka masih merona, tak seorang pun mengalihkan pandangan dari Nathan. Keraguan yang semula menyelimuti kamar itu perlahan sirna, digantikan keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini mereka pendam.Nathan mengangkat tangan untuk menyentuh pipi Sheerena, lalu mendekatkan wajahnya perlahan. Sheerena membalas tatapannya dengan lembut, membiarkan jarak di antara mereka menyusut hingga napas keduanya terasa begitu dekat. Sesaat kemudian, Nathan mengecup bibirnya dengan lembut. Sheerena memejamkan mata, membala
Baca selengkapnya