Ruang tengah itu mendadak kehilangan seluruh suplainya akan udara.Kesunyian yang tercipta pasca-pengakuan Rosa terasa begitu pekat, menindih dada siapa pun yang ada di sana hingga terasa sesak.Naina yang duduk di sudut sofa langsung membekap mulutnya sendiri, air matanya ikut meleleh melihat bagaimana takdir sedang menguliti sahabatnya dengan cara yang begitu kejam.Liam menatap layar laptop, lalu beralih menatap Rosa yang duduk mematung dengan pandangan kosong.Tubuh pria itu bergetar hebat.Rasa bersalah yang selama berbulan-bulan ini membakar dirinya, kini berubah menjadi sebuah kehancuran mental yang mutlak."Ros..." suara Liam tercekat, nyaris tak terdengar.Dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke lantai, berlutut dan mencoba meraih kaki Rosa dengan tangan yang gemetar."Rosa, aku... demi Allah, aku nggak tahu... Aku nggak pernah tahu kalau perusahaan Ayah dulu...""Jangan sentuh aku dulu, Mas. Tolong," potong Rosa, suaranya sangat pelan, sangat tenang, namun getaran luka di dalamn
Read more