Sembilan bulan berlalu sejak tangis penyesalan dan pengampunan bergema di lereng Gunung Lawu. Waktu berjalan seperti air yang mengalir perlahan, mengikis satu per satu batuan tajam trauma yang selama ini menyumbat aliran kebahagiaan di antara Liam dan Rosa.Segala bentuk kemewahan palsu yang dulu menjadi pemicu petaka telah mereka tanggalkan tanpa sisa. Rumah utama yang penuh kenangan pahit, saham-saham warisan yang tercemar sengketa, hingga posisi mentereng Liam di ibu kota, semuanya telah dilepaskan dan dialihkan untuk mendanai panti asuhan serta yayasan sosial korban kecelakaan kerja.Kini, mereka berada di sebuah kota yang jauh lebih tenang, di pinggiran Jogjakarta, tempat di mana langit sore selalu berwarna jingga hangat tanpa sekat kepulan polusi.Liam membangun kembali hidupnya dari titik paling dasar. Tidak ada lagi setelan jas mewah seharga puluhan juta atau ratusan karyawan yang membungkuk hormat. Pria tegap itu kini hanya memimpin sebuah perusahaan kontraktor lokal kecil-ke
Read more