Napas Liam memburu, dan Shireen tahu kata-katanya tepat sasaran. “Mulai malam ini... aku bukan lagi perempuan yang bisa kamu hina atau tinggalkan begitu saja,” bisik Shireen, suaranya bergetar tapi mantap. “Aku milikmu, Liam Lawrence.” Shireen menunduk sedikit, mendekat, hingga jarak mereka hanya sejengkal. “Aku ingin kamu berjanji. Tidak akan mengkhianatiku. Tidak akan meninggalkanku. Jika aku menyerahkan semuanya padamu... kamu harus menjaminku, Liam.” Suara Shireen lirih, tapi dalam. Liam terdiam lama. Pandangannya berubah, bukan lagi dingin, melainkan ada sesuatu yang hampir menyerah. Ia mengangkat tangan dan menyentuh wajah Shireen, perlahan, seolah takut menyakitinya. “Shireen…,” ucapnya pelan, hampir seperti sebuah helaan napas. Tatapan mereka bertemu, mata dengan mata, luka dengan luka. Udara di antara mereka menegang, seperti tarikan magnet yang tak bisa ditolak. “Kamu terlalu terbiasa menguasai, Liam,” bisik Shireen, “tapi malam ini... biarkan aku yang memegang
Baca selengkapnya