"Uuuhh...!" Kinanti menghempaskan napas menahan rasa kesal. "Kalau begitu sekalian saja kau selesaikan urusan itu.""Mana mungkin bisa kuselesaikan?""Apakah kau tak becus menghitung jumlah biaya makan kita!""Soal menghitung, becus saja. Tapi apa kau sangka aku sekarang punya uang? Aku sedang tak mempunyai uang sepeser pun, Kinanti!""Ya, ampuun... jadi siapa yang mau bayar biaya makan, minum, dan bermalam kita itu?""Tentu saja kau yang harus bayar, karena kau yang mendesak untuk bermalam di situ.""Kau pikir sekarang aku pegang uang? Sepeser pun aku tak pegang uang, Baraka.""Mampuslah kalau begini! Kasihan Ki Punjul, dagangan habis tapi uang tak dapat," Baraka garuk-garuk kepala. "Baiklah, kita kembali ke kedai dan bicara apa adanya kepada KI Punjul. Kurasa dia tidak keberatan kalau kita menghutang kepadanya."Malu tak malu mereka berdua menemui KI Punjul lagi dan mengatakan keadaan sebenarnya. Untung Ki Punjul orang yang b
Ler mais