Alan sudah berlari sebelum otaknya selesai memproses apa yang dilihat matanya.Enam langkah. Lima. Empat.Pintu kamar nomor tiga terbuka dari dalam sebelum ia sampai.Seorang pemuda melangkah keluar dengan santai, menutup pintu di belakangnya, lalu bersandar ke dinding koridor sambil melipat kedua tangan.Alan berhenti dua meter di depannya, napasnya terengah-engah.Pemuda itu berusia awal dua puluhan. Kurus, tinggi sedang, rambut hitam berantakan. Mengenakan seragam biru muda petugas kebersihan Rumah Sakit Santa Verde, lengkap dengan tanda pengenal yang tergantung miring di dadanya.Di tangan kirinya, selembar kertas terlipat.Di tangan kanannya, sebuah pistol dengan peredam, digenggam santai dan diarahkan ke lantai."Halo, Mas," ucapnya sambil tersenyum lebar. "Kita ketemu lagi."Alan membeku."Kau …""Wah, Mas ingat aku?" Pemuda itu tampak benar-benar senang. "Padahal cuma sebentar.
Read more