Tidak ada yang bergerak selama lima detik penuh.Pria di layar itu menyesap kopinya, mengembalikan cangkir ke atas piringnya dengan bunyi kecil yang terdengar jelas lewat pengeras suara, lalu bersandar ke kursinya."Wah, banyak sekali," ucapnya sambil menyipitkan mata ke arah kamera. "Bentar, ya, Bapak hitung dulu."Ia menunjuk ke layar dengan jari telunjuknya."Satu … dua … tiga … lima. Lima keponakan." Ia mengangguk puas. "Bagus. Bagus sekali. Cepat juga kerjanya, Nak.""Johnny," ucap Alan pelan. "Matikan.""Aku tidak bisa, Bos! Dia masuk lewat perangkat keras satelitnya, bukan lewat jaringan! Aku harus naik ke atap dan memotong kabelnya!""Jangan repot-repot," ucap Salvador Cruz. "Bapak cuma perlu sepuluh menit. Setelah itu Bapak keluar sendiri."Ia mengangkat cangkirnya lagi."Kalian mau kopi? Bapak bikin sendiri, lho. Bukan yang instan."***Kat mengangkat senapannya dan mengarahkannya ke layar."Kapten," ucap Rahu cepat. "Itu layar.""Aku tahu itu layar." Ia menurunkan senapanny
Read more