MasukAlan berasal dari keluarga miskin dan seorang yatim piatu. Ia diselamatkan oleh seorang bos mafia terkenal dan dijadikan tangan kanannya. ‘Pergilah cari keenam putriku, mereka dalam bahaya!’ Itulah kata terakhir yang terucap dari Alexander Hood sebelum akhirnya ia meninggal dengan misterius. Namun, Alan tak menyangka jika anak-anak Alexander Hood merupakaan jelmaan bidadari yang seksi dan memesona. Selain menahan para musuh yang berusaha mencelakai mereka, Alan juga harus menahan dirinya untuk tak tergoda 'rayuan' putri-putri cantik ketua mafia paling hebat itu. Follow Instagram Author di M_Titanto
Lihat lebih banyakAlan Dominic turun dari sebuah jet privat yang terparkir di hangar bandara khusus dengan tatapan tajam. Ia berjalan santai dengan setelan baju seadanya tanpa mengenakan aksesoris mewah di tubuhnya. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja memakamkan Alexander Hood, guru sekaligus ketua gangster terkenal dan terkaya di negara Megapolis.
‘Pergilah cari enam putriku, mereka dalam bahaya!’Itulah kata terakhir yang terucap dari Alex sebelum akhirnya ia meninggal dengan misterius.Sebelum menjadi tangan kanan sang ketua mafia terbesar dan terkaya itu, Alan hanyalah anak yatim piatu yang hidup dengan keadaan miskin. Ia pun tidak bekerja kecuali berdagang di kampungnya yang telah dibakar oleh kelompok mafia bengis.Namun, kedatangan kelompok milik Alexander Hood mengubah kampungnya menjadi lebih makmur. Bahkan, Alan dan beberapa pemuda di kampungnya diadopsi langsung oleh Alexander dan ditempa menjadi anggota mereka. Tapi hal berbeda justru terjadi pada Alan. Ia malah dijadikan tangan kanannya.Kini, setelah didaulat menjadi pemimpin baru ketua mafia, misi pertama yang diemban Alan adalah mencari keenam putri Alexander Hood itu.“Hei gembel, berhenti!”Alan yang tengah menggeret kopernya berhenti setelah mendengar perkataan seseorang yang memangginya dengan nada tinggi. Ia menatap pria yang memintanya berhenti dengan tenang.“Apa kau tahu kau tengah berjalan di mana?”Alan melihat sebuah lorong yang sengaja dikosongkan dan ditandai dengan tulisan ‘VVIP’.Tentu saja ia paham, ini merupakan jalan yang memang sudah disiapkan untuknya. Semua ini sudah diatur oleh perwakilan kelompok mafianya yang ada di kota ini, sejak ia masih sibuk memakamkan sang guru.“Tentu saja, ini untuk tamu VVIP, ‘kan?” ucap Alan santai.Pria dengan jas itu menggeram, ia terlihat kesal karena Alan tidak menggubrisnya betul-betul.“Kalau bisa baca, kenapa laki-laki gembel dengan pakain lusuh sepertimu mau melewatinya?” bentaknya dengan geram pada Alan.Alan melihat nametag si pria yang tertulis “Dovioso”, lalu ia memandang wajahnya dengan santai. Ia berusaha untuk menyelesaikan hal itu dengan kekeluargaan. Dengan tenangnya ia mengatakan hal yang tak diduga si pria itu.“Karena ini memang disiapkan untukku.”Mata laki-laki yang ternyata bagian keamanan bandara itu membulat. Bisa-bisanya laki-laki gembel di depannya berkata seperti itu.“Aku kira awalnya kau ini buta, tapi ternyata hanya bodoh saja! Apa kau mau mati?! Kau tidak tahu siapa yang seharusnya melewati jalan ini?”Alan hanya membalasnya dengan diam sambil menatap si petugas keamanan dengan tenang. Beberapa orang yang lalu-lalang tampak melihat percakapan mereka berdua. Banyak yang merasa penasaran, tapi banyak juga yang pergi berlalu saja.“Lebih baik kau sekarang pergi atau…”Kedua tangan Alan langsung dibekap dan dipiting di belakang seperti seorang kriminal.“Sekali kau menarik tanganku, kau akan menyesal…”Deg!Si petugas keamanan membeku, aura yang dikeluarkan oleh Alan begitu ‘berat’, bahkan tangannya seketika lesu. Ia belum pernah merasakan aura seseorang yang begitu mengintimidasi.“Dasar gembel bodoh! Kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa, hah!”“Kau baru bertugas, ya?”Si pria yang tadinya memasang wajah garang tiba-tiba mengkerutkan keningnya setelah mendengar perkataan Alan.“Lebih baik segera panggil teman-temanmu atau segalanya akan semakin rumit. Aku sedang tidak dalam emosi yang bagus, mengerti?”Alan menatap pria itu dengan tajam. Setelah memakamkan sang guru; Alex, emosinya tengah tidak setabil.“Bajingan! Gembel sepertimu tidak pantas berbicara seperti itu padaku. Sepertinya kau memang mencari masalah, ya?”Dengan emosi yang memuncak, ia hendak memukul Alan yang tak bergerak sesentipun dengan salah satu tangannya. Sampai tiba-tiba…“Tuan, Anda sudah sampai?!”Namun, belum sempat ia melakukan sesuatu, tiba-tiba seseorang dengan mengenakan setelan jas rapi dan sebuah kacamata hitam menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Sepertinya ia baru saja terburu-buru.“Kakak, syukurlah kau datang. Aku baru saja akan melakukan kekerasan pada gembel ini! Dia memaksa untuk masuk ke lorong ini!” ucap si petugas keamanan.Sosok yang dipanggil kakak seketika terkejut. Ia semakin melotot ketika si pria bernama Dovioso di nametag-nya itu menyebut kata ‘gembel’!“Kalau saja aku boleh mengatakannya, lorong ini untuk Tuan Alan Dominic! Gembel ini tentu akan dicincang karena berani melewati jalan yang sudah disiapkan untuk ketua mafia paling hebat itu!”Si pria kini tak hanya melotot, namun keningnya berkeringat dan wajahnya seketika pucat. Ia menatap Alan yang tak bereaksi sedikitpun, bahkan ketika ada seseorang yang menyebutnya sebagai gembel!Plak!Dovioso memegangi pipinya yang memerah dan menatap atasannya dengan terkejut sekaligus bingung. Ia ditampar oleh atasannya itu.“Apa kau gila! Aku sudah mengirimkan foto orang yang akan melewati jalan ini, ‘kan?! Apa kau tidak melihatnya di ponselmu?”Dovioso merinding, ia memang belum mengecek ponselnya sejak pagi. Lalu, dengan gemetar, ia membuka ponselnya dan membaca pesan yang ada di grup petugas keamanan yang akan mengamankan kedatangan Alan Dominic.Pria itu seketika terduduk lemas, ia menatap Alan dan ponselnya berulang kali. Seketika, nyawanya terasa terlepas dari tubuhnya. Dengan terbata-bata ia memohon dengan wajah yang begitu memelas.“A… Anda Tuan Alan Dominic?”Rumah itu tidak seperti yang mereka bayangkan.Bukan mansion. Bukan benteng. Bukan gedung dengan pagar tinggi dan kamera di setiap sudut.Sebuah rumah batu berlantai dua di pinggir jalan sempit, dengan cat krem yang sudah mengelupas di beberapa bagian, pot-pot tanaman di teras yang jelas disiram secara teratur, dan sebuah sepeda tua bersandar di dinding samping.Pintunya memang tidak dikunci."Aku tidak suka ini," ucap Rahu untuk kesekian kalinya."Kau tidak menyukai apa pun sejak kita turun dari kapal," ucap Kat."Karena tidak ada yang layak disukai sejak kita turun dari kapal."Alan mendorong pintu itu perlahan.Bau yang keluar dari dalam bukan bau mesiu atau minyak senjata.Bau roti panggang.***Ruang tamunya sempit dan penuh.Rak buku menutupi dua dinding dari lantai sampai langit-langit, penuh sesak sampai ada buku yang ditidurkan di atas deretan buku lain. Sebuah sofa t
Langkah kaki itu terdengar dari sisi utara alun-alun.Satu orang. Sepatu kulit keras di atas batu. Tidak terburu-buru.Alan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.Kat yang menoleh, dan tangannya langsung mengencang di senapannya.Pria itu berjalan melewati barisan orang bersenjata yang berdiri diam di balik pilar, dan tidak satu pun dari mereka bergerak. Ia mengenakan setelan hitam sederhana tanpa dasi. Rambut cepak beruban. Dan di sisi kanan wajahnya, bekas luka memanjang dari pelipis sampai ke rahang.Ia berhenti di ujung meja, menarik kursi kelima, dan duduk.Lalu ia mengambil cangkir yang sudah dituangkan untuknya."Terima kasih, Pak," ucapnya."Sama-sama," jawab Salvador Cruz.***Rahu berdiri.Kali ini Alan tidak menyuruhnya duduk."Sembilan belas tahun," ucap Rahu. Suaranya bergetar. "Sembilan belas tahun kau duduk di sebelah kanan Alexander Hood."Dimas Varga m
"Putar balik," ucap Rahu."Tidak," jawab Alan."Bos, mereka tahu kita datang. Mereka tahu jam berapa, lewat mana, dan dengan kapal apa. Ini bukan penyusupan lagi. Ini undangan.""Aku tahu.""Lalu kenapa kita tetap masuk?!"Alan menoleh ke arah Elizabeth, yang sejak tadi duduk di lantai geladak dengan laptop di pangkuan dan wajah menempel ke layar."Elizabeth. Berapa jarak kita dari gedung bank pusat?""Delapan ratus meter." Ia mengetik. "Terlalu jauh. Aku butuh seratus.""Kalau kita merapat di dermaga itu?""Empat ratus. Masih terlalu jauh.""Kalau kita berjalan ke alun-alun kota tua?"Elizabeth mengangkat wajahnya perlahan."Seratus dua puluh," ucapnya. "Mungkin kurang, tergantung di sebelah mana aku duduk."Alan menoleh kembali ke Rahu."Dia mengundang kita ke tengah kota," ucapnya. "Ke tempat yang persis kita butuhkan. Dan dia pikir dia sedang memancing ki
"Dia berbohong."Diana berdiri di depan layar navigasi yang sudah kembali normal, menatap peta laut yang berkedip pelan."Soal apa?" tanya Rahu."Soal semuanya, tentu saja. Tapi ada satu yang penting." Ia menoleh. "Dia bilang kita tidak akan menang karena dia punya dua ribu orang dan enam puluh persen uang di negeri ini.""Itu memang benar," ucap Rahu muram."Itu benar untuk perang terbuka." Diana membuka laptopnya kembali. "Tapi orang yang memegang enam puluh persen uang di sebuah negeri tidak punya dua ribu tentara. Dia punya dua ribu orang yang digaji."Elizabeth mengangkat wajahnya. "Ada bedanya?""Ada bedanya sebesar tanggal gajian."***Diana memutar layarnya dan menunjukkan sesuatu yang sudah ia susun sejak semalam.Tiga puluh enam nama bank. Di sebelahnya, kolom angka. Di sebelahnya lagi, kolom tanggal."Aku sudah memeriksa semuanya dari data transaksi antar bank yang bocor ke
“Ini rumah ibumu?” Alan terkejut dengan luasnya rumah ibu seorang artis. Mungkin luasnya bisa disamakan dengan luas lapangan bola. “Dia sangat suka berkebun dan membuat beberapa pendopo. Tidak mungkin, ‘kan aku memberikannya apartemen. Dia mungkin akan menggantung setiap tanaman di setiap sudut ru
“Ini adalah tempatnya.” Dengan mengenakan earphone di telinga, Freya menghubungi lelaki yang sudah berada di belakang gedung tua. Ia pun juga baru tiba di seberang gedung itu. Dengan mobil Alan, ia mendekati pintu masuk gedung yang sudah dijaga oleh para pria berjas hitam. Mereka tampak kaku dan b
“Jadi, ini adalah tempatmu?” Alan memarkir mobilnya di basemen sebuah gedung apartemen mewah di pinggir kota yang terkenal dengan griya tawangnya. “Jangan bicara. Aku benci laki-laki yang banyak bicara seperti wanita!” Freya melangkah meninggalkan lelaki itu dengan wajah sinis. Ia menuju ke lift y
“Apa kau punya nomor telepon si putri keenam?”[Aku akan mengirimkannya.]Alan tampak khawatir. Sepertinya ia tidak bisa sampai tepat waktu ke lokasi ‘Gala Dinner’. Dengan sedikit improvisasi, ia mengirimkan pesan kepada Freya Hood untuk tetap di dalam gedung. [Hei, maaf mengganggu. Tapi aku adala






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan