Tubuh ramping yang selalu gemetar hebat ketika didekatnya, dada yang selalu bergemuruh, serta tangan kecil yang rapuh seolah akan patah. Kini, detik ini dengan berani menantang ketakutannya sendiri. Menodongkan senjata, mengarahkan peluru panas pada sang pria tercinta.Mata tajam sang senor yang selalu tampak tenang bak lautan kini berombang -ambing. Raut wajahnya bgitu kentara menampilkan sudut kekecewaan yang teramat mendalam.Lingkar mata yang memanas, rahang mengetat sangar, dan kepalan tangan kuat seolah mampu menusuk telapak tangan oleh jemarinya."Kau mengkhianatiku, Nora?""SÍ, SENOR!"Jawaban dari suara lantangnya melayang ke udara bersamaan dengan ribut deru puluhan peluru yang tengah diluncurkan. Masing-masing mengenanai tulang-tulang yang kontan patah, daging-daging yang merobek, sakit mati dibuatnya.Sang senor ... Tidak ada satupun peluru yang menembus tubuh tegap nan kokohnya. Namun turut merasakan kesakitan amat mendalam sebab pengkhianatan sang wanita. Peperangan yan
Terakhir Diperbarui : 2025-12-21 Baca selengkapnya