Oh, shit!Konspirasi macam apa lagi ini?Nggak ada hujan, nggak ada angin, setelah ngilang tanpa kepastian, tahu-tahu dia datang tanpa diundang. Jelangkung bukan, Halte Bus bukan, seenaknya aja dia jadiin hatiku sebagai tempat persinggahan.Hati? Eh, sorry maksudnya rumah. Efek sering kebaperan tuh orang bawaannya hati melulu. Maklum anak perawan yang baru ketiban lope ya begini."Duduk sini, Neng!" Bapak menepuk kursi di sisinya, saat melihatku hanya berdiri diam menatap Tuan Stevan.Aku hanya mengangguk untuk jawaban, lalu dengan tak tahu dirinya justru duduk di samping Tuan Stevan.Ya, antara percaya diri sama nggak tahu malu itu sudah menjadi sifatku sejak dulu."Ngapain Tuan ke sini? Kondangannya, kan masih dua hari lagi," cibirku sinis, padahal dalem hati kegirangan.Memang tak bisa dipungkiri. Rindu itu berat, bener kata si Dahlan.Hampir dua pekan nggak liat muka Tuan Stevan, rasanya bener-bener kelabakan. Suaranya, tatapannya, bahkan kata-kata tajamnya tanpa sadar sudah menja
閱讀更多