Compartilhar

Part. 51

Autor: Dwrite
last update Data de publicação: 2026-04-08 17:17:29

"Mulanya mungkin kamu dan aku memang saling membenci, kita juga dipersatukan dengan cara yang berbeda. Semua sikap yang kutunjukkan selama ini sebenarnya semata-mata hanya untuk menutupi perasaan sebenarnya yang sering kali kusangkal. Aku mencintaimu."

"Emak bangga sama kamu."

"Ahmad beruntung punya Teh Milah."

"Bapak yakin kelak nasibmu bakal lebih mujur dari Mulan Jamilah."

.

.

.

"Haaahh ...."

Sebuah kenangan-kenangan yang datang sekelebatan sontak menyentakku dari ketidaksadaran. Kukerjapka
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 52 (Stevan)

    Tiga hari sebelumnya ...."Jadi, dia juga nggak sadar?" Aku mengulangi ucapan Brian. Lelaki yang berbeda sembilan tahun denganku itu berjalan menghampiri dan duduk di kursi yang semula kududuki. "Ya. Tadi pagi aku berniat nyusul Mama sama Bertrand untuk datang ke Cikarang memenuhi undangan, tapi katanya akad tiba-tiba ditunda karena mempelai wanita pingsan. Sial, kenapa kakak nggak pernah bilang kalau Saeful sepupu kita dan cewek yang kakak suka dari dulu itu si Milah?" protes Brian. Alis pemuda itu berkerut dengan rahang yang mengeras. "Kenapa cuma aku yang keliatan bodoh di sini? Bahkan sejak kapan Kakak tahu kalau jiwa mereka tertukar?" tambahnya dengan nada suara tinggi yang belum berubah. Aku terdiam, dan hanya bisa menghela napas panjang.Kemarahan Brian tentu bukannya tak berdasar. Hampir sepanjang waktu sebelum hubunganku dengan Berlian maupun Intan berjalan, percakapan kami tak pernah lepas dari tipe wanita idaman juga kekagumanku pada gadis kelahiran Cikarang, tanpa pernah

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 51

    "Mulanya mungkin kamu dan aku memang saling membenci, kita juga dipersatukan dengan cara yang berbeda. Semua sikap yang kutunjukkan selama ini sebenarnya semata-mata hanya untuk menutupi perasaan sebenarnya yang sering kali kusangkal. Aku mencintaimu.""Emak bangga sama kamu.""Ahmad beruntung punya Teh Milah.""Bapak yakin kelak nasibmu bakal lebih mujur dari Mulan Jamilah."..."Haaahh ...."Sebuah kenangan-kenangan yang datang sekelebatan sontak menyentakku dari ketidaksadaran. Kukerjapkan mata beberapa kali berusaha memfokuskan pandangan yang masih terasa berkunang-kunang. Sebentar. Aku siapa? Aku di mana? Aku kenapa? Bukannya terakhir kali aku kelelep dalem bed tub setelah ehem nganu sama Bang Stip? Refleks aku bangkit dari posisi berbaring saat sadar terbangun di tempat lain yang begitu familiar. Pemandangan langit-langit dengan corak tie dye yang diukir alami oleh air hujan, kasur busa berukuran empat dengan seprai motif bunga, lemari tua warisan turun temurun yang masi

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 50 (Stevan)

    Bugh!"Kembalikan jiwa mereka, Sialan!" Aku berteriak kesetanan di hadapan tubuh Dokter Antony yang tersungkur di lantai.Dokter muda yang baru saja datang untuk memeriksa keadaan jiwa Milah dalam tubuh Intan itu langsung kuhadang di tengah jalan. Sebenarnya aku sudah curiga pada Dokter Antony sejak kecelakaan Milah dan Intan. Operasi yang seharusnya berjalan di rumah sakit justru dia lakukan di laboratorium pribadinya. Tak ada yang boleh mengunjungi mereka berdua sebelum dipindahkan kembali.Dan dengan bodohnya aku percaya begitu saja karena berpikir hal itu dilakukan demi keselamatan mereka."Maaf, Tuan. Proses transfer jiwa hanya bisa dilakukan sekali pada setiap individu. Itupun hanya bisa dilakukan pada salah satu pasien yang sudah divonis segera meninggal atau sudah usia lanjut. Kanker yang diidap Nyonya Intan sudah memasuki stadium akhir. Jadi, mustahil bila dia bisa sadar setelah mengalami keluhan kekambuhan pasca operasi sumsum tulang belakang. Ap-apalagi bila dua bulan tera

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 49 (PoV Stevan)

    "Nggak terasa, udah dua tahun berlalu kamu mengorbankan kebebasanmu, Kak. Hidup bersama dengan perempuan yang nggak kamu cinta, hingga berencana untuk menua bersama, hanya demi bisnis Papa.""Cukup, Brian! Nggak baik membahas hal yang sudah lama berlalu. Lagi pula aku mulai menikmati semuanya. Meskipun pertunangan kita awalnya tak direncanakan, tapi aku mulai menyayangi Berlian sebagai calon istri.""Lalu bagaimana dengan janinnya? Sampai kapan kamu akan merahasiakan hal itu dari mereka? Selain kita dan Berlian tak ada lagi yang tahu bahwa Berlian sedang hamil saat ini, bahkan Intan-- saudara kembarnya sendiri pun tak tahu.""Janin yang Lian kandung anakku, Brian.""Jangan membodohiku, Kak. Semua orang tahu bagaimana kehidupan bebas Lian bahkan sebelum dekat denganmu.""Kalau begitu tutup mulutmu! Simpan rahasia itu sampai kamu mati, kalau masih ingin menjadi adikku.""Termasuk rahasia tentang gadis yang lima tahun lalu kamu temui di Cikarang? Gadis barbar yang kamu bilang sikapnya h

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 48

    "Nih!" Aku mendongak menatap Brian yang tiba-tiba datang menghampiriku ke kamar membawa sepucuk surat undangan. "Undangan Milah Jamilah alias jiwa Intan dengan Saiful Bahtiar yang akan digelar besok," tambahnya seolah menjawab tanya yang tak sempat kulontarkan. "Kok, kita nggak diundang?" tanyaku saat melihat nama yang tertera di depan adalah Brian Alexander. Sudah lebih dari sebulan Brian tak datang berkunjung, ini pertama kalinya sejak terakhir dia datang ke resto. Sejak hari itu kita hanya bertegur sapa lewat pesan. Brian tampak menghela napas kasar, sebelum melontarkan kalimat yang membuatku mengernyit heran. "Kakakku di bawah, kan?" Aku mengangguk. "Ya, dia lagi nyuci dalaman." "Astaga. Seumur hidup baru kali ini aku tahu dia bersedia mencuci dalaman, apalagi punya orang." Mata Brian membelalak lebar. "Ya, siapa suruh punya abang pengeretan. Selain nggak mau ambil jasa asisten rumah tangga lagi, dia juga nggak mau keluarin duit buat laundry. Walhasil dia lakuin semua pek

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 47

    Matahari pagi menyelinap pelan ke dalam kamar, menimpa wajahku yang masih bersandar di dada Tuan Stevan. Aku belum bergerak. Hanya membiarkan detak jantungnya mengiringi langkah napasku yang kini semakin pendek dan tak teratur. Aku tahu dia belum sepenuhnya tidur. Dada bidangnya sesekali naik turun, dan tangannya masih menggenggam pinggangku erat, seperti takut aku akan menghilang begitu saja. Sialnya, itu bukan cuma ketakutan dia. Itu ketakutanku juga. Dari semalam, tubuhku mulai terasa aneh. Bukan cuma lemas atau pusing. Tapi ada rasa seperti kosong di bagian dalam... seperti ada yang mulai terlepas perlahan dari tubuh ini. Dan aku tahu, aku tak bisa ngelak lagi. Waktu 100 hari itu makin dekat. Tapi sebelum semua benar-benar berakhir, aku cuma pengin satu hal. Aku pengin bahagia. Bukan bahagia sebagai ‘nyonya rumah’, bukan juga bahagia sebagai Milah si pembantu, tapi sebagai... manusia yang akhirnya ngerasain dicintai dan mencintai balik. "Aku belum pengin bangun," bisikku ke

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 46

    Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang… entah. Rasanya hatiku penuh, damai, lembut—seperti selimut hangat di pagi hujan. Tapi satu sisi hatiku juga terasa ada yang kosong, seperti ada ruang yang belum terisi, atau mungkin tak akan pernah bisa terisi. Sinar matahari merayap malu-malu melalui t

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 45

    Aku masih mengingat betul hari itu. Hari ketika hidupku berubah dalam sekejap. Intan, majikanku yang dulu kucemburui karena kehidupannya yang sempurna, tiba-tiba bertukar jiwa dengan seseorang sepertiku. Awalnya aku berpikir semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi, mana mungkin pembokat sepertiku

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 44

    "Udah dapet kabar tentang Milah? Kok akhir-akhir ini dia susah dihubungin, yak?" Aku bertanya pada Tuan Stevan yang baru saja masuk ke ruang kamar dengan segelas air putih di tangan. Lelaki itu menggeleng pelan, lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja di hadapan, kemudian duduk di sampingku dala

  • Hasrat Terpendam Majikanku   PoV Intan : Masa Lalu Milah & Stevan

    Emak terdiam. Aku tak tahu apa yang beliau pikirkan saat ini. Tatapannya beralih ke arah lain."Oh, ya udah atuh." Emak meraih remote di atas meja yang kubeli sekitar dua minggu lalu satu set dengan kursi dan rak TV. "Tapi kamu udah pastiin undang mereka nanti, kan?" sambungnya kemudian." .... "Aku t

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status