LOGIN"Lepaskan pakaianmu sekarang!" "Mo-mohon maaf, Tuan. Saya cuma jual jasa, bukannya jual diri. Kalau Tuan emang kurang jatah bisa minta baek-baek sama Nyonya Intan, jangan cari pelarian ...." "Apa maksudmu, Intan?" Apa dia bilang? Intan? Ya Tuhan. Jangan bilang .... "Intan kamu dengar saya, ka--" Sebelum sempat dia melanjutkan kalimat, aku sudah lebih dulu loncat dari ranjang, dan berlari menghampiri cermin. Kutatap pantulan diri di dalam sana tak kutemukan sosok gadis berkulit sawo matang dengan rambut ikal gantung dan wajah bulat. Yang terlihat justru manusia setengah bidadari yang tak lain tubuh sang majikan Ibu Peri! "Huaaa ... apa ini? *** Karena sebuah kecelakaan, aku tiba-tiba terbangun di tubuh majikan!
View More"Nih!" Aku mendongak menatap Brian yang tiba-tiba datang menghampiriku ke kamar membawa sepucuk surat undangan. "Undangan Milah Jamilah alias jiwa Intan dengan Saiful Bahtiar yang akan digelar besok," tambahnya seolah menjawab tanya yang tak sempat kulontarkan. "Kok, kita nggak diundang?" tanyaku saat melihat nama yang tertera di depan adalah Brian Alexander. Sudah lebih dari sebulan Brian tak datang berkunjung, ini pertama kalinya sejak terakhir dia datang ke resto. Sejak hari itu kita hanya bertegur sapa lewat pesan. Brian tampak menghela napas kasar, sebelum melontarkan kalimat yang membuatku mengernyit heran. "Kakakku di bawah, kan?" Aku mengangguk. "Ya, dia lagi nyuci dalaman." "Astaga. Seumur hidup baru kali ini aku tahu dia bersedia mencuci dalaman, apalagi punya orang." Mata Brian membelalak lebar. "Ya, siapa suruh punya abang pengeretan. Selain nggak mau ambil jasa asisten rumah tangga lagi, dia juga nggak mau keluarin duit buat laundry. Walhasil dia lakuin semua pek
Matahari pagi menyelinap pelan ke dalam kamar, menimpa wajahku yang masih bersandar di dada Tuan Stevan. Aku belum bergerak. Hanya membiarkan detak jantungnya mengiringi langkah napasku yang kini semakin pendek dan tak teratur. Aku tahu dia belum sepenuhnya tidur. Dada bidangnya sesekali naik turun, dan tangannya masih menggenggam pinggangku erat, seperti takut aku akan menghilang begitu saja. Sialnya, itu bukan cuma ketakutan dia. Itu ketakutanku juga. Dari semalam, tubuhku mulai terasa aneh. Bukan cuma lemas atau pusing. Tapi ada rasa seperti kosong di bagian dalam... seperti ada yang mulai terlepas perlahan dari tubuh ini. Dan aku tahu, aku tak bisa ngelak lagi. Waktu 100 hari itu makin dekat. Tapi sebelum semua benar-benar berakhir, aku cuma pengin satu hal. Aku pengin bahagia. Bukan bahagia sebagai ‘nyonya rumah’, bukan juga bahagia sebagai Milah si pembantu, tapi sebagai... manusia yang akhirnya ngerasain dicintai dan mencintai balik. "Aku belum pengin bangun," bisikku ke
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang… entah. Rasanya hatiku penuh, damai, lembut—seperti selimut hangat di pagi hujan. Tapi satu sisi hatiku juga terasa ada yang kosong, seperti ada ruang yang belum terisi, atau mungkin tak akan pernah bisa terisi. Sinar matahari merayap malu-malu melalui tirai jendela, menyoroti selimut putih yang masih membungkus separuh tubuhku. Aku mengerjap, memandang sisi ranjang yang kosong di sebelah. Bang Stip tidak ada di sana. Perasaan kecewa menyergapku begitu saja. Bukankah dia bilang akan mengambil cuti penuh seminggu ini? Katanya ingin menghabiskan waktu bersamaku, katanya ingin menebus semua kebersamaan kami yang berlalu begitu saja. Tapi… kenapa pagi ini dia pergi tanpa pamit? Aku bangkit perlahan, menyeret kaki ke meja dekat jendela, tempat kalender bulan Juli tergantung. Aku hendak mencentang tanggal hari ini. Kebiasaan kecil yang mulai kulakukan sejak tinggal di sini, tepatnya sejak jatuh sakit dan tak yakin sampai kapan jiwaku berta
Aku masih mengingat betul hari itu. Hari ketika hidupku berubah dalam sekejap. Intan, majikanku yang dulu kucemburui karena kehidupannya yang sempurna, tiba-tiba bertukar jiwa dengan seseorang sepertiku. Awalnya aku berpikir semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi, mana mungkin pembokat sepertiku bisa menjalani kehidupan sebagai seorang nyonya besar dengan suami setampan Tuan Stevan, ya walaupun kelakuannya rada-rada membagongkan. Seolah masih dalam ingatan saat dia kami berpisah persimpangan jalan. “Kita jalani apa yang sudah ditakdirkan Tuhan,” katanya. “Aku butuh kebebasan, Milah. Dan kamu butuh kesempatan.” Dan begitulah semua takdir kampret ini berjalan. Tak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi di waktu mendatang, saat Nyonya Intan yang menghuni tubuh ndesoku tiba-tiba hilang kabar dan aku yang kebingungan dengan tubuh ini yang tiba-tiba serapuh kerupuk kena aer. *** Pagi ini, aku duduk di ruang keluarga dengan segelas kopi di tangan, menatap daftar kegiatan yan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews